Indah

Indah
Indah 22


__ADS_3

"Sudah tak usah bahas Mas Bayu, dia laki-laki, dan laki-laki bukan pilihan tapi memilih," ujar Adam.


"Rencana bulan madu kemana nih?" Dina yang juga mendatangi kursi pelaminan bertanya, tampak pula Eko yang menggendong anaknya yang tertidur pulas.


"Kemana aja tak penting, yang penting berdua ya, sayang," ujar Setyo sambil menatap ke arah Indah.


Indah tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Cieeeeeeeee!"


Meledaklah sindiran teman-teman Setyo dan Indah yang hadir dan ikut berbahagia.


"Semoga berbahagia Indah, bukan semoga tapi kamu harus bahagia! karena bila tidak aku akan kembali untukmu," doa seorang  pria yang memperhatikan Indah dari jauh. sambil tersenyum, kemudian melangkah ke luar gedung resepsi


****


Sengaja tadi Diky menyuruh Indah untuk istirahat duluan, sedangkan dirinya masih sibuk dengan tamu yang sebagian besar adalah relasi kerjanya.


Kreeeeek!


Pintu kamar terbuka dari luar, membuat Indah yang dibantu Ibu pengrias manten, menoleh bersamaan.


"Sudah pulang semua?" Sapa Indah saat melihat Diky melangkah masuk ke dalam melalui kaca.


"Sudah ...."


"Kok kedengarannya masih rame?"


"Hanya saudara kita aja yang bikin rame, itu lagi ngapain?" Tanya Diky sambil memperhatikan gerakan yang dilakukan Indah dan dibantu ibu periasnya.


"Biar saya yang bantu istri saya,Bu,"


Suara Setyo setelah terdengar pintu kamar tertutup.


Tante perias tersenyum "silahkan ...."


Ibu perias merasa tidak dibutuhkan lagi, kemudian pamit pergi meninggalkan kamar pengantin.


berdua di kamar dengan status yang berbeda, Serasa ada getaran aneh saat mendengar Setyo menyebut Indah dengan sebutan istri.


Setyo memeluk Indah dari belakang sambil mencium tengkuk Indah. Indah tersenyum dan menambahkan tangannya sendiri diatas tangan Setyo yang sedang memeluk perutnya.


"Kita akhirnya sah menjadi suami istri, setelah penantian yang lama dan  menguras rasa, dan air mata," ujar Setyo, tangan itu menambah eratnya pelukan di tubuh perempuan yang sudah sah menjadi istrinya.


"Ceritakan padaku, apa yang terjadi? Hingga membuat kamu bisa menggantikan Bayu?" tagih Indah sambil mulai melepas hiasan yang banyak menancap di kerudungnya sendiri.

__ADS_1


"Ceritanya ... Pas kamu masih dirawat di rumah sakit, kamu sering ngigau, dan alhamdulillah yang kau sebut adalah namaku, kadang ngigau betapa besarnya cintamu padaku. Ayah dan Bundamu menjadi saksinya, bahwa kamu beneran mengigaukan aku. Akhirnya Mas Dion punya ide untuk merekamnya, dan berniat untuk memberitahukan pada Bayu." Diky menjelaskan, tangannya masih memeluk Indah dengan posesif.


"Namun ternyata, sebelum rekaman itu selesai. Bayu datang menengokmu, bersama keluarganya. Jadi mereka juga menyaksikan dengan kepala mereka sendiri, betapa kamu hanya mencintaiku." Diky menjelaskan dengan bangga hingga mengeratkan pelukannya. Sambil mencium kepala Indah yang sudah terlepas dari kerudung dan hiasan kepalanya. Senyuman Diky tak pernah pergi dari bibirnya.


"Itu alasan kenapa Bayu tidak meneruskan pernikahan ini, dan menyuruhku menggantikan posisinya." Lanjutnya lagi sambil mulai menciumi ubun-ubun Indah


"Aku tidak mencintaimu, Ndah. Tapi menginginkanmu sebagai istri, bukan cinta ya? Tapi ingin memiliki, alhamdulillah terwujud, bukan?!" Diky panjang lebar mengungkapkan isi hatinya.


"Tanpa bukti, ucapanmu hoak," jawab Indah sarkas, dan mengurai pelukan suami dibadannya.


"Kalau sudah ada bukti, aku minta imbalan looo, ya?"


"Imbalan? Kayak anak kecil aja, nggak punya permen," jawab Indah masih dengan muka masam.


"Mana?" tagihnya lagi.


"Tapi, aku juga minta imbalan kan?" sahut Setyo, tidak mau kalah.


