
"Benarkah?"
"Iya kak. Kak Ais bilang gak tau kenapa dia gelisah banget. Dia mau cepet-cepet ketemu kakak." cerita Kia.
Ustadz Yusuf mendengarkan ucapan Kia.
"Sepanjang kak Ais di mesjid, dia kayaknya gak tenang banget. Aku bisa liat dari wajahnya. Pas dapet kabar kakak keserempet, kak Ais langsung lari ke sini. Larinya keceng banget. Aku aja gak bisa susul kak Ais. Kayaknya kalian punya ikatan batin deh. Soalnya kak Ais bisa punya firasat gitu."
Ais datang sambil ditangannya membawa nampan berisikan makanan dan minuman untuk suaminya.
"Aku keluar dulu ya kak." ucap Kia.
"Iya.." balas Ais dan ustadz ustadz Yusuf bersamaan.
Ais menaruh nampan itu di atas nakas. Ais duduk di samping ustadz Yusuf. Kemudian dia mengambil piring berisikan makanan. Ais menyendokkan makanan dan mengarahkannya pada ustadz Yusuf.
"Kamu udah makan?" tanya ustadz Yusuf sebelum menerima suapan dari Ais.
"..." Ais tak menjawab. Dia hanya mengarahkan sendok pada mulut ustadz Yusuf.
"Ais.. Mas tanya, kamu udah makan belum?" ustadz Yusuf mengulangi pertanyaannya.
"Belum mas.." jawab Ais.
"Kenapa belum?"
"Setelah mas makan, nanti aku makan."
Sepertinya Ais marah. Simpul ustadz Yusuf.
Ustadz Yusuf mengambil sendok yang Ais pegang lalu menaruhnya di piring. Kemudian ustadz Yusuf menaruh piring itu di atas nakas. Ais hanya mengamati apa yang dilakukan oleh ustadz Yusuf.
Ustadz Yusuf memegang tangan Ais dengan tangan kanannya. Ais menundukkan kepalanya.
"Sayang, maafin mas ya udah bikin kamu khawatir." ucap ustadz Yusuf dengan tulus. "Mas tau kamu pasti khawatir liat mas. Kamu gak usah khawatir sayang, mas udah gak papa kok. Beberapa hari lagi mas akan sembuh."
Entah kenapa mendengar ucapan ustadz Yusuf membuat Ais ingin menangis. Setetes air mata lolos dari mata Ais. Ustadz Yusuf kaget saat tangannya terkena tetesan air mata Ais.
"Sayang.. kamu kenapa? Hm..?" ustadz Yusuf mengangkat dagu Ais. Dan benar saja, Ais sudah menangis.
"Gimana mas bilang gak papa. Tangan mas pake penyangga." ucap Ais ditengah tangisannya.
"Tangan mas gak patah kan."
__ADS_1
"Iya, tapi tetep pasti sakit."
"Cuma sedikit."
Plak..
Dengan sengaja Ais memukul pelan tangan kiri ustadz Yusuf.
"Aww.. sakit sayang.." ringis ustadz Yusuf.
"Tadi katanya gak sakit."
"Tapi kamu mukul mas."
"Makannya jangan sok kuat." cibir Ais.
"Mas salah. Maafin mas ya sayang.. cantiknya mas gak boleh marah-marah.."
"Hm.."
Keesokan harinya.
Untuk beberapa hari ustadz Yusuf istirahat di rumah. Maaf ralat, bukan istirahat tapi bekerja dari rumah. Ais pergi ke sekolah seperti biasa. Saat istirahat dia menyempatkan untuk pulang dan melihat suaminya. Ais memastikan ustadz Yusuf tidak bekerja terlalu berat.
"Assalamu'alaikum.." ucap Ais saat memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam.." balas ustadz Yusuf yang kebetulan sedang ada di ruang tamu.
"Mas kok di sini sih? Kenapa gak di kamar?" tanya Ais setelah menyalami tangan suaminya.
"Mas bosen dikamar sayang." jawab ustadz Yusuf.
Ais duduk disebelah ustadz Yusuf. Ais melihat benda yang berada di atas meja. Ada berkasa-berkas yang sedang ustadz Yusuf periksa.
"Mas di kamar aja."
"Mas di sini aja."
"Nanti mas pegel kalo duduk terus."
"Masa mas harus tiduran terus? Cuma tangan mas yang sakit. Selebihnya Alhamdulillah.."
"Ya udah, istirahat dulu. Udah mau dzuhur."
__ADS_1
"Iya."
"Mas udah makan?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Mau makan sama kamu."
"Harusnya mas makan duluan. Kan mas harus minum obat."
"Mas gak butuh obat. Senyum kamu lebih mujarab daripada obat." gombal ustadz Yusuf.
"Gombal terus.."
Ais membantu ustadz Yusuf membereskan berkas. Setelah itu mereka masuk ke dalam kamar.
Malam harinya Ais membantu ustadz Yusuf berganti pakaian.
"Tangan mas masih sakit?" tanya Ais.
"Udah mendingan." jawab ustadz Yusuf.
Ustadz Yusuf menggerakkan tangannya dengan perlahan.
"Alhamdulillah kalo gitu."
Ustadz Yusuf tersenyum dan mengelus puncak kepala Ais. Ada sesuatu yang mengganjal di hati ustadz Yusuf. Namun dia sedikit ragu untuk bicara pada Ais. Dia takut Ais akan marah.
"Sayang.."
"Hm.." Ais menatap manis ustadz Yusuf.
"Kata ustadzah Reni, kamu bicara kasar sama Rina. Apa itu benar?" tanya ustadz Yusuf dengan ragu.
Ais terdiam. Sudah kuduga dia akan mengadu. Dasar tukang ngadu. Cibir Ais dalam hati.
"Iya mas. Itu bener." jawab Ais.
Tanpa berucap, ustadz Yusuf menunggu penjelasan Ais.
"Mas, bukan aku yang memulainya. Rina yang mulai duluan. Rina yang bilang aku tuli, bisu, bego dan buta. Aku marah lah sama dia. Aku emang salah balik kasarin dia. Tapi aku langsung tobat kok mas. Aku udah minta maaf sama dia. Cuman dianya kayak yang gak mau maafin aku." jelas Ais dengan wajah yang memelas.
__ADS_1