Indah

Indah
Indah 20


__ADS_3

Dengan duduk bersila, di teguknya beberapa kali kopi yang sudah mulai menghangat,air matanya sudah berhenti mengalir, namun hatinya masih sakit.


Satu jam sudah terlewati, Indah masih berada dalam posisi yang sama, hanya saja mug yang tadi penuh isi kopi, kini telah kosong.


Toook! ... toook!


"Assalamualaikum!"


"Indah! Kau di dalam? Buka pintunya, Mas mau bicara!"


Indah yang hafal dengan suara di balik pintu, bangkit tanpa mengambil jilbab dan segera membuka pintu kamar.


"Wa alaikum salam, Mas!"


Tampak Dion berdiri di pintu, sendirian.


"Mas boleh masuk, Ndah?"


Dengan tersenyum, Indah mengambil tangan kanan Dion, membawa ke hidungnya, lalu memberikan dahinya ke arah Dion untuk dicium, dipeluknya kakak lelakinya sambil terisak pelan.


Dion menutup pintu kamar, dan membawa Indah yang masih terisak dipelukannya untuk duduk di kursi.


"Sudahlaaah ... Mas tahu kok apa yang sudah terjadi?!" ucap Dion


Dion tersenyum sambil mengambil mug bekas kopi Indah, dan memberikan isyarat kalo dia mau kopi.


Indah bangkit berdiri, mengambil termos dan menuangkan isinya ke dalam mug, lalu memberikannya ke Dion.


"Inge yang ngasih tahu aku," ujar Dion setelah sedikit menyesap kopi.


"Jadi setelah kita antar dia pulang ke rumahnya, ternyata dia menghubungi rumah indekostmu, katanya sih waktu itu yang nerima namanya Lely, terus Inge minta tolong kalau suatu saat kamu datang balik ke indekost, agar segera menghubungi Inge," jelas Dion sambil menatap Indah.


"Tapi ternyata, Lely khawatir juga denganmu, benar dia menghubungi Inge, tapi dia juga yang mengikutimu sampai ke sini, dan memastikan kamu aman,"  lanjut Dion yang mengambil posisi duduk di depan Indah.


"Kamu harusnya bersyukur, Dik. Banyak temanmu yang mengasihi dan menyayangimu."


"Ya Allah ... Aku tak pernah menyangka mereka sangat menyayangiku, Mas," lirih suara Indah, "tapi yang kusayangi tidak menyayangiku."


"Sudahlaah ... kamu mau kan kuajak pulang malam ini?" tanya Dion sambil menegak habis kopi.


"Besok kita berdua akan menikah bersama, kamu nggak mungkin bikin malu Ayah dan Bunda kan?" Tambah Dion mengingatkan Indah.


"Iya, Mas. Kita pulang sekarang." setuju Indah, bergegas mengambil ransel yang sudah dari tadi siap untuk dibawa pulang.


'Aku harus ikhlas dengan semua ini, harus!' batin Indah sambil melangkah keluar dari kamar.


Tas ransel yang semula ada di bahunya diambil alih Dion.


Selesai mengurus semuanya, Dion dan Indah melangkah keluar resort, menuju ke parkiran mobil.


Selama perjalanan, antara Dion dan Indah sama-sama diam, seakan memberikan waktu pada pikiran-pikirannya sendiri untuk berdialog.

__ADS_1


Setibanya di rumah, Indah hanya bisa melongo melihat rumahnya sudah disulap sedemikian cantik, dan luar biasa. Sanak saudara pun banyak yang berdatangan, suasana rumah yang semula senyap menjadi hingar bingar.


Suasana hangat pun terasa waktu Indah dan Dion masuk rumah.


Serasa seperti sedang merayakan lebaran, semua berkumpul, saling ledek, ada yang baper. Lain lagi dengan yang masih di bawah umur, saling kejar, rebutan, Indah sejenak bisa melupakan kesedihan hatinya.


Setelah menyapa dan salim sungkem dengan keluarga  lebih tua, Indah yang bergegas mau masuk kamar terhenti karena panggilan Bunda, mengisyaratkan agar dirinya masuk ke kamar Bunda.


Ditutupnya kembali pintu kamar Bunda, dilihat dan dihampirinya Bunda yang duduk di tepi ranjang menunggu dirinya.


Setelah puas memeluk, Indah disuruh duduk dekat samping Bunda.


"Besok kamu akan jadi milik orang, tak ada kewajiban  seorang putri kepada orang tuanya setelah menikah,"


"Orang yang wajib kau patuhi adalah suamimu, bukan Bunda dan Ayah lagi, tapi itu bila di jalan Allah!" tekan Bundanya.


