Indah

Indah
Indah 1


__ADS_3

Tok! tok!


"Assalamualaikum, permisi, Pak! Maaf saya terlambat," ucap Indah dengan sedikit gugup. Sesaat setelah menutup pintu ruangan Bosnya.


Indah, Dia bernama Kholida Raisa Putri, umurnya baru menginjak angka dua puluh lima tahun di bulan februari nanti.


Berkulit putih, cantik, dan berhijab. Seorang sekretaris baru, pilihan kantor pusat, pindahan dari kantor cabang.


Seorang pria di belakang meja langsung berputar balik, begitu mendengar sapaan, dan segera menghadap sosok yang baru saja memasuki ruangannya.


"Saya harap, ini yang pertama dan terakhir kamu terlambat, ok!" tegasnya, sambil matanya tak berkedip memperhatikan sekretaris baru.


Sosok pria tampan di belakang meja itu bernama Dicky Setyowan, pewaris tunggal dari pemilik perusahaan Awan Corp, menduduki jabatan sebagai presiden directur.


"Baik, Pak!" jawab Indah sembari mengangkat mukanya. Tertegun sejenak begitu matanya bertemu wajah si Bos.


"Satyo!" desis Indah, namun cepat-cepat tangannya menutup mulut. Berharap orang yang disebut namanya barusan tidak mendengarnya.


Tetapi, ternyata dia belum beruntung, karena orang itu mendengar suara desisan Indah.


"Apa kita pernah kenal sebelumnya?" tanya Diky kaget, matanya semakin menajam memandang wajah sekretarisnya.


"Kenapa kamu memanggilku dengan nama, Satyo?" selidik Diky, sembari mengingat-ingat wajah perempuan di depannya.


Diky penasaran, hanya teman masa sekolah SD dan SMP-nya saja yang memanggil dirinya dengan nama Satyo.


"Nggak, Pak ... nggak, maaf. Saya hanya asal nyebut aja tadi," gagap Indah menjawab pertanyaan Bosnya.


"Kalo begitu, saya izin kembali ke meja saya, Pak!" ucap Indah terburu buru.


"Selamat siang, Pak!"


"Tunggu! Nama kamu siapa?"


"Saya ... nama saya Indah pak, Kholida Raisa Putri."


"Ok! Indah, silahkan kembali ke mejamu.  Jangan lupa ingatkan kegiatan saya siang ini, dan siapkan berkas yang harus saya bawa. Kamu sudah tahu tugas dan jobdis_nyakan?"


"Baik, Pak! Saya kerjakan sekarang," jawab Indah sambil sedikit membungkukkan badannya.


"Saya permisi, wassalamualaikum."


"Ok! Wa'alaikum salam," jawab Diky.

__ADS_1


Seketaris cantik itu langsung melangkah menjauh dari ruangan Bosnya. Meninggalkan Diky yang masih berpikir, dan mengingat wajah gadis itu. Namun tidak ditemukan bayangan di masalalu tentang wanita ini.


Akhirnya dengan membawa perasaan penasaran. Diky kembali menekuni tumpukan kertas-kertas yang ada di atas meja, tugas sebagai penanggung jawab dari perusahaan yang dimiliki keluarganya.


Indah, langsung duduk di kursinya, ternyata Diky tidak mengingat Indah.


Tentu saja Diky tidak mengingatnya, banyak yg berubah dari Indah dulu dan sekarang.


Dulu, Indah hanya seorang anak perempuan yang gemuk, tomboy dan dekil. Sekarang lihat dirinya. Sudah menjadi seorang gadis yang langsing dan berhijab.


Berbeda dengan Diky yang memang dari kecil sudah tampan, bersih, dan tajir.


Memang, lebih baik dia berpura-pura tidak mengenalnya, biar tidak terjadi interaksi yang berlebihan.


Tangan Indah langsung bergerak cepat menyalakan komputer di meja, dan mengerjakan tugas yang tadi sudah dipesan oleh Bos.


'Kerja! ayo kita kerjaa!' desis Indah sambil tersenyum simpul.


***


"In ... makan 'yuk, sekarang kan waktunya istirahat. Lo belum selesai ya? ayolaah gue lapar nich," ajak Selly, yang sudah berdiri di depan meja Indah.


Selly adalah satu-satunya teman wanita yang satu ruangan dengan Indah. Tugasnya sebagai pengolah data dan pembuat laporan keuangan, mengharuskan meja mereka saling berhadapan, hanya tepisah jarak kurang lebih dua meter.


