
Ais terus berucap Istighfar dalam hati. Hari ini dia sangat kesal. Mulai dari Rina yang dengan sengaja mendorongnya hingga dia terluka. Lalu ustadz Yusuf yang seperti menjauh. Dan baru saja, ustadzah Reni dan Rina datang dengan membawa seorang pengacara. Lebih parahnya, pengacara itu adalahh Reyhan, mantan pengacara keluarganya dulu.
Adzan dzuhur berkumandang. Ais memilih untuk melupakan kekesalannya danmenunaikan kewajibannya terhadap tuhannya. Setelah selesai shalat, hati Ais menjadi lebih lega. Mendekatkan diri pada yang maha kuasa menjadi jalan terbaik dalam menghilangkan kekesalan.
Hari berlalu dengan cepat. Kaki Ais sudah baik-baik saja. Ais sudah bisa menjalani aktivitas seperti biasa. Hubungannya dengan ustadz Yusuf pun kembali normal. Karna ustadz Yusuf masih di luar dan akan pulang malam, Ais memutuskan untuk shalat maghrin berjamaah di mesjid bersama Kia, Silvi dan Cica. Hubungan mereka sudah begitu dekat. Sampai-sampai mereka terkadang lupa kalo Ais itu istri dari ustadz Yusuf. Ais lebih senang pada pertemanan yang tidak memandang status.
Semua santri sibuk dengan ibadah mereka. Mereka tidak tau apa yang sedang dikerjakan para santri senior. Sesuatu yang buruk akan terjadi pada para santri. Termasuk Ais.
Keesokan harinya. Karna hari minggu, seperti biasa Ais akan membersihkan rumah. Hari minggu tidak terlalu banyak kegiatan yang dijalani para santri.
Ustadz Yusuf pergi ke wilayah santriwan. Sementara Ais sedang duduk dan berbicara dengan Kia. Mereka sedang membicarakan asrama yang dihuni santriwati.
"Kamu pernah tidur di asrama?" tanya Ais.
"Pernah." jawab Kia.
"Gimana rasanya?"
"Em.. ya gitu. Serasa kamar tapi gak sendiri."
"Aku jadi mau tidur di asrama." ucap Ais.
"Jangan mau kak."
"Kenapa?"
"Kalo di asrama, kita harus bisa berbagi."
"Berbagi dalam hal apa?"
"Dalam segala hal. Baju harus siap tertukar, sandal sering ketukar. Pokoknya harus banyak sabar kak." jelas Kia.
Ais menganggukkan kepalanya mengerti dengan ucapan Kia. Saat sedang mengobrol, ada 2 orang santriwati yang menghampiri Ais dan Kia.
"Assalamu'alaikum ukhti, Kia." sapa mereka.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam.." jawab Ais dan Kia secara bersamaan.
"Ayu, Nia, ada apa kalian ke sini?" tanya Kia.
"Kami ke sini mau menyampaikan pesan dari ustadzah Reni, untuk ukhti Ais." jawab Ayu.
"Apa pesannya?" tanya Ais.
"Ukhti Ais diminta untuk pergi ke ruang guru." jawab Nia.
"Kenapa aku harus ke sana?"
"Tidak tau ukhti. Kami hanya menyampaikan pesan saja." jawab Nia.
"Kalo begitu terima kasih." ucap Ais.
"Iya ukhti. Kami permisi dulu. Assalamualaikum.." Ayu dan Nia pergi.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Ais dan Kia.
"Aku juga gak tau." jawab Ais. "Kayaknya ada masalah deh Kia." tebak Ais.
"Iya kak, aku pikir juga gitu."
"Ya udah, aku ke ruang guru dulu ya."
"Iya kak."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Ais pergi ke ruang guru seorang diri. Sambil berjalan, dia terus bertanya-tanya kenapa ustadzah Reni memanggilnya. Sesampainya di ruang guru, Ais mengetuk pintu. Setelah dipersilahkan masuk, Ais pun masuk ke dalam.
"Assalamu'alaikum.." seru Ais.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam.." jawab orang yang ada di situ.
Di dalam ada cukup banyak orang. Ais tau mereka. Mereka adalah ustadz dan ustadzah yang menjaga ketertiban para santri. Ustadzah Reni juga ada. Bahkan suaminya, ustadz Yusuf pun ada di sana. Ais semakin bingung apa yang terjadi. Ais merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Ais, sini duduk." panggil ustadz Yusuf.
Ais menuruti panggilan ustadz Yusuf dan duduk disampingnya. Tatapan dari mereka sangat mengintimidasi Ais. Seolah Ais adalah tersangka sebuah kasus.
"Ustadzah Reni, ada ya memanggil aku?" tanya Ais.
"Ukhti Ais, kamu tau apa ini?" bukannya menjawab, ustadzah Reni malah balik bertanya. Ustadzah Reni menunjukkan selembar kertas.
Ais menatap kertas yang dipegang ustadzah Reni. "Hah.." Ais menghembuskan nafas panjang. Ais tidak suka saat ada masalah diselesaikan dengan berbelit-belit. Kenapa tidak langsung pada inti masalahnya saja?
"Ustadzah nanyeak, itu apa? Ustadzah gak tau itu apa? Biar aku kasih tau ya. Yang ustadzah pegang itu selembar kertas." jawab Ais. Ais berusaha untuk tetap tenang.
Semua orang kaget atas jawaban Ais. Bahkan ustadzah Reni pun ikut aget. Di pesantren, ustadzah Reni terkenal sebagai ustadzah yang paling tegas. Dan Ais, berani berbicara seperti itu pada ustadzah Reni. Wah.. luar biasa.
"Ais gak boleh gitu." tegur ustadz Yusuf mengelus tangan Ais.
"Mas, Ais gak salah. Ustadzah Reni nanya apa yang udah Ais tau. Tanpa diberitahu, kita tau apa yang ustadzah Reni pegang." balas Ais.
"Hah.." Ais kembali menghembuskan nafas panjang. "Aku minta maaf atas apa yang aku ucapkan. Bisa kalian katakan apa yang terjadi?" tanya Ais.
Semua orang tampak ragu menjawab pertanyaan Ais.
"Mas, sebenarnya ada apa sih? Kenapa ustadz ustadzah gak bicara? Kalo ada masalah, bicara. Jangan diem aja. Jangan bertele-lete. Langsung pada intinya." ucap Ais.
Ustadzah Reni hendak menjawab, namun ucapannya terhenti saat ada seseorang yang mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum.." ujar orang itu.
"Wa'alaikumsalam.." jawab semua orang.
Semua orang melihat ke arah pintu. Ais mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Dia.."