
"Ayah.. ibu.. Aqeela.. kalian yang tenang ya di sana. Maaf karna aku banyak salah pada kalian. Maaf aku sering membuat kalian kesal dan marah. Aku tau aku bukanlah anak dan kakak yang baik. Tapi seharusnya kalian tidak menghukumku seperti ini. Hukuman ini terlalu berat untukku."
Ustadz Yusuf merangkul bahu Ais dan mengelusnya. Dia memberi kekuatan pada Ais.
"Andai saja malam itu Ais tidak meminta pulang. Mungkin ini tidak akan terjadi. Hiks.. hiks.. hiks.." lanjut Ais.
"Ais,, jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Allah sudah mengatur semuanya untuk kita. Kamu harus kuat. Sekarang ayah, ibu dan Aqeela sudah tenang di sana. Mereka akan sedih jika melihatmu seperti ini." ucap ustadz Yusuf.
Ais menganggukkan kepalanya.
"Ayah.. ibu.. Aqeela. Aku berjanji akan menjaga Ais dengan baik. Aku tidak akan membiarkan dia mengeluarkan air mata kesedihan. Kecuali air mata kebahagiaan. Aku akan menyayanginya dan mencintainya dengan tulus. Tak akan kubiarkan dia bersedih lagi." ucap ustadz Yusuf.
Ais memandang ustadz Yusuf. Dia tidak menyangka ustadz Yusuf akan berkata seperti itu.
Setelah dari makam, Ais dan ustadz Yusuf pergi ke rumah keluarga Ais. Sesampainya di sana, Ais menatap rumah itu dengan dalam.
"Ais, masuk yuk." ajak ustadz Yusuf dan diangguku oleh Ais.
"Assalamu'alaikum.." ucap Ais dan ustadz Yusuf.
Ais dan ustadz Yusuf masuk ke dalam rumah. Ais sangat senang karna bisa masuk ke rumah keluarganya. Dia masih ingat betul momen terakhir Ais bersama keluarganya. Mengingat itu, Ais kembali meneteskan air mata.
Ais pergi ke kamar orang tuanya. Ustadz Yusuf tidak ikut ke kamar. Dia sengaja membiarkan Ais sendiri.
Ais mengamati kamar itu dengan seksama. Ais membuka kemari dan mengeluarkan baju kesayangan orang tuanya. Dia memeluk baju itu dan sesekali menangis.
Ais melihat di atas nakas terdapat buku harian. Rupanya buku itu milik kedua orang tuanya. Ais mengambil buku dan baju itu.
Ais beralih ke kamar Aqeela. Dia menatap kamar Aqeela. Dia rindu saat dia tertawa dan menangis bersama dengan Aqeela. Meskipun Ais sedikit dingin, tapi dia akan berubah jika di depan Aqeela. Ais mengambil baju kesayangan Aqeela. Dia juga menemukan buku harian di meja belajar Aqeela. Dia membawa barang-barang itu ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Ais duduk dipinggir tempat tidurnya. Dia merasa sangat berat meninggalkan rumah keluarganya. Ais naik ke tempat tidur. Tak terasa di tertidur. 30 menit berlalu, ustadz Yusuf menyusul Ais ke kamarnya.
Tok.. tok.. tok..
Ustadz Yusuf mengetuk pintu kamar Ais. Namun Ais tak kunjung membukanya. Karna takut terjadi apa-apa pada Ais, ustadz Yusuf pun masuk ke dalam kamar.
"Ais.." panggil ustadz Yusuf.
__ADS_1
Ustadz Yusuf melihat Ais yang tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
"Ais pasti kelelahan. Dari tadi dia terus menangis." guman ustadz Yusuf.
Ustadz Yusuf menyelimuti tubuh Ais. Dia melirik jam tangannya. Jam tangannya menunjukkan pukul 11.00 WIB. Ustadz Yusuf tak tega untuk membangunkan Ais. Dia pun membiarkan Ais tidur.
Ustadz Yusuf masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu. Ustadz Yusuf menunggu waktu dzuhur tiba dengan membaca kalam suci Allah. Saat adzan dzuhur berkumandang, ustadz Yusuf segera mendirikan shalat. Selesai shalat ustadz Yusuf berdzikir dan berdo'a.
