Indah

Indah
Indah 3


__ADS_3

Flash on Diky.


Dia tersenyum padaku


Mmm ... manis sekali, jantung serasa berdetum bila tatapan ini bertemu dengannya. Dia makhluk Tuhan yang paling sempurna dimataku.


Hati ini mulai gelisah, penasaran, ingin tahu. Siapa diri si gadis, yang telah membuatnya jatuh cinta?


"Man, gue boleh minta tolong lo kagak?" pintaku ke Maman. Maman teman beda kelas tapi satu tim di basket sekolah.


"Bantuan?" jawab Maman menatap bingung pada temannya, "bantuan apaan Set?" tanya Maman lagi. Hidup Setyo sudah terjamin. Lahir dari keluarga yang kaya, pintar, ayo ... kurang apa?


"Nitip surat ke teman sekelas lo please."


"Surat, surat apa?" tanya Maman penasaran, "hebat benar perempuan yang bisa menaklukkan hati pangeran tajir, tampan seperti kamu?!"


"Surat cintalah, Man!" Diky menjawab sambil nyengir. Maman langsung tertawa geli melihat ekspresi maluku.


"Siapa nama cewek yang lu suka, Setyo?" tanya Maman masih disertai ketawa khasnya yang melihatku malu-malu.


"Anu, namanya ... ."


"Serius, di kelas gue? Jangan-jangan salah orang, lu?" tanyaku memastikan lagi.


"Beneran, Man, mangkanya gue minta bantuan lo, buat ngasih surat gue itu, lo maukan?" harapku.


"Siapa namanya, Satyo?" Maman sengaja memperjelas suara ketika menyebut nama Satyo.


"Aku malu, Man."


Maman terbahak mendengar alasanku , ditambah raut muka pias. Membuat Maman tak bisa lagi menahan tawanya.


"Ok, tapi besok ya, Yo. Sekarang mepet waktunya, bentar lagi sudah jam pulang."


"Makasih ya, Man. Besok sebelum berangkat, gue antar ke rumah lo dech."


"Ok, gue tunggu besok ya!" jawab Maman sambil berlari kecil masuk ke dalam kelasnya.


Bersyukur aku, Maman bersedia membantuku, akhirnya ada jalan untuk cintaku. Jadi lebih optimis yang ngejalanin.


***


"Man, assalamualaikum!" teriakku dari luar pagar rumah Maman. Pagi-pagi teriak-teriak di rumah orang, demi apa coba? Demi menepati janji mengantarkan surat cinta.


"Wa'alaikum salam, iya sebentar, Tyo!" jawab Maman dari dalam rumah.


Maman keluar dari rumahnya, dan menghampiriku.


"Ini, Man, gue titip ya?" ujarku sambil memberikan sepucuk surat ketangan Maman. Amplop agak tebal, dengan warna merah jambu dan wangi yang langsung tersuar begitu diambil dari tas.


"Buat siapa nich, Tyo? takut salah orang gue," Maman meragu. Sambil sesekali membolak balikkan amplop itu.

__ADS_1


"Oo ... ok!" jawab Maman, sesaat setelah mendengar bisikanku di telinganya.


"Makasih ya, Man. Maaf ngerepotin lo pagi-pagi gini." Ujarku dengan senyum malu.


"Nggak masalah kok, Tyo. Eh ... kita sarapan bareng yuk, mumpung masih ada waktu nih," ajak Maman, sambil menarik tanganku masuk ke dalam rumah.


"Nggak usah, maaf, tadi sebelum berangkat aku udah sarapan di rumah. Kalo gitu silahkan kamu sarapan dulu. Aku berangkat duluan ya? makasih bro!" jawabku dan langsung melangkahkan kaki ke luar rumah Maman sembari melambaikan tangan ke arahnya.


Flash off


****


"Kita langsung ke resto Cendana ya, In? kamu nggak papakan?" tanya Diky sambil menoleh sesaat, kemudian kembali fokus ke arah jalan.


Indah dan Diky baru saja melakukan meeting dengan perusahaan Wijaya Corp.


Dan sekarang melanjutkan ke pertemuan yang kedua.


Di sebuah resto terkenal di kota ini.


"Nggak papa kok, Pak!" jawab Indah sembari menatap wajah Diky, yang masih serius mengendarai mobilnya.


