Imam Hidupku

Imam Hidupku
Gelisah


__ADS_3

Hari ini ustadz Yusuf akan pulang malam. Ais memutuskan untuk ikut bersama Kia ke mesjid. Ais duduk di sofa untuk menunggu Kia. Azka menghampiri dan ikut duduk bersama Ais.


"Kak Ais lagi apa?" tanya Azka.


"Nunggu Kia." jawab Ais.


"Kalo nunggu Kia Kak Ais harus sabar. Sekarang dia masih di kamar mandi. Lagi cebok.." ucap Azka.


"Azka apaan sih.." kesal Kia yang mendengar ucapan Azka.


"Udah selesai ceboknya?" tanya Azka tak memperdulikan kekesalan adiknya.


"Azka.." geram Kia.


"Ahahah.." Azka tertawa kemudian lari keluar rumah.


Wajah Kia me-merah menahan marah.


Ais tertawa kecil melihat kejadian Azka dan kekesalan Kia.


"Ayo kak kita ke mesjid." ajak Kia.


"Ayo.."


Ais dan Kia berjalan beriringan. Mereka seperti sepasang sahabat yang sudah sangat dekat.


Tangan kanan Ais menggandeng tangan kiri Kia. Kia merasa aneh saat Ais menggandeng tangannya.


"Kak Ais kangen kak Yusuf ya?" tebak Kia.


Ais melihat ke arah Kia.


"Iya. Gak tau kenapa saat ini kakak sangat ingin bersama mas Yusuf. Kakak merasa sesuatu yang buruk akan terjadi." balas Ais mengungkapkan kegelisahannya.


"Kak Ais jangan bilang gitu. Aku jadi takut."


"Kita berdoa saja agar tidak terjadi hal buruk pada keluarga kita."


"Aamiin.."


"Aamiin.."


Beberapa kali Ais pernah ikut shalat di masjid. Namun rasanya masih canggung. Di tambah pikiran dan hati Ais yang tidak tenang. Dia sangat mengkhawatirkan ustadz Yusuf.


Setelah shalat isya, semua santri mendengarkan ceramah. Otam Ais tidak bisa menerima ceramah yang masuk. Ais berusaha agar fokus dan tidak memikirkan hal lain.


"Kak Ais kenapa?" tanya Kia yang melihat Ais tidak bisa fokus.

__ADS_1


"Kakak gak tenang."


"Kakak mau pulang gak?"


"Nanti aja. Tanggung. Sebentar lagi juga bubar."


"Ya udah."


1 menit setelah berbicara dengan Kia, ada seseorang yang menghampiri Ais dan Kia. Dia membisikan sesuatu pada Ais.


Mata Ais membola mendengar berita orang itu. Tanpa berpikir panjang, Ais segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan mesjid. Kia bingung melihat Ais yang tiba-tiba pergi. Dia pun memutuskan untuk mengikuti Ais dari belakang.


Ais berlari sekuat tenaga menuju rumah. Dadanya bergemuruh menahan sesak.


"Kak Ais.. tunggu.." teriak kia mencoba menyusul Ais.


Ais tidak mendengarkan Kia. Dia terus berlari. Sampai akhirnya Ais berhenti di rumah.


"Assalamu'alaikum." ucap Ais.


Tak ada yang membalas salam Ais. Tak ada siapa pun di rumah. Ais masuk je kamarnya. Rupanya semua orang sudah berkumpul di kamarnya.


"Mas Yusuf.." ucap Ais.


Ais menghampiri suaminya yang sedang duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Tanpa malu, Ais memeluk ustadz Yusuf di depan semua orang. Ais sangat khawatir saat mendengar kabar ustadz Yusuf terserempet motor.


"Mas gak papa kan?" Ais memeluk ustadz Yusuf dengan erat.


Ais melepaskan pelukannya. Kemudian dia menatap suaminya dengan intens.


"Gak papa gimana? Ini luka.. ini juga luka.." Ais menunjuk kepala ustadz Yusuf yang di perban serta tangan kirinya yang memakai penyangga.


"Mas gak papa kok Ais. Kamu tenang ya jangan panik berlebihan."


"Gimana aku gak panik mas. Aku harus seneng gitu, Liat mas luka gini?" kesal Ais.


"Ais.. dokter sudah memeriksa suami kamu. Katanya dia hanya perlu istirahat yang cukup. Tangannya juga gak patah. Cuma geser sedikit. Dokter udah kasih obat kok." ucap Umi yang ikut menenangkan Ais.


Mendengar ucapan umi, hati Ais menjadi lebih tenang. Ais bersyukur ustadz Yusuf tidak terluka parah.


"Ais kamu dari mesjid?" tanya umi.


"Iya umi." jawab Ais.


"Pantas kamu masih pake mukena. Harusnya kamu gak usah buru-buru ke sini. Kan ceramahnya belum selesai." timpal ustadz Yusuf.


Ustadz Yusuf mendapat tatapan tajam dari Ais. Dengan cepat ustadz Yusuf membuang pandangannya ke sembarang

__ADS_1


arah. Jujur saja ustadz Yusuf adalah tipikal Susis. Atau suami takut istri.


Abi dan umi hanya bisa tersenyum melihat Ais dan ustadz Yusuf. Umi dan abi keluar dari kamar ustadz Yusuf dan Ais.


"Ada apa ini?" tanya Kia yang baru saja sampai.


Kia tidak kuat berlari. Saat mengejar Ais, Kia memutuskan untuk tidak berlari karna Ais terlalu cepat.


"Kak Yusuf kenapa?" tanya Kia.


"Kakak kamu keserempet motor." jawab Ais dengan sedikit kesal.


"Innalillahi.." Kia mendekat pada ustadz Yusuf. "Kok bisa?"


"Tadi ada pengendara motor itu remnya blong. Dan gak sengaja nyerempet kakak kamu." ucap ustadz Hanafi yang baru saja datang.


"Ck.. kurang ajar." umpat Ais yang masih terdengar oleh ustadz Yusuf.


"Ais.." tegur ustadz Yusuf.


"Maaf." ucap Ais.


"Fi, kamu udah urus pengendara itu?" tanya ustadz Yusuf.


"Udah. Sekarang dia di rawat di rumah sakit." jawab ustadz Hanafi.


"Nanti kita jenguk dia." ucap ustadz Yusuf.


"Jadi korban masih aja nolongin tersangka. Heran aku.." gumam Ais.


Ais bangkit dari duduknya. Dia hendak keluar kamar. Ustadz Yusuf menahan tangan Ais. Ais membalikkan badannya dan mengangkat sebelah alisnya.


"Mau ke mana?" tanya ustadz Yusuf.


"Ngambil makan."


"Buat siapa?"


"Buat mas lah."


"Mas belum lapar."


Ais langsung memberikan tatapan tajamnya lagi. Ustadz Yusuf tidak bisa membantah.


"Ya udah iya." pasrah ustadz Yusuf.


Ais pergi mengambil makanan. Tersisa lah Ustadz Yusuf, ustadz Hanafi dan juga Kia. Tak lama Ais keluar, ustadz Hanafi juga pamit dan pergi. Saat ini hanya tersisa kakak beradik.

__ADS_1


"Kak Yusuf tau gak, tadi kak Ais itu khawatir banget sama kak Yusuf." adu Kia.


"Benarkah?"


__ADS_2