"Ayo!" jawab Indah sembari menyimpan file yang tadi sudah dikerjakan, segera matikan komputer dan dengan cepat pula diambilnya dompet dan phone. Bergegas kemudian menyusul langkah Selly yang berjalan lebih dulu.


"Di depan kantor ada restorant baru, kita coba yuk!"


"Restorant masakan apa?"


"Entah!" Selly menjawab sembari mengendikkan bahunya dan tersenyum. Tanpa memandang Indah.


"Kita lihat aja dulu, namanya juga percobaan," sambung Selly sambil tertawa.


"Ya, bolehlah," jawab Indah.


"Toh nggak ada salahnya mencoba, siapa tahu jadi langganan kan?" Lanjut Indah.


Indah mempercepat langkahnya, agar bisa sejajar dengan langkah Selly, bersama memasuki lift.


***


Indah cepat-cepat menyelesaikan dan merapikan print-nannya, kemudian bergegas menghadap Bosnya dengan membawa data yang baru saja di print.

__ADS_1


Merapikan baju dan jilbab menjadi kewajiban baru sebelum mengetuk pintu ruangan Bosnya.


"Masuk!" jawaban tegas dari orang balik pintu. Setelah Indah mengucapkan salam dan mengetuk pintu.


"Permisi, Pak! Mau laporkan kegiatan hari ini, ada meeting jam setengah dua siang, dengan utusan Surya Corp. Ini berkas yang diperlukan Pak,"Lapor Indah setelah menutup pintu kembali ruangan bos.


"Ok! kamu juga siap-siap, meeting kali ini kamu ikut!"


"Saya ikut, Pak?" tanya Indah dengan tak percaya.


"Iya, kamu ikut, kenapa?" tanya Diky sembari menatap tajam sekretarisnya.


"Kamu keberatan?" Tekan Diky lagi, begitu melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Indah.


"Ng_nggak, Pak! Saya tidak keberatan," jawab Indah. Namun pias muka di wajahnya tak bisa dibohongi, dan Diky bisa lihat itu.


"Saya permisi dulu, Pak!" lanjutnya, sembari berlalu dari hadapan bosnya.


"Wassalamualaikum," pamit Indah.


"Wa alaikum salam." Dilihatnya bayangan sekretarisnya yang sudah hilang di balik pintu. Diky terus berpikir kenapa sekretarisnya bersikap seolah menjauh, dan enggan berinteraksi dengannya.


Siapa sebenarnya Indah?


***


Waktu meeting masih kurang sepuluh menit, dengan diantar oleh seorang karyawan dari Surya Corp. Indah yang mengikuti langkah Diky dari belakang, memasuki ruangan meeting.


Pintu dibuka, tampak di dalam ruangan di antara meja yang berbentuk oval dengan kursi yang mengelilingi meja. Seorang perempuan dan seorang lelaki dari perusahaan Surya Corp. Mereka berdiri dari duduknya, begitu melihat Diky memasuki ruangan.


"Selamat siang, Pak Diky, saya Bayu dari Surya Corp. Ini Sinta seketaris saya," sambut lelaki tampan yang merupakan presdir perusahaan Surya Corp.


Bayu adalah CEO muda yang tampan, dengan badan tidak terlalu tinggi, plus kaca mata, penambah kedewasaannya. Di sebelahnya duduk seorang wanita berpakaian seksi dengan rambut pendek berwarna warni. Membungkukkan sedikit badannya ke arah Diky.


"Siang, Pak Bayu! Senang bisa berkerja sama dengan anda, ini sekretaris saya, Indah," jawab Diky dengan pandangan yang tidak suka, melihat Bayu yang menatap tajam Indah.


Indah membalas ucapan Diky dengan mengatubkan kedua tangannya di depan dada ke arah Bayu.


Empat puluh lima menit berlalu. Indah selesai merangkum semua hasil meeting.


"Baik, Pak Bayu. Terimakasih kepercayaannya, semoga lain waktu kita bisa melanjutkan komunikasi bisnis ini. Senang berbisnis dengan anda," kata Diky, berdiri dan berjabat tangan dengan Bayu.


"Sayapun berharap demikian. terimakasih, Pak Diky," balas Bayu.

__ADS_1


Diky langsung berbalik melangkah ke arah pintu keluar, Indah mengikuti langkah Diky, namun tidak mensejajarinya. Cukup ikut dari belakang.


"Tunggu Indah!" teriak Sinta, dengan langkah cepat menyusul langkah Indah. Serentak Diky dan Indah berhenti dan membalikkan badan ke arah Sinta.


__ADS_2