Imam Hidupku

Imam Hidupku
Pesantren


__ADS_3

45 menit ustadz Yusuf berkendara. Sebentar lagi dia dan Ais akan sampai di pesantren.


"Ais, bagun.." ustadz Yusuf membangunkan Ais.


"Ais.."


"Em.." Ais mulai terbangun. "Kita udah sampai ya mas?" tanya Ais dengan wajah khas bangun tidur.


"Sebentar lagi kita sampai. Kamu minum dulu. Biar seger."


Ais pun menuruti ucapan ustadz Yusuf. Setelah minun, Ais merasa lebih segar. Ais sudah menyiapkan mentalnya untuk tinggal di pesantren. Semua orang pasti akan mengenalnya sebagai istri dari putra pemilik pondok pesantren ternama. Pasti akan ada orang yang tidak suka padanya.


"Mas, orang di pesantren udah tau kamu udah nikah sama aku?" tanya Ais.


"Udah." jawab ustadz Yusuf.


"Yah.."


"Kenapa? Kamu gak mau orang lain tau?"


"Bukannya gak mau. Cuman.. orang pasti gak setuju sama hubungan kita."


"Kenapa gak setuju?"


"Jelas lah gak setuju. Aku, wanita biasa yang bukan ahli ibadah. Aku gak pintar, gak punyai prestasi. Terlebih lagi aku gak cantik. Bersanding dengan kamu yang ahli ibadah, pintar, cerdas, berwibawa dan tampan. Bagaikan langit dan bumi tau gak mas."


"Ish.. kamu gak boleh bicara gitu. Semua pujian yang kamu katakan itu hanya pantas untuk Allah saja. Aku sekedar makhluknya yang penuh dosa. Semua manusia itu sama. Perbedaan hanya ada karna penilaian kita sendiri."


"Iya mas.."


5 menit kemudian mereka sudah sampai di pesantren. Sudah banyak santriwan santriwati yang menunggu kedatangan Ais dan ustadz Yusuf. Ais dan Ustadz Yusuf disambut dengan lantunan shalawat dari para santri.


"Ayo.." ajak ustadz Yusuf.


Ais tampak tidak siap keluar dari mobil.


"Kamu gugup?" tanya ustadz Yusuf dan mendapat anggukkan dari Ais. "Bismillah ya. Kamu bisa." ustadz Yusuf memberikan semangat pada Aiz.


"Iya.." Ais sangat gugup. Dia tidak menyangka kedatangannya akan disambut oleh seluruh santri di sini.


Pertama ustadz Yusuf keluar dari mobil. Setelah itu ustadz Yusuf membukakan pintu mobil untuk Ais. Ais pun dengan pasrah keluar dari mobil.


Para santri sangat penasaran pada sosok istri ustadz Yusuf. Mereka tak sabar untuk melihat istri ustadz Yusuf.


Ais keluar sambil tersenyum. Meski pun bibirnya tersenyum, tapi matanya menatap datar. Ais memang seperti itu. Dia tidak terbiasa dengan keramaian. Apalagi sekarang dia menjadi pusat perhatian semua orang.


"Assalamu'alaikum.." sapa ustadz Yusuf.


"Wa'alaikumsalam.." jawab para santri.


Banyak yang memuji kecantikan Ais. Tidak bisa dipungkiri kalo Ais adalah wanita cantik yang memiliki 1000 pesona. Jika ada yang memuji, maka ada juga yang mencela. Tidak sedikit dari mereka yang tidak suka pada Ais. Alasannya hanya satu. Yaitu karna dia istri dari ustadz Yusuf.


Ustadz Yusuf dan Ais langsung menyalami abi Bahar dan umi Maryam.


Singkat cerita, kini ustadz Yusuf dan Ais sudah berada di rumah keluarga. Ais dan ustadz Yusuf duduk di sofa panjang.


"Bagaimana perjalanan kalian?" tanya abi.


"Alhamdulillah bi, lancar." jawab ustadz Yusuf.

__ADS_1


"Gak ada kendala kan?" tanya umi.


"Gak ada umi.." jawab ustadz Yusuf.


"Ais, kamu ada yang terasa sakit?" tanya umi.


"Gak ada umi. Alhamdulillah, Ais baik-baik saja." jawab Ais sambil tersenyum.


"Yusuf, ajak istri kamu ke kamar. Biarkan dia istirahat. Dia pasti lelah karna perjalanan panjang." ucap abi.


"Iya abi." angguk Yusuf.


Ustadz Yusuf mengajak Ais ke kamar ustadz Yusuf. Ya.. seperti kebanyakan pasangan suami istri, mereka akan tinggal di kamar yang sama. Ais masuk ke dalam kamar ustadz Yusuf.


"Mas ini kamar kamu?" tanya Ais.


