
Ini jawaban atas segala keanehan sikap Selly selama ini, termasuk permintaan agar Indah tidak berhenti bekerja. Betapa beruntungnya Indah memiliki sahabat seperti Adam dan Selly.
Buuuuugggh ... !
"Aaaaaaakh!" Terdengar suara Selly dan Inge menjerit tertahan, Indah bangkit berdiri sesegera mungkin, dilihatnya Mas Dion yang marah sedang menghajar Adam, Inge dan Selly yang mencoba menahan Mas Dion tak mampu mengurangi pukulan ke arah Adam.
Indah berlari dan memeluk mas Dion yang sedang emosi tingkat dewa, "jangan Mas Dion, jangan pukul Adam lagi!" Indah memohon sambil terus menangis dalam pelukan Dion, sedangkan Selly dan Inge membantu Adam yang tampak sangat kesakitan menerima pukulan Dion tanpa membalas sekalipun.
"Sahabat macam apa kau! Beraninya pertaruhkan kebahagian Indah kepada seseorang bernama Bayu," Dion masih emosi dan ingin menghajar Adam lagi, namun karena pelukan Indah dirasa tambah kuat hingga tak leluasa untuk memukuli Adam.
"Mas Dion, tolong dengarkan aku, harusnya aku yang lebih sakit hati pada Adam dan Selly," ratap Indah, sambil memegang rahang Dion, memaksa mata Dion agar mau menatapnya.
"Benar mereka mengaku sahabatku, benar mereka tidak jujur kepadaku, tapi mereka juga mengkhawatirkanku, mas," jelas Indah, berharap emosi kakaknya bisa mereda.
"Tolonglah, mas Dion, jangan emosi, ini tempat umum, Mas sayang aku, kan?" Indah memeluk Dion dengan eratnya.
Dion membalas pelukan indah sambil memandang ke sekeliling, benar ucapan Indah, beberapa pengunjung dan dua orang Satpam sudah sedia di tempat itu. Sambil melihat ke arah dua Satpam, tangan Dion terangkat ke atas sambil mengisyaratkan bahwa kondisi aman.
"Jangan bikin kegaduhan di sini pak, ini peringatan pertama dan terakhir untuk anda," seorang Satpam mendekat dan berjabat tangan dengan Dion.
Tanpa melepas pelukan Indah, Dion menerima jabat tangan dari Satpam.
"Maaf, saya janji takkan mengulanginya lagi, tadi saya gelap mata, Pak," jelas Dion, saat sedang berjabat tangan dengan salah satu Satpam.
Satpam itu tersenyum sambil menganggukkan kepala, dan segera berlalu, orang yang tadinya mengelilingi kamipun beranjak kembali ke mejanya masing-masing.
Dion kembali memeluk Indah yang masih sesegukan menahan tangis, matanya menatap ke arah Adam yang mengaduh kesakitan dan sedang diobati Selly, kemudian beralih ke Inge, yang setelah mendapati tatapan Dion, langsung melangkah memeluk Indah dari arah belakang.
Dion melepaskan pelukan Indah, dan melangkah menuju Adam, Selly yang berada di dekat Adam, segera merentangkan kedua tangannya, mencegah Dion melakukan pemukulan ke Adam, yang sudah tak berdaya.
"Mas Dion!" Teriak Selly, sambil membelalakkan matanya.
__ADS_1
Dengan mudah tangan Selly ditepis Dion, melangkah mendekati Adam dan memeluk, ucapan maaf tak berhenti mengalir dari mulut Dion. Adam tersenyum sambil menyeringai kesakitan, kendati sakit, namun dibalasnya pelukan Dion.
"Maafkan aku juga, Mas Dion." Seketika semua yang menyaksikan tersenyum, mungkin hanya Indah yang tersenyum sambil menahan perih hati.
Teringat janji bertemu, Indah mengedarkan pandangan mata sembabnya ke sekeliling ruang resto, tapi tak dilihat orang yang berjanjikan datang menemui Indah.
'Apakah tadi dia sempat datang, atau memang belum datang?' batin Indah bertanya sendiri.
Diambilnya phone, dan mendeal nomor yang Indah mau.
Sudah tiga kali Indah ulangi hal yang sama, namun tidak ada nada sambung, yang ada hanya jawaban dari operator saja.
Dengan kecewa Indahpun memasukkan kembali phone kedalam tasnya, dan memutuskan untuk segera pulang.