"Sanggup atau tidak, jelek atau bagus, puas atau menyebalkan antara kamu dan suamimu nanti, tak usah kau bicarakan dengan orang lain, cukup kau, suamimu dan Allah yang tahu."


Bunda terus menasehati Indah, yang hanya bisa terdiam sambil memandangi wajah orang yang melahirkannya itu, bukan tidak perduli dengan yang dipesankan , tapi karena perasaan sedih harus berpisah dengan orang yang dicintainya.


Masih bisakah bercerita seperti ini, setelah dia menikah dengan Bayu nanti.


Dipeluknya lagi Bunda dengan eratnya, sambil terisak.


Bunda langsung terdiam, sambil membalas pelukan Indah, matanya pun berkaca-kaca. Rasanya baru kemarin putri bungsunya masih bermanja-manja, dan sekarang akan menjadi milik orang.


"Semoga kamu bahagia, Nak! Semoga suamimu bisa menjadi imam yang baik, yang bisa membawamu ke surga."


jawab Indah bersama Bunda.


"Sekarang, kamu istirahat, besok sebelum subuh kamu harus sudah bangun, biar kelihatan seger, ayo tidur!"


"Bunda, bolehkah aku tidur di sini malam ini, aku masih ingin dipeluk Bunda, boleh ya ...?" pinta Indah sambil merengek layaknya anak kecil.


Bunda tersenyum sambil mengiyakan permintaan putri bungsunya.


****


Tiba harinya.


Sebelum subuh, semua sudah terbangun.


Ya ... kecuali para bocah.


Indah baru saja melangkah masuk ke kamar pribadinya, setelah semalam dikeloni Bunda


'Wooow ... indahnya kamarku, apalagi nuansa warna biru' batin Indah sambil tersenyum sumringah mendapati kondisi kamarnya sesuai dengan impiannya.


Sejenak, senyumnya kembali menghilang, teringat lagi dengan siapa dia akan menikah. Apalagi demi mendengar perkataan Diky kemarin.


Aaah ... pupus sudah angan mendapatkan keajaiban doa.

__ADS_1


Tooook! ... tooooook!


"Mbak, orang salonnya 'dah datang 'nih!"


"Iya, masuk aja, nggak dikunci kok," balas Indah.


"Looh, mbaknya masih mau ngapain kok bawa handuk?" sambil menutup pintu kamar, seorang wanita paruh baya berkerudung lebar bertanya.


"Mau mandi dulu Tante, biar segeeer"


"Jangan mandi, ambil wudhu' aja ya, biar nggak keringetan nanti kalo habis dandan,"


"Ooo ... iya Nte, ambil wudhu' aja," jawab Indah sambil terbata,


'mana bisa sehari tanpa mandi, mending mandi aja ... ah," batin Indah, sambil meneruskan masuk kamar mandi yang ada di dalam kamar.


"Riasnya nunggu habis sholat subuh ya Tante," ujar Indah, begitu selesai dari kamar mandi.


"Iya, sayang," jawab Ibu tersebut.


"Kamu sering nangis ya? Matamu tidak cerah, kalo pakek soflens mau nggak, biar keliatan lebih seger," usul Tante rias sambil merapikan tatanan rias di wajah Indah.


"Saya pasrah deh, Tante," jawab Indah, sambil memejamkan mata saat dipasangkan bulu mata palsu.


10 menit ....


30 menit ....


1 jam ....


"Sekarang siap!" Teriak pelan si Tante rias.


"Liat di cermin, apakah kamu puas dengan kerjaku, aku harap iya," ujar si Tante tersenyum lebar.


Indah yang dari awal sudah tak ada hasrat, menuruti permintaan Tante rias.


"Luuuk ..., ini akukah, kok gaunnya warnanya putih, bukankah kemarin warnanya kuning ya?" Terkaget, karena dari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Aku nggak tahu sayang, aku cuma bagian rias wajah pengantin dan memakaikan perlengkapan pengantinnya, emangnya ini keliru? Kalau keliru, biar aku hubungi aja butiknya."


Tanpa menunggu jawaban dari Indah, Tante langsung menghubungi seseorang, sambil melangkah menjauh, mungkin agar tidak terdengar Indah.


Di sinilah sekarang, sebelum melangkah ke pelaminannya sendiri, Indah menghampiri Inge dan memeluknya.


Tak ada kata-kata terucap, hanya pandangan mata saja yang bicara.


Indah duduk di pelaminan ditemani bunda.


Sedangkan di pelaminan yang satunya, berada di sebelah barat, duduk Inge ditemani mamanya pula.


Tamu undangan hanya para wanita, sedangkan undangan para pria masih berada di mesjid Jami', tempat mempelai pria melakukan akad dengan pihak orang tua laki mempelai wanita.

__ADS_1


__ADS_2