Indah

Indah
Indah 19


__ADS_3

"Kau tahu, Ndah, apa yang beliau lakukan di rumah Selly?"


Indah hanya berani menggeleng-gelengkan  kepala sambil memandangi wajah Bayu, karena sudah berulang kali ditegur Bayu untuk tidak mengeluarkan suara.


"Kamu mau tau tidak, apa yang Mama lakukan di rumah Selly?" tanya Bayu penasaran karena menganggap Indah tak merespon.


Indah kembali menggerakkan kepalanya, kali ini dengan mengangguk-anggukkan saja, namun sial, lagi-lagi Bayu tidak melihat gerakan kepala Indah. Hingga Indah terpaksa mencubit lengan Bayu agar mau menoleh ke arahnya dan tahu jawaban tanpa harus mengeluarkan suara.


"Hei ... hoby sekali kau menyentuh lenganku, aku yakin kau sekarang sudah mulai jatuh cinta kan?" Ujar Bayu percaya diri sambil tersenyum nakal.


"Aku 'dah berusaha 'tuk 'tak mengeluarkan suara, makanya dari tadi aku jawab pertanyaanmu dengan gerakan kepala, malah kamu yang tak melihatku, makanya aku jawil kamu, laah ..., malah dibilang hobi," cecar Indah sedikit ketus.


"Nanti kau ngambek lagi kalau aku bersuara, bisa-bisa dapat sp tiga, kamu kan orangnya kejam." Bayu terbahak mendengar jawaban Indah yang disertai dengan memonyongkan mulutnya. Tangan Bayu mengelus jilbab Indah pelan.


'Sempurna Allah ciptakan kamu, Ndah!' batin Bayu sambil mengalihkan pandangannya lagi ke laut.


"Katakan sekarang, apa yang Mama kamu lakukan di rumah Selly," Indah yang penasaran langsung menodong Bayu untuk melanjutkan ceritanya.


"Beliau melamar Selly, Ndah!" Jawab Bayu.


"Sungguh! Untuk kamukah?" tanya Indah dengan ekspresi yang membingungkan untuk di gambarkan.


"Menurutmu?" gantung  Bayu sambil menatap ke laut.


"Ayolaah ... mana aku tahu," jawab Indah, mencubit gemas lengan Bayu.


"Diiih ... calon mempelai wanita, ternyata kau sudah  ketagihan menyentuhku, ya? Atau adakah mungkin kamu takut kehilangan aku, Ndah?"


Bayu tak henti menggoda Indah yang sudah menyemburatkan blushing di pipi.


"Jawablah, Mas Bayu, jangan mengalihkan perhatian gitu dong," gemes Indah karena Bayu seperti sengaja membuatnya penasaran.


"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, jawablaah dulu tentang kita," Bayu merubah posisi duduknya hingga menghadap ke arah Indah.


"Aku tahu awalnya kau tak mencintaiku, eh bukan ..., menyukaiku saja mungkin tidak. Nah sekarang ceritakan tentang perasaanmu padaku," pinta Bayu lekat memandangi wajah Indah.


"Harus jujurkan, janji apapun nanti nggak bakalan ada cakar-cakarankan?" balik tanya Indah, khawatir.


"Tenang aja, nggak bakalan ada perang dunia dech pokoknya," Bayu menenangkan Indah.


"Mmm ...."


"Kamu lagi nyanyi lagunya Nisa Sabyan, Ndah?" Tegur Bayu, membuat konsentrasi Indah langsung mencar.


Karena gemas dicubitnya perut Bayu beberapa kali sambil mencebik. Bayu yang diserang Indah ketawa ngakak banget sambil memegangi perutnya, hingga hampir kejengkang.

__ADS_1


"Ndah, ampun ..., sudah ah!" Perintah Bayu disela ketawanya.


"Makanya jangan suka goda, bikin aku nggak fokus,"


"Iya ... maaf, habisnya pakek acara mmm barang, ngapain juga ayo?"


"Lagian kamu hari ini kenapa aneh? Biasanya kamu tuch nggak jauh dari yang sok jaim, jokerface, anti kotor laaah, kenapa sekarang bisa segila ini," tegur Indah sambil mencoba meraih dahi Bayu, namun ditepis sambil tertawa.


"Kan mau ketemu ma calon mempelai wanita," jawab Bayu dengan mata genitnya.


"Diiiih ..., mulai rayuan recehnya keluar,"


"Ayooo ... cepat jawab, gimana perasaanmu ke aku,"  tegur Bayu, mulai tak sabar.


Hening sejenak.


"Maaf, Mas Bayu, aku belum mencintaimu, hingga saat ini," pelan ucapan Indah, namun Bayu masih bisa mendengar suara itu.


"Aku mencintai orang lain, orang yang pernah membuatku membencinya, tapi malah sekarang jadi alasan untuk mencintainya dengan sangat," tambah Indah.


