
Sejak kedua orang tua Indah datang, segera pamit pulang setelah sebelumnya pamit kepada orangtua Indah.
"Ndah ..." panggil Ayah Ibnu pelan.
"Apa yang sedang ada dipikiranmu saat ini sayang?" tanya Ayah Ibnu "ceritakanlah pada Ayah dan Bunda."
Ayah Ibnu memandangi wajah anak perempuan satu-satunya itu dengan kasih sayang, diambilnya tangan kanan Indah dan digenggamnya diantara kedua tangannya.
Bunda hanya bisa menghela nafas, prihatin dengan kondisi yang dialami Indah.
"Aku tidak memikirkan apapun, Ayah," jawab Indah, berbohong agar Ayah dan Ibunya tidak lagi mengkhawatirkann keadaannya.
"Tadi, sebelum ayah menemuimu, Ayah terlebih dahulu menemui dokter yang menanganimu, nak,"
jelas Ayah Ibnu.
"Pak Dokter tadi sudah menjelaskan tentang penyebab penyakit kamu ini."
"Sekarang jawab yang jujur, ada masalah apa?" desak Ayah Ibnu.
Indah hanya tersenyum sambil memandangi wajah Ayah dan Bunda yang juga sedang memandang dirinya. Seakan mengatakan, semua baik baik saja melalui tatapan mata dan senyumannya.
"Bagaimana dengan pertemuan mas Bayu dengan keluarga kita, Ayah?" mencoba mengalihkan perhatian ayah dan bundanya .
"Pernikahan akan diadakan delapan hari lagi, semua sudah disiapkan, hanya menunggu kamu untuk memilih busana pengantin."
"Delapan hari lagi, Ayah" jerit Indah tertahan, ’betapa cepatnya waktu yang kau pilih Bayu, hingga mbuatku menerima dengan patah asa’ tangis batin Indah.
"Kenapa kau sekaget itu, nak? bukankah kalian sudah saling mengenal lama, atau ada yang kamu tutupi dari ayahmu," tuntut ayah Ibnu sambil tetap tersenyum ke arah Indah, beliau ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan putri ’kecilnya’.
"Tidak, Ayah, tidak apa-apa. Hanya tidak menyangka saja akan secepat itu, membayangkan bagaimana sibuknya Ayah dan Mas Dion nantinya," terbata-bata Indah menjawab pertanyaan ayahnya.
"Ooo ... gitu," jawab Ayah dan Bunda hampir bebarengan.
"Tidak usah dipikirkan, semuanya sudah siap, hanya tinggal gaun untuk pengantin wanitanya saja kok," jawab Bunda tersenyum simpul, sambil mengerlingkan ujung matanya ke arah Indah, bermaksud menggoda.
__ADS_1
Indah tersenyum tipis ke arah Bunda, kemudian menghela nafas sedikit keras, terlihat samar di dahi Indah, kernyitan halus.
Ironi dengan yang tampak di depan mata, dimana Ayah dan Bunda sedang tersenyum bahagia.
Tidak tega rasanya bila Indah harus merusak kebahagian Ayah dan Bundanya hanya karena keegoannya semata.
Tapi menjalani hidup dengan yang bukan pilihan hati dalam jangka waktu ’selamanya’, merupakan pengabdian bodoh bukan. Bagaimana cara untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada ayah dan bundanya, tanpa harus menanyakiti atau merusak kebahagian beliau.
"Delapan hari, ya Allah ..." desis Indah pelan sambil mengalihkan kepalanya ke arah yang berlawanan dengan posisi kedua orang tuanya, air mata membasahi pipinya, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Memasuki hari ke tiga, Indah dirawat di rumah sakit, kondisinya semakin membaik, selang infus sudah lepas dari tangan dan rona muka sudah tidak pucat lagi, sakit di bagian kepala pun sudah tidak dirasakan.
Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati Indah. Selama sakitnya, Bayu, yang lima hari lagi akan menjadi suaminya, tampak hanya sekali berkunjung, itupun seorang diri, tak ada satu pun keluarga besar Bayu yang datang menjenguk Indah di RS.
Berbeda dengan Setya, tiap malam Setya dan Mas Dion akan menjaga dan bahkan menginap di RS. Bergatian dengan Bunda yang setia ditemani Inge, menjaga Indah dari pagi sampai sore.
