
Ustadz Yusuf masuk ke dalam kamar mandi saat mendapati Ais duduk sambil memeluk lututnya. Ais menangis di dalam sana.
"Sayang.. kamu kenapa?" ustadz Yusuf menghadap Ais dan memegang bahunya.
"Hiks.. hiks.. hiks.." Ais tidak menjawab, dia hanya menangis saja.
Ustadz Yusuf menuntun Ais untuk keluar dari kamar mandi. Setelah itu ustadz Yusuf mendudukkan Ais di atas sofa. Ais masih menangis tersedu-sedu. Ustadz Yusuf menangkup wajah Ais dan menatap mata Ais yang memerah dan mulai membengkak.
"Jangan nangis sayang.." ucap ustadz Yusuf pada Aiz.
Ais menatap ustadz Yusuf. "Hua.. hiks.. hiks.." bukannya berhenti, Ais malah semakin menangis. "Kenapa sih mas semua orang jahat sama aku? Semua orang gak suka sama aku. Aku tau aku ini bukan orang baik. Tapi aku udah berusaha supaya gak jahat. Mereka semua jahat sama aku. Tega banget mereka nuduh aku selingkuh." raung Ais.
Ustadz Yusuf mengelus punggung Ais dengan lembut.
"Kamu juga percaya kan sama mereka?"
"Astaghfiirullah.. enggak sayang. Mas gak pernah berpikir seperti itu. Mas percaya sama kamu."
"Terus kenapa kamu jauhin aku? Kenapa kamu gak pernah sentuh aku? Apa aku ini hina, sampai kamu gak mau sentuh aku? Padahal kita ini suami istri mas."
"Ais.. jangan bicara kayak gitu. Kamu gak hina. Mas punya alasan sendiri Ais."
__ADS_1
"Alasan apa mas? Aku capek kayak gini terus. Aku mau pulang.." ucap Ais. Ais bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lemari.
"Pulang? Ini rumah kamu sayang, kamu mau pulang ke mana?" ustadz Yusuf menahan tangan Ais.
"Pokoknya aku mau pulang. Aku gak mau tinggal di sini." Ais berusaha melepaskan tangan ustadz Yusuf. Namun ustadz Yusuf tidak mau melepaskan tangannya. "Mas.. lepas.." pinta Ais sambil terus menangis.
Ustadz Yusuf tak mendengarkan ucapan Ais. Dia malah menarik Ais masuk ke dalam pelukannya. Ustadz Yusuf memeluk Ais dengan erat. Ais berusaha memberontak. Tapi dia kalah tenaga dengan ustadz Yusuf.
Ais menangis sejadi-jadinya sambil memukul dada ustadz Yusuf. Ustadz Yusuf menerima semua pukulan dari Ais. Ustadz Yusuf sama sekali tidak marah saat Ais melakukan itu padanya.
30 menit berlalu, karna lelah Ais berhenti menangis dan berhenti memukuli ustadz Yusuf. Mendengar tangisan Ais mulai reda, ustadz Yusuf melepaskan pelukannya. Masih terdengar isakkan kecil dari Ais. Ustadz Yusuf meletakkan tangannya di atas kedua bahu Ais.
"Mas gak suka kan sama aku? Mas bohong cinta sama aku. Mas sama sekali gak cinta sama aku." balas Ais.
"Gak sayang itu gak bener. Rasa cinta mas nyata sama kamu." sangkal ustadz Yusuf.
"Ah.. atau jangan-jangan mas punya wanita lain? Iya! Kalo iya bilang mas. Mas gak perlu bilang cinta sama aku. Mas nikahin aku cuman karna rasa kasihan aja. Aku udah gak punya siapa-siapa lagi, jadi mas iba sama aku. Iya kan!" tuduh Ais.
"Astaghfiirullah.. sayang jangan bicara seperti itu. Tidak ada wanita lain selain kamu. Mas menikahi kamu karna rasa cinta mas." ustadz Yusuf menyangkal semua tuduhan yang Ais berikan padanya.
"Terus kenapa mas gak mau sentuh aku? Mas tau, umi bilang padaku dia menginginkan seorang cucu. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa memberi seorang cucu jika suami ku pun tidak pernah menyentuh ku."
__ADS_1
Ustadz Yusuf terdiam. Dia baru mengetahui kalo uminya ingin sekali menimang seorang cucu. Abi juga pasti menginginkan seorang cucu. Apakah kali ini dia egois?
"Maafin mas sayang.." sesal ustadz Yusuf.
"Mas minta maaf sebelum memberi penjelasan. Aku gak akan terima maaf mas." tolak Ais.
"Sebenarnya mas sangat ingin menjadikanmu sepenuhnya milik mas. Namun mas masih ragu." ungkap ustadz Yusuf.
"Ragu kenapa mas?"
"Mas tidak mau menyentuhmu saat kamu belum mencintai mas. Mas ingin kamu memenuhi tugas kamu sebagai seorang istri dengan kehendak mu sendiri. Mas tidak ingin kamu terpaksa melakukan itu bersama mas." ustadz Yusuf mengutarakan alasan sebenarnya pada Ais.
Ais terdiam mendengar alasan ustadz Yusuf. Akhirnya Ais tau apa yang mengganjal pikiran serta hati ustadz Yusuf. Ais menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Laki-laki memang tidak peka." ucap Ais.
Ais membalikkan tubuhnya membelakangi ustadz Yusuf. Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ais, membuat ustadz Yusuf mengerutkan keningnya. Dia tidak tau kenapa Ais mengatakan itu.
"Sayang, maafin mas." ucap ustadz Yusuf takut dia mengatakan hal yang salah.
Ais memegang kepalanya. Dia tidak mengerti kenapa seorang laki-laki memiliki tingkat kepekaan yang sangat rendah.
__ADS_1