"Imbalan apa? Kenapa harus pakek imbalan?" tanya Indah sambil membalikkan badannya menghadap ke Setyo.


"Karena tak ada yang gratis di dunia ini, sayang. Kau pasti tahu itu."


"Aku mencintaimu dari dulu, dan ak ...."


Indah tak bisa meneruskan ocehan karena mulut Setyo sudah menyumbat mulutnya dengan pelan, menggigit bibirnya sedikit hingga dengan terpaksa Indah membuka mulutnya.


"Kenapa ...?"


"Aku lapar ... "


Setyo tersenyum mendengar alasan Indah, diciumnya kening perempuan yang sudah menjadi istri dengan lembut dan lama.


"Aku mencintaimu," ujar Setyo sambil menatap mata Indah.


"Teruslah mencintaiku dulu, sekarang dan nanti, hingga sampai akhir usia kita, kumohon."


Mendengar kata yang diucapkan Setyo, Indah tersenyum dan menganggukkan kepala dengan mata yang berkaca-kaca, dipeluknya Setyo "bantu aku untuk mencintaimu lagi dan lagi."


"Selalu, selaaalu. Akan kubalas cintamu yang dulu, sekarang, nanti dan selamanya. Tanpa syarat, tak perduli berat badanmu nanti, putih rambutmu, dan kecerewetanmu." Diky memeluk erat Indah, ada air di ujung matanya. Mungkin masih terasa mimpi bagi mereka berdua, setelah banyak rintangan menuju akad.


Grooooog!


"Aku lapar, sungguh, tak bohong."


Diky tertawa, mendengar ucapan Indah yang malu malu. Direngkuh pundahnya Indah dan diiringi berjalan ke luar kamar menuju dapur. Sungguh bias gembira di wajah pengantin tidak diragukan lagi.

__ADS_1


"Waaah pengantin baru, yang baru keluar kamar, dan baru mau makan, lapar ya?"


Mas Dion yang sudah ada di meja makan menyapa sambil sesejali menaikkan alis, menggoda.


"Waaah, sesama pengantin jangan saling menggoda, bisa kena pasal perbuatan tidak menyenangkan, Loo!" Indah menjawab sambil mulai mengambil nasi dan lauk di meja, lalu disodorkan ke Diky, yang disambut senyum Diky.


"Makasih," ujar Diky. Hanya dijawab anggukan dan senyum Indah.


"Aku, Dik?"


"Kamu kenapa? Istrimu mana?" Indah menjawab sambil berpura pura tak perduli.


"Inge masih di luar, keluarganya belum kelar katanya."


"Laaaa, kamu kok di sini, Mas?"


"Aku lapar, Dik!" Jawab Mas Dion dengan muka melas, dan langsung berubah ceria ketika Indah menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya.


Diky yang hanya jadi pendengar, merasakan kehangatan keluarga Indah, sambil tersenyum bahagia. Ada doa dalam hatinya. Bahagia selamanya bersama Indah.


"Sat, habis ini aku bantu bunda sebentar ya?" tanya Indah sambil menikmati makannya.


"I_iya ...." Diky menjawa


Myb dengan nada ragu.


"Nggak usahlaaah, Dik. Udah banyak yang bantu, nggak usah kamu ikuut bantu. Kenapa? Takut digoda Ayah ya? Cie ... ciee." Mas Dion dengan semangat empat lima, masih terus aja menggoda Indah dan Satyo.


"Nggak, kok Mas, diiii?" jawab Indah dengan malu malu, Diky tersenyum menatap wajah istrinya, yang juga mencuri pandang ke arahnya.


"Udah, ah. Kalian nggak seru!" Ujar Dion sambil melangkah meninggalkan meja makan. Indah dan Setyo hanya bisa menatap punggung mas Dion yang menjauh sambil menahan senyum.


"Dik!"


"Eh ... Kamu manggil siapa? Aku?" tanya Indah sambil celingak celinguk ke kanan dan kiri. Tapi nggak ada siapa- siapa.


"Iya ... kamu, sejak saat ini, aku panggil kamu adik ya? Dan kamu manggil aku_"


"Sayang!" Dengan cepat Indah memutuskan hendak memanggil Diky dengan sayang.


Diky tersenyum, "iya, nggak papa, asalkan jangan di kantor, kalo di rumah aja, ya?"


"Ayo ...!"


"Kemana, Yang?" Indah dengan reflek berdiri mengikuti Diky, yang sudah berjalan lebih dahulu.

__ADS_1


"Ke kamar!!"


TAMAAAT YA 😜😜😜


__ADS_2