
Setelah sampai di perusahaan, Keempat orang itu langsung masuk ke dalam. Banyak karyawan yang menyapa mereka. Ais menatap setiap sudut perusahaan. Terakhir kali dia mengunjungi perusahaan saat bersama ayahnya dan juga Aqeela.
"Selamat datang kembali nona Ais." ucap resepsionis yang bernama Zea.
Ais tersenyum dan langsung berlari memeluk Zea. Zea membalas pelukan Ais.
"Saya turut berduka cita ya non." ucap Zea mengusap punggung Ais.
Ais menganggukkan kepalanya. Ais merasa senang bisa bertemu lagi dengan Zea, dia adalah pegawai yang paling bisa mengerti Ais.
Ustadz Yusuf, Ustadzah Reni dan Ando mengamati interaksi Ais dan Zea.
"Hai Zea." sapa Ando.
Zea dan Ais melepaskan pelukan mereka.
"Ando? Ini kamu?" tanya Zea.
"Iya. Ini aku lho.." Ando memeluk Zea sebagai sapaan.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya ustadz Yusuf.
"Iya mas." jawab Ando.
Ais mengerutkan keningnya mendengar panggilan Ando pada ustadz Yusuf.
"Ando, kamu kok panggil suami aku mas sih!" protes Ais.
"Biarin dong. Suka-suka aku." balas Ando.
"Gak boleh." larang Ais.
Ais dan Ando beradu tatap. Mereka saling menatap dengan sengit.
"Kita langsung naik aja yuk." ajak ustadz Yusuf merangkul bahu Ais.
__ADS_1
Ustadzah Reni tampak tidak suka saat ustadz Yusuf merangkul Ais.
Keempat orang itu masuk ke ruangan alm. Ayah Ais yang sekarang menjadi ruangan ustadz Yusuf. Ais berjalan dan mengamati sekuruh isi ruangan. Masih sama seperti dulu. Ustadz Yusuf tidak merubah apapun dari ruangan itu.
Ais memegang kursi yang biasa didudukki alm. Ayahnya. Ais tersenyum mengingat bagaimana gagahnya alm. Ayahnya saat mendudukki kursi ini. Bahkan Ais alm. Ayahnya pernah menyuruh Ais mendudukki kursi itu.
Zea datang ke ruangan ke setelah mengetuk pintu. Zea memberitahu ustadz Yusuf kalo klien-nya sudah sampai. Ustadz Yusuf melakukan meeting bersama ustadzah Reni dan Ando. Ais memilih untuk menunggu di ruangan ustadz Yusuf. Dia akan mengenang semua kenangan bersama keluarganya.
Ais duduk di kursi dan pandangannya menatap lurus.
Flash Back
8 tahun lalu.
"Ayah Qeela boleh duduk di sini?"
"Boleh dong sayang."
Aqeela naik dan duduk di kursi. Ais dan Samuel (ayahnya) duduk di sofa yang ada di ruangan. Aqeela sangat senang duduk di sana. Ais tersenyum kecil melihat Aqeela yang tersenyum lebar.
Samuel tampak melihat ke pada Ais. Ais juga melihat ke pada Samuel. Ais menatap Samuel dengan polos.
"Tentu saja kamu sayang.." jawab Samuel menatap Aqeela.
"Asik.. Aqeela yang akan duduk di kursi ini.." riang Aqeela.
Samuel kembali menatap Ais. Ais tersenyum pada Samuel. Samuel membalas senyuman Ais dengan mengelus kepala Ais.
2 tahun Lalu.
Sepulang sekolah Ais mampir ke perusahaan Samuel seorang diri. Aqeela dan Ais belum satu sekolah. Jadi jadwal sekolah mereka berbeda. Ais sedang menunggu ayahnya selesai meeting.
Untuk mengusir kebosanan, Ais memilih untuk menjelajadi ruangan Samuel yang cukup luas. Ais berdiri di belakang kursi kebesaran Samuel. Dia menatap ke arah jendela besar. Dari sana Ais bisa melihat berbagai baguanan yang ada di bawah.
Ais membalikkan tubuhnya dan menghadap kursi kebesaran Samuel. Ais iseng mendudukki kursi itu. Rasanya sangat nyaman. Ais pun melihat di atas meja kerja Samuel ada beberapa berkaras. Lagi-lagi Ais iseng dan membuka salah satu berkas.
__ADS_1
Ais membaca isi berkas itu hingga akhir. Ais sadar kalo berkas yang dipegangnya belum direvisi. Ais mengambil bolpoin dan melingkari bagian-bagian yang harus direvisi.
Saat sedang asik melingkari bagian yang salah, tiba-tiba Samuel masuk. Ais sangat kaget saat Samuel melihatnya duduk di kursi miliknya sambil memegang berkas. Ais takut Samuel akan marah karna dia duduk di kursinya. Bukan hanya karna itu, Aqeela selalu melarang Ais duduk di kursi itu. Dia mengatakan hanya dia lah yang akan duduk di sana.
Ais langsung berdiri. Samuel berjalan ke arahnya. Jantung Ais berdegup kencang saat Samuel menatapnya dengan penuh intimidasi.
"Maaf ayah aku-" Ais hendak berucap namun Samuel memotongnya.
"Kenapa bangun?" tanya Samuel mengusap kepala Ais.
Ais mengerutkan keningnya.
"Kursi ini memang untuk kamu." ucap Samuel.
Ais membulatkan matanya kaget. "Aqeela bagaiman?"
"Dia akan mendapat yang lain." Samuel tersenyum.
Samuel melihat pada berkas yang Ais periksa. Dia kembali tersenyum takala melihat hasil kerja Ais yang cukup bagus.
"Bagus. Ayah bangga sama kamu." ucap Samuel.
Ais menarik ujung bibirnya. Dia senang karna Samuel bersikap lembut padanya. Samue mengarahkan Ais agar kembali duduk. Ais pun menuruti ucapan Samuel.
Baru saja Ais duduk kembali. Tiba-tiba Aqeela masuk. Aqeela melihat Ais yang sedang duduk du kursi. Sorot mata Aqeela menjadi tajam. Dia memandang Ais dengan penuh kemarah.
Ais segera bangun. Ais hendak menjelaskan apa yang terjadi. Namun Aqeela tak mendengarkan.
Plak..
Aqeela menampar Ais dengan keras. Ais merasakan panas di area pipi bekas tamparan Aqeela. Samuel sangat kaget akan tindakan Aqeela. Tanpa berucap, Ais pergi meninggalkan Aqeela dan Samuel.
Ais pergi ke taman yang biasa dia kunjungi saat sedang sedih. Tak ada tahu Ais sering ke sana. Ais menangis dalam diam. Dia tidak mau mengeluarkan suara dan membuat orang lain terganggu.
Ais harus kuat menghadapi Aqeela. Ini bukan salah Aqeela. Ini salah Ais. Aqeela seperti ini gara-gara Ais. Aqeela juga mengalami gangguan mental karna Ais. Ais harus menanggung akibat dari kebodohannya.
__ADS_1
Flash Of