Ditundukkan mukanya ke pasir karena tak sanggup melihat kekecewaan di wajah Bayu, namun inilah hal penting yang harus Indah katakan dari awal, agar tidak ada duri nantinya.


"Lalu ..., Bagaimana menurutmu rencana pernikahan kita ini," tanya Bayu.


"Aku tidak ta_,"


"Ya ..., Kau mengenalnya, dia teman SMP. Juga bos ditempat aku kerja,"


"Diky!" Pelan namun tegas Bayu menyebutkan nama orang yang Indah maksud.


"Apa dia menyintaimu juga,"


Tanya Bayu.


"Tidak ..., Aku tidak mencintai Indah," jawab seseorang dari arah belakang Indah.


Serentak bagai dikomando, Indah dan Bayu menoleh ke arah suara tadi, tampak Setyo melangkah mendekat.


Indah kaget nggak nyangka ada Setyo di belakangnya.


"Sejak kapan kamu ada di belakang, Set,"


"Sejak kau diberi kue ultah sama Bayu," jawab Setyo sambil tersenyum.


"Tepatnya sich kami datang berdua ke sini," tegas Setyo.

__ADS_1


Seketika Indah menundukkan kepala, tak berani menatap, tak bisa terbayangkan bagaimana perasaan Setyo melihat dia bercanda tadi dengan Bayu.


'duh mau taruh mana nich muka' batin Indah malu.


"Kenapa, Ndah, kok jadi salting gitu?" tanya Bayu yang dari tadi merhatiin Indah dan Setyo.


"Haaaah kamu malu ke Setyo ya, Ndah. Kamu beneran cinta ma dia?" Goda Bayu melihat Indah tak berkutik di depan Setyo.


"Sayangnya ..., aku tidak mencintainya," tegas Setyo.


Indah yang mendengar dua kali pernyataan Setyo yang tidak mencintainya, tanpa disadari air matanya jatuh, perih rasanya hati, tenyata dia tertipu yang kedua kali dengan orang yang sama, dan masalah yang sama, itu amat menyakitkan.


"Beneran nich, kamu nggak cinta ma Indah. Ikhlaskan kalau dia jadi pengantin perempuan buatku besok?" Tanya Bayu sambil menatap Setyo.


"Kalian jahad, kalian pikir aku barang yang bisa seenaknya dioper bila kalian nggak suka," ucap Indah, sambil bergegas berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Bayu dan Setyo yang masih terhenyak.


"Eh ...!"


Segera Setyo melangkah berlari mengejar Indah disertai tawa berderai Bayu sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Hai ..., Ndah!" teriak Setyo, yang sudah berhasil merebut tangan Indah, namun disentak Indah hingga genggaman tangan itu lepas kembali.


"Jangan mengejarku, aku sudah tak mau melihatmu lagi," ucap Indah tanpa melihat malah melanjutkan langkahnya kembali ke resort tempat dia menginap.


Setyo tak perduli apa yang dikatakan Indah, kembali mengejar, malah kini berdiri menghalangi langkah Indah.


"Kamu mau apalagi, aku sudah tidak perduli dengan apa yang akan kau katakan," tegas Indah, mencoba menyingkirkan Setyo dari hadapannya.


"Aku akan pergi dari hadapanmu setelah kamu dengarkan apa yang akan kukatakan,"


"Tidak usah, sudah tak penting," isakkan Indah mulai terdengar halus dan pelan.


Setyo akhirnya melepaskan Indah karena sudah tak tahan dengan isakkan yang didengarnya.


Dengan memegangi tengkuk leher bagian belakangnya, Dipandanginya punggung Indah yang melangkah menjauh sambil membawa rasa kecewa, dan itu disebabkan oleh diri seorang Setyo, menyesal.


Dengan langkah lunglai, Indah melangkah memasuki pintu kamarnya, ah ..., tidak ada lagi harapan yang tersisa di hati, tak akan ada keajaiban lagi, semua terasa begitu menyesakkan, menyakitkan.


'aku mulai benci hidup ini, serasa berat penuh beban apalagi sakiiit di bagian hati' batin Indah, matanya tak henti mengeluarkan air mata walau bibirnya tak mengeluarkan suara.


Langsung menutup pintu dan menguncinya lagi, memasukkan baju dan semua pernak-pernik yang dia punya ke dalam tas ransel.


Siap untuk pulang, hanya perlu menunggu waktu.


Menuangkan kopi dari termos yang memang sengaja dipesannya dari resort, membuka jendela namun membiarkan tirainya dengan alasan orang tak bisa melihatnya dari luar jendela.

__ADS_1


"Aah, ... Sudahlaaah!" Sentaknya sambil membuka jilbab dan melemparnya ke kasur.


__ADS_2