Akhirnya mereka berlima sepakat meninggalkan resto, makanan yang sempat dipesan Mas Dion dan Ingepun minta untuk dibungkus saja.
Duasatu
"Kamu kuat, aku yakin itu," nasehat Inge, saat Dion mengantar kekasihnya itu pulang.
"Aku mencintaimu, Ing," kata Indah dengan mata berkaca-kaca, "kenapa kamu nggak nginap di rumah aja sekarang?"
"Dik ...!" Tegur Mas Dion, sambil menggelengkan kepala ke arah Indah, "aku pulang dulu ya Dik Inge, nanti pas nyampek rumah, aku call," tambah Dion sambil beralih menatap Inge.
Inge tersenyum sambil menganggukkan kepala menjawab ujaran Mas Dion. Dan mereka saling melambaikan tangan, saat mobil yang dikendarai Dion meninggalkan rumah Inge.
Dalam perjalanan pulang, antara Dion dan Indah saling diam, Dion sesekali melirik Indah yang termenung sambil memandangi arah luar jendela.
"Dik ...!" Panggil Dion sambil tetap fokus menyetir mobil. Mendapati panggilannya tanpa respon. Dion menghela nafas berat.
"Dik ...!" Panggilan yang kedua, dengan volume lebih keras daripada panggilan yang pertama.
__ADS_1
Sama. Tidak ada respon dari Indah, dengan tetap fokus pada jalan, Dion menggelengkan kepalanya berkali-kali, tidak tahu harus mengambil sikap apa dengan kondisi Indah yang drop batinnya.
Mobil sudah hampir sampai, namun ada sesuatu yang luput dari pandangan Dion, namun tidak dari mata Indah, saat ada sebuah mobil melintasi dari arah yang berlawanan hingga membuat duduk Indah langsung tegak, mata dan badannya mengikuti arah mobil melaju.
"Ada apa, Ndah?" Tanya Dion agak kaget dengan tingkah Indah yang aneh.
"Nggak, nggak ada apa-apa, Mas. Aku mungkin salah lihat aja." Dion menghela nafas mendengar jawaban Indah, rasanya seperti ada yang disembunyikan oleh Indah, namun mengingat kondisi batin Indah, Dion tidak berusaha untuk mengkoreknya lebih jauh.
Dion memarkirkan mobil di halaman depan rumah, dibiarkannya Indah melangkah masuk rumah lebih dulu.
"Assalamualaikum," terdengar Indah mengucapkan salam ketika melewati pintu rumah.
"Wa alaikumsalam," serempak jawaban salam Ayah dan Bunda, kelihatannya baru saja ada tamu, tampak dari beberapa cangkir dan toples kue yang masih ada di meja.
"Indah ..." Bunda berdiri dan langsung memeluknya.
"Hei ... Bunda menangis? Kenapa, ada apa?" Tanya Indah, walau dalam hatinya sudah menerka-nerka yang terjadi, namun dia tidak berani memastikannya sendiri. Dilihatnya Ayah menundukkan kepalanya tanpa mengubah posisi duduknya.
"Ada apa, Bund? Kenapa Bunda menangis?" Dion yang baru saja masuk rumah, tidak sabar bertanya apa yang menyebabkan Bundanya menangis.
"Duduklaah dulu, kalian baru saja datang, belum juga salim, sudah tegang begitu," jawab Ayah mencoba mencairkan suasana, sambil tersenyum ke arah Indah dan Dion.
Dion dan Indah kemudian salim tangan Ayah dan Bunda secara bergantian, Bunda menarik tangan Indah, menyuruh duduk di sampingnya.
"Dik ... Bagaimana dengan hubunganmu dengan Bayu? Sudah komunikasi hari ini?" Tanya Ayah sambil memandangi wajah Indah.
Indah yang juga memandangi wajah Ayahnya tampak kaget, karena mata tua itu sembab dan merah.
"Aku tadi sudah menelponnya, kami janjian di resto depan kantor." Dion kaget mendengar jawaban adiknya, tidak menyangka kalau tadi Indah dan Bayu ada janji bertemu di resto.
"Tapi Mas Bayu tidak datang, atau mungkin datang tapi tidak mau bertemu denganku," lanjut Indah, sambil melirik ke Dion yang diam sambil memperhatikan arah pembicaran.
__ADS_1
"Tapi .... " Indah ragu melanjutkan ucapannya, dia pandangi wajah ayah dan bunda yang sedang menatapnya pula.
"Tapi?" Sarkas Dion tidak sabar menunggu kelanjutan dari perkataan Indah.