Indah

Indah
Indah 5


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Indah, setelah mereka dekat.


"Apa maksud lo, dengan mengirimkan ini ke gue, gue nggak ngerasa tuch pernah ngirimin surat ke lo!" tuduh Setyo.


"Terus kenapa di surat ini ada nama lo?" tanya Indah dengan tenangnya, sembari memberikan surat yang pernah dikasihkan Dina ke Indah.


"Ini memang surat gue, tapi bukan buat lo!, ini buat Dina!, kepedean banget lo kalau lo pikir gue mau ke lo!" jejel Setyo melepaskan senyuman sinis penuh racun, setelah membaca surat dari tangan Indah.


"Kalau gitu, lo tanya ma si Dina pujaan lo itu, begitu nggak berharganya lo, surat yang lo kasih malah dia kasih ke gue?"


radang Indah, menatap tajam manik mata Diky, hingga tanpa disadarinya, matanya mulai berkaca.


"Kasihan banget dech, lo!" ucap Indah, dengan emosi yang tertahan.


"Makan tuch surat, lo! makasih atas php-nya!" bergegas pergi ninggalin Diky yang memandangnya dengan raut muka yang tak bisa dijelaskan artinya.


Flash off.


****


Drrt ... drrrt.


"Maap, pak, saya permisi jawab phone saya" ucap Indah sambil melirik Diky di sampingnya.


"Iya!" jawab Diky pendek sembari kembali menyalakan mobil, melanjutkan perjalanan kembali ke kantor.


"Assalamualaikum, Ayah, sehat?" sapa Indah menjawab phonenya.


" _-_-_-_-_-_"


" Insya Allah, Ayah, aku pulang, salam sungkem buat Bunda"


"_-___--_-_-_-"


"Baik, Ayah, wa’alaikumsalam"


Indah segera menyimpan phonenya kembali kedalam tasnya.


Tanpa Indah rasa, ternyata mereka sudah sampai di parkiran kantor.


"Indah!" panggil Diky "maukah kau memulai segalanya lagi dari awal? please!" pintanya sembari menatap Indah sejenak, kemudian membuka pintu mobil, dan meninggalkan Indah yang terpaku di dalam mobil.


Indah yang terhenyak mendengar ucapan Diky sempat blang pikirannya. Namun segera sadar dan langsung membuka pintu mobil dan mengikuti arah Diky melangkah.


Dalam pikirannya berkecamuk tentang apa yang baru saja dikatakan si Bosnya.


****

__ADS_1


Cekreek!


"Assalamualaikum! halooo every body! yang no body tidak halooo ya!" teriak Indah, begitu kakinya sampai di ruangan tengah rumahnya.


Ayah dan bunda Indah yang sedang menonton televisi, langsung menoleh dan tersenyum begitu mendapatkan putri mereka sudah datang.


"Gimana perjalanannya tadi, Ndah?" tanya Ayah Indah setelah memeluk dan mencium kening putrinya.


"Alhamdulilllah, Ayah, lancar dan lamaaaa bingit!" jawab Indah, beralih berpelukan dengan Bundanya.


Tersenyum, Ayah dan Bunda mendengar jawaban putri mereka.


Dalam keluarga, Indah merupakan sosok yang hangat dan cerewet, tapi hanya di kalangan keluarga. Kalau di luar, Indah, akan tampil dengan mode tenang, dan berkharisma.


"Mana Mas Dion, Bunda?" tanya Indah melangkah ke kulkas, mengambil sebotol air bening dingin, menuangkannya ke dalam gelas dan langsung meminumnya habis.


"Masmu belum pulang dari kerja, lagi sibuk banget kayaknya, sampek lupa pulang," jawab Bunda sedih, Dion kakak Indah, mereka berdua bersaudara.


Dion sibuk bekerja menggantikan posisi Ayah mereka yang memilih pensiun, keluarga Indah memang memiliki beberapa apotik dan pom bensin.


Alhamdulilllah.


"Ayo! makan dulu, Ndaaah! bunda temani!" ajak Bunda yang sudah duduk di meja makan.


"Ayah nggak?" tanya Indah menatap ke arah Ayahnya.


"Kalo sudah makan nanti langsung ke ruangan ayah, ada yang perlu ayah bicarakan denganmu!" tambah Ayah Indah, dan melanjutkan langkah ke ruangan kerja di lantai dua.


Setelah bayangan Ayahnya menghilang, Indah menatap Bunda dengan bingung.


"Ada apa sebenarnya, Bunda?" tanya Indah, menatap manik Bundanya seakan mencari kebenaran di manik itu.