Ustadz Yusuf melipat sejadah kemudian berjalan mendekati Ais yang masih tertidur. Ustadz Yusuf mengelus kepala Aiz dengan sayang.
"Ini sudah waktunya jam makan siang. Lebih baik aku membeli makanan. Nanti saat Ais bangun, dia bisa langsung makan." ujar ustadz Yusuf bermonolog.
Ustadz Yusuf mengambil secarik kertas beserta bolpoin. Dia menuliskan sesuatu di atas kertas itu.
*Ais, mas pergi membeli makanan dulu. Mas tidak akan lama kok. Kalo kamu bangun, jangan lupa shalat ya* tulis ustadz Yusuf.
Ustadz Yusuf menaruh kertas itu di atas nakas di samping tempat tidur.
"Mas pergi dulu ya. Assalamu'alaikum." pamit ustadz Yusuf.
Ustadz Yusuf mengecup kening Ais sekilas, kemudian pergi.
Ais mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup. Namun ustadz Yusuf tidak ada di dalam.
"Mas Yusuf ke mana?" gumam Ais. "Apa dia pergi ke pesantren duluan? Ah.. tidak mungkin" pikir Ais.
Ais melihat secarik kertas di atas nakas. Ais segera mengambilnya dan membaca tulisan yang ada pada kertas itu.
Ais tersenyum setelah membaca surat itu. Dia tidak menyangka ustadz Yusuf mengingatkan kewajibannya terhadap tuhan YME. Ais segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah itu Ais menunaikan ibadah shalatnya.
Ais melipat mukenanya kemudian membereskan pakaian yang akan dibawa ke pesantren. Dia akan tinggal lama di pesantren. Mungkin selamanya. Ada 2 koper pakaian Ais yang akan dibawa.
"Assalamu'alaikum.." sapa ustadz Yusuf masuk ke dalam kamar.
"Wa'alaikumsalam.." balas Ais.
Ais menghampiri ustadz Yusuf dan mencium tangannya. Ustadz Yusuf tersenyum. Ini pertama kalinya Ais mencium tangan ustadz Yusuf.
__ADS_1
"Kamu udah shalat?" tanya ustadz Yusuf.
"Udah. Aku juga udah beresin baju-baju aku." jawab Ais sambil menunjuk 2 kopernya.
"Maaf ya mas gak bantuin kamu." sesal ustadz Yusuf.
"Gak papa. Lagian gak susah kok cuma beresin baju doang."
"Ya udah, kita makan yuk. Mas udah beli makanan." ajak ustadz Yusuf.
"Ayo.." setuju Ais.
Ais dan ustadz Yusuf makan bersama. Setelah makan, ustadz Yusuf membawa dan memasukan koper Ais ke dalam mobilnya. Ais merasa sangat berat meninggalkan rumah yang sudab bertahun-tahun ditinggalinya.
"Huh.." Ais mengehembuskan nafas panjang.
"Ayo.." ajak ustadz Yusuf.
Ais menganggukkan kepalanya.
"Bismillah.." Ais masuk ke dalam mobil.
Perlahan mobil ustadz Yusuf meninggalkan rumah keluarga Ais.
"Kamu gak papa?" tanya ustadz Yusuf.
"Iya. Aku gak papa kok." balas Ais.
"Kamu istirahat aja. Nanti kalo sudah deket pesantren, mas bangunin."
"Aku gak ngantuk kok." tolak Ais.
Tak ada percakapan antara ustadz Yusuf dan Ais.
Tak lama kepala Ais tampak miring ke arah ustadz Yusuf.
"Eh.. Astaghfiirullah.." ujar ustadz Yusuf.
__ADS_1
Ustadz Yusuf menahan kepala Ais dengan tangan kirinya. Kemudian dia menepikan dulu mobilnya. Terdengar deru nafas halus dan beraturan. Rupanya Ais tertidur.
Ustadz Yusuf menyelipkan jaket miliknya ke sebelah jendela di samping Ais. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian ustadz Yusuf memiringkan kepala Ais ke sebelah kiri. Hal itu dilakukan supaya Ais tidur dengan nyaman.