Indah

Indah
Indah 17


__ADS_3

"Tapi ... aku barusan melihat mobilnya bersisian arah dengan mobil Mas Dion, apa baru saja Mas Bayu dari sini?" Dion kaget lagi mendengar pertanyaan Indah, benar firasatnya ada yang Indah sembunyikan saat di mobil.


"Kenapa kamu nggak jujur pada Mas, Dik?" Tanya Dion dengan gusarnya hingga tanpa sadar berdiri dari duduknya, matanya menatap Indah yang merapatkan badan ke Bunda saat mendengar Dion bertanya.


"Dion ... Duduklah, tidak usah sampai sekeras itu nadamu," tegur Ayah, sambil memandang mas Dion.


Terlihat raut wajah marah pada muka Dion, Indah tidak berani mengeluarkan suara, karena takut Mas Dion bertambah marah.


"Tidak ada yang berubah, kalian akan tetap menikah, dalam hari yang sama," tegas Ayah sambil menundukkan kepalanya.


"Tapi, Ayah ...!" Teriak Indah dan Dion hampir bersamaan.


"Apa kalian sudah berani menantang Ayah dan Bunda?" Tanya Ayah dengan mata memerah, memandangi wajah-wajah anaknya.


"Tidak, Ayah, aku tidak berani," jawab Indah yang menangis sambil memeluk undanya erat.


Dion langsung berdiri dan berlalu dengan rasa kecewa yang teramat.


"Yon ... Ayah belum selesai bicara!" Teriak Ayah, namun tidak diperdulikan Dion, ia tetap melangkah menuju kamarnya.


Terdengar di telinga, suara tarikan nafas Ayah yang berat.


"Bun ... anterin Indah masuk ke kamarnya juga, kasihan dia pasti lelah," suruh Ayah ke Bunda.


"Besok kita diskusikan lagi," sambung Ayah, yang hanya dibalas oleh anggukan Bunda.


Malam sudah larut.


Indah pandangi langit malam dari balkon kamarnya, diseruputnya kopi yang tadi sengaja dia bikin 'tuk temeni mata yang tak kunjung ngantuk.


'Apa yang harus kulakukan, aku tak mungkin menikah dengan Mas Bayu.' Indah menghela nafas sambil menatap lampu kota yang indah.


"Tapi tak seindah aku," lirih desahan Indah sambil mengelus mug kopi, mencoba menyalurkan rasa panas ke dalam hati dan raganya yang sedang kedinginan.


'Bismillah, aku pasti bisa," desahnya lagi, sambil bergegas ke kamar mandi, disaat sedang gundah, Allah tempat menyandar terbaik bukan?


Serasa ada yang menggiring 'tuk melakukannya, setelah selesai sholat malam, Indah mengendap-endap keluar kamar, sambil berjalan pelan menahan berat badannya agar 'tak menimbulkan suara sekecilpun.


"Alhamdulillah," ucap Indah saat dirinya telah duduk manis di taxi yang sudah dipesannya secara online tadi.

__ADS_1


"Bang, tolong ke alamat ini ya!" pintaku ke Abang sopir taksi.


"Baik, Bu," jawab si Sopir taksi.


Indah matikan phonenya, mencegah tak ada yang mengganggunya sementara.


Matanya menatap kedepan, namun pikirannya sibuk menyusun rencana apa yang akan dilakukannya hari ini.


'Ya, Allah berikan ridhomu untukku' doa Indah dalam hati.


Terdengar adzan Subuh berkumandang, bersamaan dengan berhentinya taxi yang Indah tumpangi di depan rumah indekost.


"Pak, tunggu sebentar ya, saya ambil barang, kemudian lanjut lagi," pesan Indah sambil keluar dari taxi.


"Assalamualaikum ...." ucap Indah setelah sebelumnya mencoba mengetuk pintu. Lama tak ada respon dari dalam rumah.


"Assalamualaikum ...!"


Toook! Toook! Toooook!


"Iya sebentar, masih jalan ini kok," jawab seseorang dari dalam rumah, Indah menebak suara itu pasti Mbak Lely, teman terdewasa diantara teman kost yang lain.


"Indah, kamu ngapain subuh-subuh gini sudah keliaran di luar?" Tanya Mbak Lely kaget, sambil melihat Indah dari atas ke bawah.


"Nggak ada apa-apa, M MBbak Lel," jawab Indah langsung melesat ke dalam kamar, mengambil ransel dan memasukkan baju dan perlengkapan lainnya yang Indah anggap penting untuk dibawa.