"Makanlah dulu, abis itu langsung temui Ayahmu!" jawab Bundanya tanpa menoleh ke arah Indah. Tangan Bunda sibuk mencari pengalihan atas jawaban Indah.


****


Tok! tok!.


"Assalamualaikum, Ayah, boleh masuk sekarang?" tanya Indah, begitu menutup pintu ruangan kerja Ayahnya.


"Duduk dulu, Nak!" jawab Ayah Indah, matanya tak lepas memandangi putri semata wayangnya itu.


Putri kecilnya telah tumbuh dewasa, cantik dan alhamdulillah sholehah.


"Ayah ... ada apa?" tanya Indah dengan khawatir melihat Ayahnya termenung sambil terus menatap Indah.


"Umurmu berapa sekarang, Nak?" tanya Ayah tanpa mengubah tatapannya pada Indah.

__ADS_1


"Dua puluh lima bulan depan, Ayah," jawab Indah, entah kenapa perasaan Indah langsung berubah, "ah pasti itu!"


"Sudah punya calon imam?"


Kan! ... kan!


"Aku nggak suka mencari imam ayah, aku khawatir makmumnya banyak," elak Indah mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa pengab.


"Kwawa ... !" Ayah langsung terbahak mendengar jawaban putrinya.


"Ada-ada saja kamu, nak!" jawab Ayah Indah, setelah mereda ketawanya, Indah senang ayahnya tertawa.


Ayahnya berdiri dan melangkah ke arah putrinya, mengelus pelan kepala putrinya.


"Ayah dan Bunda ingin melihat kamu nikah, Nak! Sudahkah kau punya pilihan hati? atau ... apa harus ayah yang carikan buatmu?" tanya Ayah Indah, dengan suara tenang tapi terdengar seperti letusan nuklir di telinga Indah.


"Ayah! jangan terus memaksa, tak akan jatuh sehelai daun tanpa ijin Allah, bukankah jodoh, rejeki, dan mati adalah janji Allah yang pasti, ditulis saat kita berumur empat bulan di dalam kandungan," ujar Indah, tanpa maksud menggurui Ayahnya.


"Nanti malam ikut makan malam di luar, tidak ada alasan buat menolak Indah!" perintah Ayah. Tanpa menunggu jawaban dari Indah, Ayah langsung melangkah ke luar dari ruangan.


"Mmm ...!" dengus Indah, melangkah keluar mengikuti langkah Ayahnya, kemudian berbelok arah menuju pintu kamarnya, dan langsung menghempaskan badannya ke arah kasur tercintanya dan memulai ritual tidur whooooam.


"Ndaaah! bangun sholat ashar dulu! waktunya mau hampir habis nich!" suara Bunda sesaat, setelah sebelumnya menepuk nepuk pipi anak perawannya itu. Dan langsung meninggalkan kamar begitu melihat Indah melakukan perenggangan ototnya sekejap.


"Iya, Bunda!" jawab Indah sambil mengucek mata dan menstabilkan matanya dengan cahaya kamar.


Bangun! mandi! dan sholat!.


Skip.


"Bundaaa! ada yg bisa kubantukah?" tanyaku sembari turun dari tangga, dan langsung menuju ke arah dapur, tempat Bunda kelihatan sibuk memasak.


"Jeleeeeek!, kapan datang?" sesosok manusia tampan, berpenampilan bossy, terkekeh begitu melihat Indah bersama Bundanya di dapur.


"Kamu itu yang jelek, Mas! aku nggak!" balas Indah sembari menyambut tangan kakaknya, diciumnya punggung tangan kakaknya, dan memberikan keningnya dicium Dion.


Terkekeh Dion mendengar jawaban adiknya, sambil mengelus pelan kepala Indah.


Dion sangat menyayangi adik semata wayangnya, walaupun cara mengungkapkan rasa sayangnya lebih sering dengan menggoda, tapi itu sungguh hanya untuk menujukkan perhatiannya saja.


"Adek nanti pasti ikut kan, Bunda?" tanya Dion pelan ke arah Bundanya, saat Indah berada jauh dari tempat Dion.


"Iya, insya Allah, tadi sudah diomongin ma Ayah kok, Mas," jawab Bunda Indah.


"Berikan kelancaran ... dan tanpa penolakan, ya Allah ...." Doa Bunda sambil memejamkan matanya.


"Amin, Allahumma amin," jawab Dion, sembari duduk dan merangkul Bunda dari samping.

__ADS_1


__ADS_2