
Hari ini adalah hari pertama Ais masuk sekolah. Dia sangat gugup. Dia tidak tau apakah dia bisa menyesuaikan diri atau tidak.
"Mas doain aku ya." pinta Ais.
"Biar apa?" tanya ustadz Yusuf.
"Biar aku diberi kelancaran."
"Aamiin.."
"Aku berangkat ya."
"Iya sayang.."
"Mas hari ini gak ada jadwal ngajar?"
"Ada. Jadwal mas sampai siang ngajar. Setelah itu mas pergi ke perusahaan sebentar."
"Oh.."
"Katanya mau berangkat."
"Oh iya." cengir Ais. "Assalamu'alaikum.." Ais mengalami tangan ustadz Yusuf.
"Wa'alaikumsalam." balas ustadz Yusuf.
Ustadz Yusuf menangkup wajah Ais dan memberikan kecupan di dahi, di kedua kelopak mata Ais serta di hidung. Untuk bibir tak ada kecupan.
Ais heran kenapa suaminya ini selalu melewatkan bagian bibir. Ais jadi bertanya-tanya, apakah bibirnya tidak bagus? Tidak menarik? Atau.. tidak enak?
Ais berjinjit dan..
Cup..
Ais yang mengecup bibir ustadz Yusuf. Ustadz Yusuf kaget akan tindakan Ais.
"Mas selalu melewatkan bagian itu." ucap Ais.
Ais tersenyum lalu keluar dari kamar. Ais menghampiri Kia yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Maaf ya lama." ucap Ais.
"Enggak kok kak." balas Kia.
Ais dan Kia pergi ke sekolah bersama. Sesampainya di kelas, Ais tidak langsung masuk. Dia berdiri di depan pintu kelas. Kia merasa aneh melihat Ais yang tiba-tiba berhenti.
"Kenapa kak?" tanya Kia.
"Aku gugup." jawab Ais.
Kia tersenyum. Ais sangat lucu jika sedang gugup.
"Gak papa. Kakak pasti bisa kok." Kia memberikan semangat pada Ais.
Ais tersenyum mendengar ucapan semangat dari Kia.
"Bismillah.." Ais melangkahkan kalinya di kelas barunya.
__ADS_1
"Assalamualaikum.." ucap Ais dan Kia secara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam.." balas para santriwati yang ada di kelas.
Para santriwati tampak senang atas kehadiran Ais. Mereka tak mempermasalah status Ais. Mereka malah ingin bisa lebih dekat dengan Ais.
Ais duduk dengan Kia. Mereka memilih meja paling depan. Tepatnya meja kedua dari meja guru, depan papan tulis. Ais duduk di sisi kiri, dan Kia di sisi kanan.
"Kia, gak ada tempat lain ya? Selain di sini?" tanya Ais.
"Emang kenapa kak?" Kia balik bertanya.
"Ini terlalu depan Kia. Lebih baik kita duduk dipaling belakang aja."
"Jangan kak. Kalo di belakang gak akan bisa fokus."
"Kalo di sini, bisa terlalu fokus Kia."
Saat Ais dan Kia sedang bernego, orang yang duduk di belakang mereka memanggil Ais dan Kia.
"Em.. maaf ukhi Ais.." ucap salah seorang santriwati.
Ais dan Kia melihat ke belakang.
"Kenalin aku Silvi, temen Kia." Silvi memperkenalkan dirinya pada Ais.
"Aku Ais." Ais tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Silvi tersenyum melihat Ais yang tersenyum padanya.
Ais juga memberikan senyuman pada Cica. "Aku Ais.."
"Wah.. ukhti Ais.. aku gak nyangka bisa sekelas sama ukhti." ucap Silvi.
"Iya, aku juga gak nyangka." timpal Cica.
"Kami seneng bisa se-kelas dengan ukhti."
"Aku juga seneng."
Akhirnya Ais mendapat teman baru. Ais rasa Silvi dan Cica bisa cocok dengannya.
"Kia, Kita pindah yuk." ajak Ais.
"Pindah ke mana kak?"
"Pindah ke bangku belakang."
Ais dan Kia mencari bangku belakang yang masih kosong. Namun bangku belakang sudah penuh.
"Gak ada yang kosong kak." ucap Kia.
"Yah.." lesu Ais.
"Kenapa?" tanya Silvi.
"Kak Ais mau pindah di belakang." jawab Kia.
__ADS_1
"Ya udah di sini aja." usul Silvi..
"Emang boleh?" tanya Ais.
"Boleh. Ya kan, Ca?" jawab serta tanya Silvi pada Cica.
"Boleh banget." balas Cica.
Ais dan Kia pindah ke meja Silvi dan Cica. Ais lega karna dia sudah pindah tempat duduk.
"Kamu gak papa kan duduk di sini?" tanya Ais pada Kia.
"Gak papa kok kak." jawab Kia.
"Makasih ya."
"Iya.."
Tak lama bel berbunyi pertanda pembelajaran sudah dimulai.
"Kia, siapa ustadz yang akan mengajar pertama?" tanya Ais penasaran.
"Nanti kakak juga tau." balas Kia sambil tersenyum aneh.
Ais menunggu siapa ustadz yang akan mengajarnya hari ini. Ais mengeluarkan buku dan alat tulisnya.
"Assalamu'alaikum.." seseorang berjalan memasuki kelas.
"Wa'alaikumsalam.." balas Ais dan semua santriwati lain.
Ais mengarahkan pandangannya pada orang yang mengucapkan salam.
"Mas Yusuf.." gimana Ais.
"Iya kak. Kak Yusuf masuk jam pertama. Kakak seneng kan?" ucap Kia.
"Iya. Heheh.." balas Ais.
Ais tidak menyangka suaminya sendiri akan menjadi gurunya belajar. Ustadz Yusuf melirik ke arah Ais. Sepertinya ustadz Yusuf sangat senang bisa bertemu dengan Ais di kelas.
Pembelajaran dimulai. Sebelum pembelajaran dimulai, ustadz Yusuf meminta Ais memperkenalkan diri terlebih dahulu. Meski pun semua orang sudah tau siapa Ais, tapi ini hal yang folma untuk dilakukan.
"Ais, silahkan maju ke depan dan perkenalkan diri kamu." himbau ustadz Yusuf.
Ais maju ke depan dan berdiri di depan semua orang. Ais sudah bisa menguasai kegugupannya.
"Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.." ucap Ais.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullaahi Wabarakaatuh.." balas semua orang.
"Perkenalkan nama aku Aisha Rahma. Kalian pasti sudah tau aku adalah istri dari ustadz Yusuf. Meskipun begitu, aku minta jangan memperlakukan aku dengan istimewa. Karna aku di sini sama seperti kalian, sebagai santri yang belajar. Aku harap kalian bisa menerima aku dan kita bisa berteman dengan baik." ucap Ais.
Ucapan Ais mendapat respon bagus dari semua orang. Ais tersenyum bahagia.
Ini tidak buruk.. pikir Ais.
Sebelum duduk kembali, Ais tersenyum pada ustadz Yusuf. Ustadz Yusuf juga tersenyum pada Ais. Dia bangga pada Ais yang bisa menyesuaikan diri.
__ADS_1