
Ustadz Yusuf membaringkan Ais di tempat tidur. Dia menyelimuti Ais sampai ke bagian dada Ais. Ustadz Yusuf memperhatikan wajah Ais yang sudah tertidur lelap.
Ustadz Yusuf teringat pada kelakuan Ais yang sangat random. Akhir-akhir ini Ais sering melakukan dan menginginkan hal yang random. Pernah tengah malam ustadz Yusuf dibangunkan oleh Ais karna Ais ingin membersihkan kamar mandi yang ada di dapur. Pernah juga ustadz Yusuf memanjat pohon mangga hanya karna Ais ingin memakan mangga yang baru dipetik dari pohonnya. Itu pun harus mangga yang dipetik oleh ustadz Yusuf.
"Hehehh.." ustadz Yusuf tertawa kecil mengingat momen itu.
Ustadz Yusuf mengelus kepala Ais kemudian mencium keningnya. Setelah itu ustadz Yusuf kembali melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Keesokan harinya.
Pagi hari, ustadz Yusuf sudah berangkat bersama ustadz Hanafi. Ais sedang berada di dapur bersama Kia. Ais mengelap piring yang baru saja di cuci oleh Kia. Dan Kia yang membereskan piring ke rak piring.
tiba-tiba kepala Ais terasa berputar. Ais berpegang pada Kia yang berada di sampingnya.
"Ehh Astaghfiirullah.. kak Ais kenapa?" tanya Kia yang sedikit kaget.
"Kepala kakak tiba-tiba pusing." jawab Ais.
Ais memegang mulutnya menahan sesuatu yang hendak keluar. Ais bergegas menuju kamar mandi.
"Uwok.. Uwok.." terdengar suara muntah dari dalam kamar mandi.
Kia yang mendengar Ais muntah, dia sangat panik. "Kak Ais.. kak Ais kenapa? Ais baik-baik aja kan?" tanya Kia.
Beberapa saat kemudian Ais ke luar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat pasi.
"Kak Ais ayo duduk dulu." Kia menuntun Ais untuk duduk di kursi. Kia juga mengambilkan air untuk Ais. Ais meminum air itu sampai habis.
Ais memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Kak Ais kenapa? Tadi baik-baik aja." tanya Kia. Kia memijit bahu Ais.
__ADS_1
"Gak tau. Udah berhari-hari kakak gini. Mana udah 2 bulan kakak belum datang bulan lagi." jawab Ais.
"Kakak jarang makan sih."
"Apa hubungannya jarang makan sama belum datang bulan Kia."
"Ya.. siapa tau aja ada hubungannya."
"Jarang makan apanya. Justru sekarang nafsu makan kakak jadi bertambah." gerutu Ais.
Kia diam mendengarkan gerutuan dari Ais.
"Mau aku buatin teh hangat?" tawar Kia.
"Hmm.. boleh." setuju Ais.
Kia membuatkan teh hangat untuk Ais. Setelah teh jadi, Kia memberikan teh itu pada Ais.
"Makasih Kia." ucap Ais menerima teh dari Kia.
"Sama-sama kak." balas Kia. "Aku telpon kak Yusuf ya."
"Gak usah Kia, kakak gak papa kok." cegah Ais.
"Beneran?" tanya Kia memastikan.
"Iya.."
"Kalo gitu kak Ais ke kamar aja."
"Iya."
__ADS_1
"Ayo aku bantu."
Kia membantu Ais berjalan menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar, Ais membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan Kia kembali ke dapur untuk membawa teh hangat Ais yang tertinggal.
Kia menaruh teh di atas nakas.
"Kak Ais istirahat ya. Aku ke luar dulu." ucap Kia.
"Iya.. makasih ya."
"Iya kak."
Kia berjalan menuju pintu. Saat hendak membuka pintu, Ais menghentikan Kia.
"Kia tunggu." cegah Ais.
"Iya kak?" Kia berbalik menghadap Ais.
Ais mendudukkan tubuhnya dan merenung. Ais mencerna semua hal yang terjadi padanya. Mulai dari Ais yang sering merasa pusing, mual, mood yang naik turun, keinginan yang terbilang cukup aneh, ditambah lagi Ais yang sudah 2 bulan belum datang bulan. Hal itu membuat Ais merasa ada yang janggal.
"Kak Ais.." Kia mengguncangkan bahu Ais. "Kak Ais kenapa?" tanya Kia yang merasa aneh karna Ais melamun.
"Kamu bisa bantu kakak?" tanya Ais.
"Bantu apa kak?"
"Kakak mau kamu beliin kakak tespek."
"Hah!" Kia membulatkan matanya. Kia tidak bodoh. Dia tau apa itu tespek dan kegunaan tespek. "Kak Ais beneran.."
"Kakak juga belum tau Kia. Kakak masih ragu." balas Ais. "Kamu jangan kasih tau ke siapa-siapa ya, soalnya kakak juga belum yakin." pinta Ais.
__ADS_1
"Iya kak siap." paham Kia.