Indah

Indah
Indah 8


__ADS_3

Drrrrrt .. drrrt.


"Hallo, Assalamualaikum, Pak Bayu ada yg bisa saya bantu?"


"____---___"


"Kemarin saya sudah menunggu kok, Pak! tapi saya kira mungkin Bapak sedang sibuk hingga tidak sempat membatalkan."


"___---__"


"Mereka teman saya, kenapa tidak bergabung pak?"


"___----____


"MungKin lain kali pak? terimakasih sudah menghubungi saya!"


" ___-----____"


"Wa alaikum salam!" phone diletakkan Indah di atas mejanya, dan menatap seseorang pria setengah baya yang berdiri di depan meja kerjanya.


"Kamu sekretarisnya, Diky?" tanyanya sambil menunjuk ke arah Indah.


"Benar, Pak!" tegas Indah, sambil setengah membungkukkan badannya.


"Bawa jadwal hari ini! dan semua data yang diperlukan ke ruangan saya!" titahnya, sambil melangkahkan kaki masuk ke ruangan yang biasanya ditempati Diky.


Mata Indah menatap ke arah Selly, seakan bertanya lewat sorot matanya tentang keberadaan pria tersebut.


"Big Boss, Ndaah! cepet sana!" terang Selly sambil memerintah Indah supaya bergegas.


Tok! ... tokk!


"Masuk!" perintah suara di dalam ruangan.


Cekreeeek ....


"Pagi, Pak! Assalamualaikum, hari ini ada briefing staf seluruh cabang, Pak. Jam sepuluh, dan ini data yang diperlukan," jelas Indah sambil meletakkan map berisi data di meja.


"Meeting dengan CEO Nusantara Corp. dari Malaysia, dan makan siang bersama jam dua belas tiga puluh, data yang dibutuhkan ini pak," tambahnya sambil meletakkan sisa map di tangannya ke atas meja, di atas map yang sebelumnya Indah letakkan.


"Untuk sekarang dan selanjutnya, saya, yang gantikan Diky!" jelasnya.


"Jadi tolong kerja samanya, ya?" pintanya dengan suara yang hangat khas kebapakan.


"Siap, Pak!" balas Indah, sambil tersenyum, menatap Big Bossnya.


"Maap, Pak ... kalo boleh tahu boss Diky sehatkan, Pak?" tanya Indah dengan nada khawatir.


Big Boss memandang Indah dengan penuh tanya.


"Maap! ... saya lancang bertanya, Pak! ... karena kemarin Pak Diky masih sehat saat pulang kantor," tambah Indah gemetaran, karena tatapan Big Bossnya.


"Tak apa, Mbak ..., itu membuktikan hubungan yang sehat antara pemimpin dan karyawannya, siapa namamu, Mbak?"  tanya Pak Adi, ayahnya Diky, baru menyadari kalo belum tahu nama sekretaris anaknya.


"Indah, Pak!" jawab Indah sambil tersenyum.

__ADS_1


"Seindah orangnya ... semoga hatinya juga indah," doa Pak Adi membalas senyum Indah.


"Aamiin!" jawab Indah malu-malu.


"Begini mbak Indah, Diky saya kirim ke Jombang selama setahun, ada sesuatu di sana yang harus segera diselesaikan." jawab Adi sambil tersenyum dan menatap Indah.


Dilihatnya Indah hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil tersenyum.


"Terimakasih, mbak Indah, silahkan kembali bekerja!" perintah pak Adi, si big bossnya.


"Baik, Pak. Permisi ... wassalamualaikum!" Indah membalikkan badan menuju ke pintu ruangan dan berlalu.


'Ternyata dia yang menjadi alasan putranya kekeh belajar mendalami agama islam,' gumam Adi lirih sambil tersenyum.


****


Sabtu ceria ...!! saatnya ’my time’.


Tooook! tooook!


"Mbak ...! cepetan mandinya!, ada yang nyari tuch!" teriak Desi. ish ... bakalan batal my timenya


"Iya! suruh duduk dulu!  tinggal dikit lagi," jawab Indah dari dalam kamar mandi.


"Ngapain sich mbak, lama banget,"


"Lagi pakek sampo!"


"Mending lama, pas keluar berubah cantik, ini ... si Mbak mandinya lama, pas keluar malah luntur semua!" omel Desi teman serumah kost Indah, yang disambut ketawa pecah semua penghuni rumah kost plus tamu Indah.


Skip ... skip


"Assalamualaikum!" sapa Indah, menyapa tamunya yang sudah duduk di ruang tamu.


