
"Kamu udah tenang?" tanya ustadz Yusuf saat merasakan Ais melonggarkan pelukannya.
"Udah mas.." jawab Ais.
Ustadz Yusuf mengusap air mata yang tersisa di wajah Ais. Ais tersenyum pada ustadz Yusuf.
"Mas kenapa ke balik lagi?" tanya Ais.
"Tadinya mau ketemu klien, tapi kliennya ada urusan mendadak. Jadi diundur." jawab ustadz Yusuf.
"Ouh.."
Ais memeluk ustadz Yusuf. Dia menempelkan kepalanya di dada bidang ustadz Yusuf. Ustadz Yusuf mengelus kepala Ais dengan penuh kelembutan.
"Menurut mas aku baik gak?" Ais menanyakan pendapat ustadz Yusuf tentang dirinya.
"Baik kok. Emang kenapa? Ada yang bilang kamu jahat?"
"Nggak." Ais menggelengkan kepalanya. "Sebenernya aku itu jahat mas."
"Nggak sayang. Kamu itu baik." sangkal ustadz Hanafi Yusuf.
"Kamu belum tau aku siapa mas." Ais melepaskan pelukannya.
"Mas tau. Kamu itu istri mas. Bidadarinya mas."
__ADS_1
Ais menghembuskan nafas panjang. Kenapa ustadz Yusuf tidak mengerti juga, kalo Ais ini tidak baik.
"Ya udah, apa yang membuat kamu berpikir kalo kamu itu jahat? Kenapa kamu berpikir kalo kamu itu gak baik?"
"Kamu mau dengerin aku?" tanya Ais dan langsung diangguki oleh ustadz Yusuf.
"Kamu pernah denger aku dan Qeela pernah pindah sekolah?"
"Pernah dari abi."
"Saat masuk sma, aku dan Qeela berbeda sekolah. Qeela ingin bersekolah di sekolah Internasional. Tapi aku ingin bersekolah di sekolah negri, biasa. Ayah dan ibu mengizinkan kami sekolah di sekolah yang berbeda. Aku nyaman bersekolah di sekolah negri. Aku juga punya cukup banyak teman." Ais menjeda ceritanya.
"Tidak dengan Qeela. Qeela selalu mendapat masalah di sekolahnya. Dia selalu diganggu oleh murid lain. Qeela tidak bisa melawan karna rasa takutnya. Hingga akhirnya Qeela pindah sekolah. Di sekolah yang kedua, Qeela juga mengalami hal yang sama. Tak sampai 3 bulan, Qeela sudah pindah lagi. Dalam setahun Qeela sudah pindah 3 sekolah."
"Ayah dan ibu membujuk Qeela agar sekolah bersamaku. Tapi Qeela tidak mau. Dia tetap ingin bersekolah di sekolah Internasional. Keadaan di sekolah keempat tak jauh berbeda dari sekolah sebelumnya. Karna tak mau Qeela terus-terusan pindah sekolah, akhirnya ayah dan ibu yang meminta aku pindah ke sekolah Qeela. Aku tidak mau. Tapi mereka memaksaku. Aku pun tak bisa membantah mereka. Mereka berkata Qeela seperti itu karna ulah ku. Aku sadar ucapan mereka benar. Aku pun mengalah dan pindah sekolah."
Ais memejamkaan matanya mengingat kembali masalalu.
"Aku melihat bagaimana orang-orang itu memperlakukan Qeela dengan sangat tidak baik. Hatiku sakit melihat adikku ditindas oleh orang lain. Dari situ, aku berjanji tidak akan membiarkan adikku disakiti lagi. Aku dikuasai amarah dan membalas apa yang mereka perbuat pada adikku. Aku lebih memilih melihat orang lain menderita daripada harus melihat adikku sendiri menderita karna mereka." Ais tersenyum miring.
"Dari situ orang lain mengenalku sebagai perundung. Aku tidak masalah mereka menganggap ku sebagai perundung. Aku hanya ingin melihat Qeela bersekolah dengan damai."
Ais terdiam. Ustadz Yusuf pun juga terdiam.
"Mas masih mau menerimaku sebagai istri mas?" tanya Ais.
__ADS_1
Ustadz Yusuf menatap Aiz dan tersenyum. Ustadz Yusuf menangkup wajah Ais dan mengecup sekilas pipi Ais.
"Sampai kapan pun mas akan menerima kamu sebagai istri mas." balas ustadz Yusuf.
Ais tersenyum. Dia senang ustadz Yusuf menerimanya.
"Ais, boleh mas tanya sesuatu?"
"Boleh mas."
"Kenapa kamu bilang Qeela seperti itu karna kamu?"
"Saat masih kecil, aku dan Qeela sering bermain petak umpet. Suatu hari kami bermain petak umpet. Qeela bersembunyi di gang yang sepi. Aku kira Qeela meninggalkan ku dan pulang duluan. Sampai malam Qeela tidak kunjung pulang. Kami meminta bantuan pak Rt agar mencari Qeela. Sampai akhirnya aku yang menemukannya. Aku menemukan Qeela sedang diganggu oleh orang dewasa. Mereka hendak berbuat jahat pada Qeela. Sejak saat itu Qeela mengalami gangguan mental. Ayah dan ibu mengatakan ini semua salahkan. Aku menerima itu." jelas Ais.
"Saat masuk jenjang SMA, Qeela mulia pulih. Oleh sebab itu ayah dan ibu membiarkan Qeela bersekolah seperti anak lain."
"Kamu hebat sayang." ucap ustadz.
Ais menatap ustadz Yusuf yang memujinya. Dia tidak mengerti kenapa suaminya ini malah memujinya.
"Kamu udah bertahan sampai saat ini. Kamu hebat. Yang sudah berlalu biarlah. Kamu tidak perlu melihat kebelakang lagi. Kamu hanya perlu memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Allah SWT."
Ustadz Yusuf memberi semangat pada Ais. Jika dia memarahi Ais, mungkin Ais akan kembali seperti saat dia sekolah. Dia tidak mau istrinya kembali seperti dulu.
Hallo semua. Maaf ya author batu UP lagi Terus dukung author ya 😁
__ADS_1