Lely yang masih merasa aneh dengan sikap Indah mengikutinya sampai ke dalam kamar, menyaksikan Indah yang tergesa packing barang.


"Dompet 'ma atm, 'ma kartu yang lain nggak kamu bawa, Dik?" Tanya Lely mengingatkan.


"Iya, Mbak Lel makasih 'dah ingetin," langsung memasukkan barang yang diingetin Mbak Lely, biar nggak kelupaan.


"Kamu mau kemana, Ndah?" Susi yang tiba-tiba sudah ada di dalam kamar langsung bertanya ke Indah.


"Aku ada urusan penting, tolong bantu aku, jangan katakan apapun pada keluargaku, ok!" pinta Indah sambil menatap wajah Mbak Selly dan Susi, yang kemudian dipeluknya bergantian.


"Maaf, aku harus cepat-cepat, assalamualaikum." Pamit Indah.


"Wa alaikum salam, hati-hati jaga diri, kalau ada apa-apa, nelpon Ndah!" Jawab kedua temannya, sambil mengikuti Indah hingga pintu pagar.

__ADS_1


Dengan menbawa ransel yang kelihatan lumayan berat, Indah masuk ke dalam taxi yang masih berhenti menunggunya dan segera berlalu dari rumah indekost.


Disinilah sekarang Indah berada, di kamar sebuah resort pinggir pantai.


Satu kamar dengan posisi yang teraman nyaman, hanya dengan membuka jendela kamar, maka akatampak jelas hamparan  pantai yang luas nan biru. Indah suka laut, luas tak berbatas, serasa dapat menghanyutkan semua masalah di kepala.


Walau hanya sementara, setidaknya bisa mendinginkan hati.


Ting tong!


"Iya! Tunggu sebentar." Bergegas Indah menyambar jilbab instan, dan mengenakannya, sambil berjalan ke arah pintu, Indah membenahi jilbabnya, hingga dirasa sudah pas, dibukanya pintu, seorang pelayan resort membawakan makanan dan minuman yang sempat Indah pesan tadi, dengan menggunakan meja dorong.


"Maaf, mengganggu, ini pesanan Ibu tadi," ucap si pelayan sambil meletakkan meja dorong berisi makanan ke dalam kamar.


"Selamat menikmati, saya harap berkenan di hati." tambahnya dengan tangan ditelungkupkan di dada.


Setelah memberikan uang tip dengan dibalas ucapan terimakasih, pelayan itupun segera berlalu dengan menutup kembali pintu kamar.


Indah buka lagi jilbabnya, dan membiarkan rambutnya tergerai, kembali menikmati pemandangan laut melalui jendela yang terbuka namun tertutup tirai, sambil duduk bersila di kursi, diambilnya secangkir kopi, diletakkan di meja samping kursi yang didudukinya, tangannya bersedekap, hanya matanya saja yang mulai bercerita pada laut.


Sudah dua hari Indah di resort, besok adalah hari pernikahannya, phonenya pun masih dalam kondisi off, Indah masih betah berada di balik jendela dengan pemandangan laut yang selalu romantis dengan debur dan ombaknya.


'Aku akan pulang Bunda' batin Indah, serasa menjawab panggilan Bunda di telinganya.


Indah bangkit dari duduknya, mengambil dompet dan mengenakan jilbab seadanya, dan segera keluar dari kamar tanpa beralaskan kaki, menuju pantai.


Hangat rasanya saat kaki nya menyentuh pasir pantai sore ini, serasa mengantarkan kehangatan ke dalam lubuk hatinya.


'Indahnya sore ini, sayang sekali, aku harus pulang dan mulai lagi dengan kenyataan yang menyakitkan," batin Indah sampai tak terasa air matanya mulai mengalir lagi.


Indah tak perduli walaupun beberapa orang yang lewat memandanginya dan menjadikannya tontonan.


Pandangannya fokus ke laut, seakan-akan ingin ikut masuk ke dalam, melupakan kesedihan yang dialami.


Brukh ...!


Tiba-tiba saja ada seseorang yang menutup mata Indah dari arah belakang, sekejap Indah terkaget hingga terhenyak tanpa bisa  mengeluarkan  sepatah kata.


Saat ingatannya tersadar,  tangan sudah terikat, dan mata juga mulut ditutup kain.

__ADS_1


__ADS_2