"Wa’alaikum salam!" jawab tamu indah sambil berdiri dari duduknya.


"Adam! ... Pak Bayu!, kok bisa barengan?" tanya Indah heran.


"Mas Bayu itu kakak sepupuku Ndaah, dia yang maksa maksa aku buat nganterin ke kost an kamu," jelas Adam.


"Dia ngancam mau bunuh diri kalo nggak aku turutin," goda Adam sambil melirik Bayu dengan ekor matanya.


"Terimakasih atas kebohongannya, adik sepupuku tersayang," balas Bayu sambil mencubit perut Adam.


"Aduuch" ringis Adam sambil memegang perutnya


"Jangan kdrt dong!" teriaknya lagi sambil melotot ke arah Bayu.


"Ye, malah bercumbu di sini, aku tinggal tidur ya," suara Indah menengahi debat antara Bayu dan Adam.


Bayu kaget, tidak menyangka ternyata Indah bisa ngambek juga.


"Assalamualaikum!" ada tamu di luar.


"Wa’alaikumsalam," jawab Indah, Adam dan Bayu.

__ADS_1


Indah melangkah ke arah pintu, menyambut tamu yang baru datang,


"Hai jelek! ... kamu sehat?" Mas Dion dan Inge ternyata menjadi tamu kejutan di sore itu, ya mereka tunangan kemarin, saat Indah ditanya jodoh ma Ayahnya, cuman pas acara malam itu, Inge nggak hadir karena menyelesaikan studinya di Singapura.


"Wooow yang mau jadi manten, mimpi apa aku ya? kok kedatangan tamu special," goda Indah ke Mas Dion dan Inge.


"Mari masuk! ... mari!" ajak Indah, tanpa lupa cupika cupiki ma Inge yang akan berubah status dari sahabat menjadi kakak ipar.


"Sahabat rasa ipar dech kamu," senyum Inge, ngelirik Indah yang salim ke mas Dion.


"Eeeeeaaaaaa! eeeeaaaaa!" jawab Indah ma Dion barengan. Inge langsung blusssssing, tersenyum malu.


"Haiiii ! ternyata udah nyampek duluan kalian," ucap mas Dion saat melihat ada Bayu dan Adam di dalam.


Indah tarik Inge agar duduk bersamanya.


"Dah, nggak usah basa basi, sebenarnya ada apa kalian pada kemari? barengan lagi!" Tanya Indah serius, matanya menatap mata para tamunya.


"Kayaknya Bayu dech yang pantas memulai, karena selebihnya hanya mendukung saja" jawab mas Dion, ekor matanya melirik Bayu sambil tersenyum.


"Begini, dik Indah! maap kalau kedatangan aku bikin kamu bertanya tanya" ucap Bayu, sikap dan raut mukanya mulai tegang.


"Sebenarnya...."


"Langsung aja kali pak Bayu! tonjok poin aja, kan lagi nggak ngomongin bisnis," Indah mulai nggak sabar, dengerin penjelasan Bayu yang muter muter.


"Menikahlah denganku dik Indah?" pinta Bayu dengan tegas.


"Walau aku tidak tahu kamu mencintaiku apa nggak, setidaknya setelah nikah kita bisa pacaran." jelas Bayu, mencoba merayu Indah agar bersedia.


Indah kaget dan membelalakkan matanya, tangannya menutup mulutnya yang terbuka.


"Jangan bercanda dengan kata nikah, pak Bayu!" sentak Indah tak suka.


"Jangan bercanda!!" pintanya lagi.


"Aku serius Ndah, aku mencintaimu sejak pandangan pertama kita, aku ingin menikah denganmu!" harap Bayu, dia mulai kehilangan cara untuk meyakinkan Indah.


Indah bingung, memandang wajah Bayu dan Dion dengan bergantian.


"Mas Dion! jangan bercanda! nikah bukan buat becandaan lo ya!" tegas Indah, matanya beralih ke arah kakak kandungnya, seakan minta kepastian bahwa yang terjadi adalah sebenarnya bukan pura pura.


"Yang becanda siapa sich, Dik?" tanya Dion, sambil menatap Indah tanpa senyum.


"Aku seriuus, Indah!" tegas Bayu.


"Aku nggak mau pacaran, aku ingin langsung nikah, usia kita bukan usia pacaran lagi bukan?" tambah Bayu, berharap Indah tidak menolaknya.


Apa yang harus aku jawab, batin Indah meragu.


Semua masih terdiam, menunggu jawaban Indah.


"Dik ... !" tegur mas Dion,


"Kami nunggu jawaban, jangan lama-lama mau magrib ini!" tambahnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2