
Ustadz Yusuf melihat kerumunan di lapangan. Dia yakin kalo mereka semua sedang mengerumuni Ais.
"Ustadz Yusuf.." ujar santriwati yang melihat kedatangan ustadz Yusuf.
Semua orang melihat ke belakang. Mereka langsung memberi jalan untuk ustadz Yusuf.
"Astaghfiirullah.. Ais.." ustadz Yusuf menghampiri Ais yang terduduk.
"Ais.. kenapa bisa begini?" tanya ustadz Yusuf.
"Stt.. aku jatuh mas." balas Ais.
Ustadz Yusuf menggendong Ais ala bridal style. Ustadz Yusuf membawa Ais ke rumah. Semua orang menatap kepergian ustadz Yusuf dan Ais.
Sesampainya di rumah, ustadz Yusuf mendudukkan Ais di kursi yang ada di ruang tamu. Ustadz Yusuf melihat Ais yang sedang menahan sakit. Ustadz Yusuf memangku kaki Ais yang terkilir.
"Jangan dipegang mas. Sakit.." keluh Ais.
"Mas cuma mau cek kaki kamu aja." balas ustadz Yusuf.
Ustadz Yusuf memegang pergelangan kaki Ais. Tangannya seperti meraba-raba sesuatu di kaki Ais.
"Ais, maafin mas ya." ucap ustadz Yusuf pada Ais.
Ais mengerutkan keningnya. Dia tidak tau kenapa suaminya ini tiba-tiba meminta maaf.
Krek..
Tanpa hitungan, ustadz Yusuf langsung memutar pergelangan kaki Ais. Alhasil keluar lah teriakan kesakitan dari Ais.
"Akh.." teriak Ais.
Ais langsung memeluk ustadz Yusuf saking kagetnya. Ustadz Yusuf mengelus punggung Ais agar Ais tenang. Ais melepaskan pelukannya.
"Mas ih sakit.." rengek Ais.
"Sebelum itu kan mas udah minta maaf sayang.." Ustadz Yusuf menghapus air mata yang jatuh di wajah Ais.
Tak lama umi dan abi datang. Mereka mendengar teriakan Ais. Sebelum umi dan abi datang, sudah ada Kia dan Azka yang bersama ustadz Yusuf. Sedari tadi mereka hanya menjadi nyamuk saja.
"Astaghfiirullah.. Ais.. kamu kenapa?" kaget umi.
"Kak Ais jatuh umi." jawab Azka.
"Iya umi, kak Ais didor-" Kia tidak dapat melanjutkan ucapannya karna Ais memotongnya.
"Aku cuman jatuh kok umi." potong Ais.
__ADS_1
Ais memberikan tatapan penolakan pada Kia. Ais tidak mau Kia mengatakan yang sebenarnya pada umi dan abi.
"Kok bisa sampai begitu?"
"Ais lagi loncat, terus Ais gak seimbang. Jadi jatuh umi." bohong Ais.
"Lain kali kamu harus hati-hati ya Ais." ucap abi.
"Iya abi."
Ustadz Yusuf menatap Ais. Dia tau Ais sedang berbohong. Bukan itu yang sebenarnya terjadi. Entah kenapa Ais menyembunyikan yang sebenarnya.
"Kakinya masih sakit." tanya ustadz Yusuf.
Ais menggerakkan kaki yang terkilir. "Alhamdulillah. Udah mendingan."
"Tapi lutut kakak berdarah." ucap Kia.
"Sebaiknya kamu ke dokter." usul umi.
"Gak usah umi. Paling cuman ke gores doang." tolak Ais.
"Kita ke dokter aja ya." bujuk ustadz Yusuf.
"Gak usah mas." tolak Ais.
"Biar Yusuf aja umi."
"Iya umi, biar mas Yusuf aja yang obatin. Ais yakin kalo mas Yusuf yang ngobatin, Ais bisa langsung sembuh." goda Ais pada ustadz Yusuf.