'Mungkin karena akan menikah, macam tradisi jawa yang disebut 'pingitan' sehingga Bayu hanya sekali menjenguk, biar nggak pamali,' batin Indah mencoba berprasangka baik.
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Bunda pada Dokter yang tengah memeriksa Indah sore itu.
"Tapi ... Tolong kesehatannya dijaga sendiri ya Mbak Cantik, jangan terlalu capek, jaga pola makan yang teratur, dan jangan stres," tambah Pak Dokter yang sekarang mengalihkan pandangannya ke arah Indah sambil tersenyum.
"Siap, Pak Dokter," jawab Indah tersenyum pula.
Yang disambut tawa pecah oleh semua orang seisi kamar.
***
'Oh alangkah senangnya kembali tidur di kamar sendiri,' batin Indah begitu membuka pintu kamarnya, dan langsung merebahkan diri ke kasur, sambil menatap plafon di atas kamarnya.
Sesuai kata Dokter tadi sore, Bunda dibantu Inge langsung mengemasi barang Indah, tak lupa juga menghubungi Mas Dion dan Ayah, memberitahukan berita kepulangan Indah.
"Ndah, mau makan apa mau mandi dulu?" tanya Bunda yang entah sejak kapan masuk ke dalam kamar.
"Mau mandi dulu aja, Bunda, aku sudah empat hari nggak mandi, rasanya lengket semua," jawabku, bangun dari kasur, mencium pipi Bunda sekilas lalu langsung menuju ke kamar mandi, tampak Bunda hanya tersenyum dengan tingkah anak bungsunya.
__ADS_1
"Semoga Bunda dan Ayah tidak salah mengambil keputusan ini, Bunda harap kamu bahagia bersama suamimu kelak," desis Bunda pelan, sambil melangkah pergi meninggalkan kamar Indah.
***
"Makan pakek lauk apa, Ndah?" tanya Bunda begitu melihat Indah mendekati kursi di antara Ayah dan Mas Dion, dengan posisi duduk yang melingkari meja yang berisi makanan dan minuman.
"Aku ambil sendiri bolehkan, Bun?" tanya Indah, sambil tersenyum ke arah Bundanya, membuat Bunda terhenyak mendengar permintaan Indah yang tak disangkanya.
"Biarkan Indah yang sekarang melayani kita bun, sebentar lagi dia akan menjadi seorang istri, yaaa hitung-hitung mulai membiasakan diri melayani suaminya, nanti." Dukung Ayah, melihat Bunda yang mendadak heran dengan permintaan anak perempuannya.
Bunda tersenyum, mengembalikan piring ke posisi semula dan kembali ke kursinya.
"Bunda juga pengin, ikut ngerasain dilayani ma calon istri orang." Senyum Bunda simpul, ke arah Indah.
"Idiiiih ... Bunda, apa sih," sahut Indah malu-malu.
"Cieeee ... cieee," Mas Dion menimpali godaan Bunda ke Indah.
"Iiiih bocah ngapa ya?" balas Indah sembari membesarkan kedua mata ke arah Mas Dion, sementara Mas Dion pura-pura acuh, sambil tersenyum tak jelas.
Mulailah Indah melayani satu per satu keluarganya.
Diambilnya satu piring nasi kemudian diisi dengan nasi dan lauk, kemudian diberikan Bunda, Ayah dan Mas Dion secara bergantian.
"Bismillah."
Sunyi, tidak terdengar suara sepatahpun, hanya terdengar dentingan sendok dan piring serta gelas.
***
Setelah selesai makan, Ayah dan Mas Dion melangkah menuju ruang keluarga, sedangkan Indah membantu Bunda memasukkan sisa lauk ke lemari pendingin, dan mencuci perkakas yang dipakai makan malam tadi.
"Ndah ... nggak usah nemeni Ayah dan Mas Dion, Istirahat aja biar kondisimu tambah fit, ingat kamu bentar lagi mau nikahan loo," larang Bunda begitu melihatku hendak menuju ke ruang keluarga.
"Siap Bunda ...." Kulangsung mengubah haluan menuju kamar.
__ADS_1