"Iya lah. Masa kamar Kia." jawab ustadz Yusuf diakhiri dengan candaan.


"Bagus.." puji Ais.


"Sekarang ini akan menjadi kamar kita."


Ais menganggukkan kepalanya.


"Kamu istirahat dulu. Tapi jangan tidur. Mas mau mandi." ujar ustadz Yusuf.


"Iya mas.." patuh Ais.


Ais duduk di atas sofa yang ada di kamar itu. Dia menelusuri setiap sudut kamar ustadz Yusuf. Ais bangun dari duduknya dan pergi ke arah jendela.


Ais menatap keluar Jendela. Dari jendela itu, dia bisa melihat area pesantren yang luas. Dia tidak menyangka bisa tinggal di pesantren. Padalah dulunya dia tidak pernah bermimpi untuk masuk pesantren sama sekali. Ini pertama kalinya dia pergi ke pesantren.


"Ais.." panggil ustadz Yusuf.


"Iya mas." jawab Ais membalikkan tubuhnya.


"Kamu lagi apa?"


"Aku lagi liat keluar mas. Banyak santri yang menuntut ilmu di pesantren ini."


"Iya Alhamdulillah.. Kamu mandi gih. Pasti tubuh kamu lengket."


"Iya mas. Tubuhku ini udah kayak babol. Lengket." cetus Ais.


Ais masuk ke dalam kamar mandi dan mulai melakukan ritual mandi. 20 menit berlalu, Ais sudah keluar dengan pakaian lengkap.


"Ais, mas mau ke mesjid. Kamu mau di sini atau ikut ke mesjid?" tanya ustadz Yusuf.


"Ais di sini saja deh mas." jawab Ais.


"Kenapa?"


"Ais capek. Mau shalat di sini aja."


"Ya udah. Mas pamit, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam.."


Ustadz Yusuf pergi ke mesjid.

__ADS_1


Tak lama adzan ashar bekumandang. Ais segera menunaikan ibadah shalat ashar, kemudian dia sambung dengan tadarus Al-Qur'an.


Setelah selesai, Ais merasa bosan di kamar. Dia pun pergi ke luar kamar. Dia mencari Kia. Dia ingin ada teman ngobrol. Ais berkeliling rumah. Sekalian mengenal isi rumah. Saat dia menuju dapur, dia melihat umi Maryam sedang membereskan peralatan dapur. Ais segera menghampiri umi Maryam.


"Umi.." sapa Ais.


"Eh, Ais.." balas umi tersenyum.


Ais membalas senyuman umi Maryam dengan tulus. Ais membantu aktivitas umu Maryam.


"Kamu gak usah bantuin umi. Kamu duduk aja." imbau umi.


"Tidak umi. Ais mau bantuin umi." tolak Ais.


"Nanti kamu capek."


"Gak akan umi. Cuma gini doang masa capek."


"Ya udah lah terserah kamu.."


Ais senyum kemenangan.


"Kamu kenapa keluar kamar? Harusnya kamu istirahat." tanya umi.


"Aku bosan umi. Jadi aku keluar. Umi, di mana kia?"


"Kia sedang mengaji. Itu rutinitas di pesantren"


"Oh.. pantas saja aku cari gak ada"


"Emang kenapa kamu cari Kia?"


"Gak ada sesuatu yang khusus sih. Tapi aku mau ada teman bicara aja."


"Oalah.. umi juga bisa jadi temen bicara kamu."


Ais tersenyum mendengar ucapan umi. Setelah selesai membereskan peralatan dapur, Ais dan umi duduk bersama di ruang keluarga.


"Ais, umi mau bicara sama kamu." ucap umu terlihat serius.


"Bicara apa umi?" tanya Ais yang aneh karna umi Maryam tiba-tiba bersikap serius.


"Kamu cinta pada suami kamu?" tanya umi.


Ais terdiam. Dia bingung harus menjawab apa.


"Kenapa umi bertanya seperti itu?" Gugup Ais.


"Karna umi mau tau." jawab umi.


Ais terdiam lagi.


"Kamu pasti belum mencintai Yusuf kan?" tebak umi.


Ais menatap umi Maryam.


"Dengar sayang, sekarang kamu adalah wanita bersuami. Kamu punya kewajiban terjadap suami kamu. Baik itu secara dohir, mau pun batin. Umi tau kamu belum mencintai Yusuf. Tapi umi harap kamu akan segera bisa mencintainya. Dia sangat mencintaimu. Umi dan abi tidak menganggapmu sebagai menantu kami. Tapi umi dan abi menganggapmu sebagai anak kami sendiri. Jika ada masalah, kamu jangan sungkan untuk berbicara dengan umi, maupun abi." tutur umi.


"Baik umi." balas Ais sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2