Semua orang tersenyum mendengar ucapan Ais.
"Kamu ini, lagi sakit juga." ustadz Yusuf mencubit hidung Ais dengan gemas.
"Hey.. ada adik kalian di sini." tegur umi.
"Heheh.." Ais tertawa kecil.
Ustadz Yusuf membawa Ais ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, Ais berganti pakaian. Yang tadinya memakai celana, sekarang memakai rok. Ais duduk di sofa. Ustadz Yusuf sudah memegang obat merah dan perban.
Ustadz Yusuf menyingkap rok Ais sampai di atas lutut. Ini pertama kalinya ustadz Yusuf melihat kaki putih dan mulus milik Ais. Ustadz Yusuf itu pria normal. Dia juga bisa tergoda oleh lawan jenisnya. Apalagi oleh Ais. Melihat kaki Ais, membuat syahwat ustadz Yusuf meningkat. Sebisa mungkin ustadz Yusuf menahan syahwat nya itu.
Ais merasa malu saat ustadz Yusuf menatap kakinya. Ais melihat ustadz Yusuf mulai mengobati kakinya yang terluka.
"Stt.." ringis Ais. Ais merasakan perih di kakinya.
"Tahan ya sayang.." ucap ustadz Yusuf.
__ADS_1
Ustadz Yusuf meniup kecil luka Ais. Hal itu agar Ais tidak terlalu merasakan sakit.
"Sakit mas.." keluh Ais.
"Sedikit lagi sayang.."
Dan akhirnya selesai. Luka Ais sudah diperban dengan baik oleh ustadz Yusuf.
"Makasih ya mas."
"Sama-sama sayang."
Ustadz Yusuf duduk di sebelah Ais. Dia menatap Ais dengan lekat.
"Kenapa kamu bisa jatuh?" tanya ustadz Yusuf.
"Tadi aku udah bilang kan, aku loncat, terus gak seimbang mas." jawab Ais.
"Bener?"
Ais hanya tersenyum. Dia tidak bisa menjawab benar pada pertanyaan ustadz Yusuf. karna Ais berbohong.
Ustadz Yusuf memeluk Ais. Ustadz Yusuf sedih karna Ais masih berbohong. Dia tidak mengatakan yang sebenarnya pada ustadz Yusuf.
Ustadz Yusuf meminta Ais untuk istirahat di kamar. Sementara itu dia keluar. Ustadz Yusuf menemui Kia. Dia tau Ais tidak akan bicara lagi. Jika dia bertanya pada Kia, Kia tidak akan berbohong.
Tok.. tok.. tok..
Ustadz Yusuf mengetuk pintu kamar Kia. Dan tak lama Ka keluar dari kamar.
"Kak Yusuf. Ada apa kak?" tanya Kia.
"Boleh kakak masuk?" bukannya menjawab, ustadz Yusuf malah meminta masuk ke kamar Kia.
"Boleh. Ayo."
Kia dan ustadz Yusuf sudah berada di dalam kamar Kia.
"Kak Yusuf kenapa?" tanya Kia yang melihat wajah kakaknya itu tidak tenang. "Pasti karna kak Ais kan?" tebak Kia.
"Iya." tebakkan Kia benar. "Kamu bisa ceritain ke kakak apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Ais bisa jatuh?"
"Tadi tu, kelas kami olahraga basket. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku sama kak Ais satu kelompok. Kelompok kami bertanding melawan kelompok Rina. Kami menang kakak. Pas kak Ais loncat buat masukin bola, tiba-tiba Rina mendorong kak Ais. Kak Ais jatuh deh."
"Kenapa Rina melakukan itu?"
"Aku gak tau kak. Dari awal dia masuk, dia emang udah gak suka gitu sama kak Ais." adu Kia.
__ADS_1
Ustadz Yusuf lega karna dia sudah tau apa yang sebenarnya terjadi.