"Sebetulnya, ini bukan meeting sih, Indah. Ini hanya acara kumpul-kumpul dengan teman dekatku aja kok. Ya ... macam syukuran kecil-kecilan, karena aku baru datang dari london," jelas Diky sesekali matanya melirik ke arah Indah.


"Nggak papa kan ya?" Indah kaget mendengar penjelasan Diky, sejenak berpikir, lalu menganggukkan kepalanya, tiba-tiba saja hatinya tak tenang.


"Semoga saja tidak seperti yang ada dipikiranku," gumam Indah. Kedua tangannya saling meremas.


Indah sengaja melangkah di belakang Diky memasuki resto. Hingga lnangkahnya terhenti sejenak, saat terlihat di pojok ruangan, ada beberapa meja yang dijadikan satu dengan kursi yang terlihat lebih banyak memutari meja tersebut.


Terlihat seperti ada perjamuan besar, beberapa orang yang dia kenal ada di tempat itu. Entah kenapa kakinya seperti berat banget melangkah, dadanya berdegub kencang.


"Ya Allah, tolong hambamu ini," gumam Indah lirih.


"Test ... test!" terdengar suara merdu bergema dalam ruangan, Indah menoleh ke asal suara, terlihat di samping kiri, di tengah panggung yang tidak seberapa besar. Seorang pria yang sedang duduk, sambil memegang gitar di depan microfon, tangannya bergerak gerak, sibuk mencari kunci not gitarnya.


Indah menatap lebih teliti lagi sosok di belakang microfon.


"Adam!" desis Indah yang mulai mengenali sosok di atas panggung, langsung membelokkan langkah menuju orang di balik microfon. Meninggalkan Diky.


"Gimana kabarmu, Nyet?" sapa Indah, begitu sampai di depan orang di balik microfon.


"Ndaaah, monyeeet!" jerit orang dibalik micr. Sesaaat setelah mengetahui siapa orang yang menyapanya tadi.


Ups! ... Adam, nama orang yang tadi disapa Indah, lupa ngecilin vol micrnya. Alhasil semua orang di dalam restoran menoleh pada mereka berdua.


Yaaaa! Semua pengunjung resto menoleh ke posisi Indah dan Adam.


"Maaf! maaf!" ucap Adam sembari menelungkupkan kedua tangan di dadanya pada semua orang.


Adam, adalah teman sekelas Indah. saat masih duduk di bangku SMP. Tiga tahun mereka bersama, jadi tidak salah kalo mereka amat sangat dekat.

__ADS_1


****


Indah pov.


Aku tertawa lepas melihatnya, sembari kututup mulutku, mataku tak lepas dari wajah Adam yang mulai memerah karena malu.


Adam melotot ke arahku, bukannya menghentikan tawaku, aku malah tambah ngakak melihat wajahnya yang ngegemesin.


"Monyet lo, lama nggak jumpa malah ngaget-ngagetin!"


"Iya, mangap, mangap!" jawabku menyisakan tertawa kecil.


"Mangap, mangap ... maap kali!" bantah Adam judes, masih sakit hati.


"Sama siapa lo, Nyet?" tanya Adam, Begitu sadar kalau Indah tanpa teman.


"Sama si bos, Nyet!" jawabku.


Kuedarkan pandanganku mencari sosok si bos, aku hampir terlupa kalau tadi datang sama Bos Diky. Kulihat si Bos lagi asyik di pojok bareng yang lain, teman Diky yang ... juga temen Indah.


"Kita, nyanyi yuks? kangen duet bareng, lo!" ajak Adam, matanya masih fokus ke arah gitarnya.


"Lagunya yang enak, Dam. Yang lagi hits, biar aku bisa ikutan!" jawabku, sembari mengambil mic di sebelah mic si Adam.


"Kamu pasti suka lagu ini, kamu ngikut aja ya, ok!" kata Adam tersenyum, sembari mengedipkan sebelah matanya ke arahku.


****


Menantimu hingga saat


Cintaku temukan dirimu


Usai sudah sampai disini


Berdiri melabuhkan asmara


Menikah denganku


Menempatkan cinta


Melintasi perjalan usia


Menikah denganku


Menetapkan jiwa


Bertahtakan kesetiaan


Cinta selamanya


( Menikahimu-Kahitna)

__ADS_1


__ADS_2