Indah

Indah
Indah 24


__ADS_3

"Bisakah aku menyelesaikan ceritaku tanpa gangguan, wahai calon mempelai wanita?" Tanya Bayu sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit ke arah Indah.


Indah tersenyum, sambil menganggukkan kepalanya, dia berucap, "lanjutkan, Bos!"


"Mama dipaksa Papa datang berkunjung ke rumah Selly, karena hanya Papalah yang bisa membujuk Mama, dan walaupun Mama bersedia hadir, namun aura kebencian Mama ternyata tambah menjadi setelah pulang dari rumah Selly."


Lagi-lagi Bayu menelan sativanya, dan membuang nafas dengan sarkas. Terlalu menyakitkan untuk sekedar mengingat lagi peristiwa usang nan menyedihkan.


"Dan kau sudah dengar sendiri bukan perlakuan Mama ke Selly."


Indah menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya.


"Aku, lelaki yang paling jahat karena harus melihat dan membiarkan dengan mata kepala sendiri, perempuan yang kucintai diperlakukan semena-mena di hadapan keluarga besar, tanpa sedikit pun keberanian untuk membela."


Mata Bayu memerah, dia pasti sedang menahan rasa, agar tidak meluap saat itu.


"Hingga pada suatu saat, phoneku berdering, dan Mama melihat fotomu yang kujadikan cover di hapeku. Beliau bertanya kenapa fotomu bisa jadi cover di phoneku,"


Bayu tersenyum melihat mata Indah yang membesar.


Wajah cantik itu tampak tambah menggemaskan.


"Kujawab kalau itu foto hasil curian waktu sedang rapat bersama. Kau tahu, Ndah! Ekspresi bahagia beliau waktu itu, ekspresi yang lama kurindukan, kini hadir, karena kamu, Ndah," tekan Bayu, menundukkan kepala memandangi pasir, walau dia sadar, Indah sedang memandanginya sekarang.


"Aku berusaha semampuku, Ndah. Berusaha membahagiakan Mama, dengan cara mengkhitbahmu. Mama bahagia banget, Ndah. Padahal kamu belum menjawab pertanyaanku, tapi Mama sudah menyiapkan segalanya, Ndah. Segala persiapan dan kebutuhan pernikahan kita, Mama yang menyiapkan."


"Janji temu kita di resto sore itupun, aku datang bersama Mama, beliau memaksa ikut."


Indah terbeliak mendengar penjelasan Bayu yang di luar dugaan.

__ADS_1


"Beliau mendengar semua yang kalian bicarakan, dan beliau menyesal karena Adam harus menanggung salah yang Mama sebabkan,"


Bayu menghela nafas.


"Entah apa yang Mama lakukan saat tiba di rumah, hanya saja, sekitar pukul tujuh malam. Mama, Papa mengajakku ke rumah Selly, aku pikir beliau hanya meminta maaf pada Selly atas sikap dan kata-kata yang pernah menyakiti hati Selly, tapi ternyata bukan itu saja."


"Kau tahu, Ndah, apa yang beliau lakukan di rumah Selly?"


Indah hanya berani menggeleng-gelengkan  kepala sambil memandangi wajah Bayu, karena sudah berulang kali ditegur Bayu untuk tidak mengeluarkan suara.


"Kamu mau tau tidak, apa yang Mama lakukan di rumah Selly?" tanya Bayu penasaran karena menganggap Indah tak merespon.


Indah kembali menggerakkan kepalanya, kali ini dengan mengangguk-anggukkan saja, namun sial, lagi-lagi Bayu tidak melihat gerakan kepala Indah. Hingga Indah terpaksa mencubit lengan Bayu agar mau menoleh ke arahnya dan tahu jawaban tanpa harus mengeluarkan suara.


"Hei ... hoby sekali kau menyentuh lenganku, aku yakin kau sekarang sudah mulai jatuh cinta kan?" Ujar Bayu percaya diri sambil tersenyum nakal.


"Aku 'dah berusaha 'tuk 'tak mengeluarkan suara, makanya dari tadi aku jawab pertanyaanmu dengan gerakan kepala, malah kamu yang tak melihatku, makanya aku jawil kamu, laah ..., malah dibilang hobi," cecar Indah sedikit ketus.


'Sempurna Allah ciptakan kamu, Ndah!' batin Bayu sambil mengalihkan pandangannya lagi ke laut.


"Katakan sekarang, apa yang Mama kamu lakukan di rumah Selly," Indah yang penasaran langsung menodong Bayu untuk melanjutkan ceritanya.


"Beliau melamar Selly, Ndah!" Jawab Bayu.


"Sungguh! Untuk kamukah?" tanya Indah dengan ekspresi yang membingungkan untuk di gambarkan.


"Menurutmu?" gantung  Bayu sambil menatap ke laut.


"Ayolaah ... mana aku tahu," jawab Indah, mencubit gemas lengan Bayu.

__ADS_1


"Diiih ... calon mempelai wanita, ternyata kau sudah  ketagihan menyentuhku, ya? Atau adakah mungkin kamu takut kehilangan aku, Ndah?"


Bayu tak henti menggoda Indah yang sudah menyemburatkan blushing di pipi.


"Jawablah, Mas Bayu, jangan mengalihkan perhatian gitu dong," gemes Indah karena Bayu seperti sengaja membuatnya penasaran.


"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, jawablaah dulu tentang kita," Bayu merubah posisi duduknya hingga menghadap ke arah Indah.


"Aku tahu awalnya kau tak mencintaiku, eh bukan ..., menyukaiku saja mungkin tidak. Nah sekarang ceritakan tentang perasaanmu padaku," pinta Bayu lekat memandangi wajah Indah.


"Harus jujurkan, janji apapun nanti nggak bakalan ada cakar-cakarankan?" balik tanya Indah, khawatir.


"Tenang aja, nggak bakalan ada perang dunia dech pokoknya," Bayu menenangkan Indah.


"Mmm ...."


"Kamu lagi nyanyi lagunya Nisa Sabyan, Ndah?" Tegur Bayu, membuat konsentrasi Indah langsung mencar.


Karena gemas dicubitnya perut Bayu beberapa kali sambil mencebik. Bayu yang diserang Indah ketawa ngakak banget sambil memegangi perutnya, hingga hampir kejengkang.


"Ndah, ampun ..., sudah ah!" Perintah Bayu disela ketawanya.


"Makanya jangan suka goda, bikin aku nggak fokus,"


"Iya ... maaf, habisnya pakek acara mmm barang, ngapain juga ayo?"


"Lagian kamu hari ini kenapa aneh? Biasanya kamu tuch nggak jauh dari yang sok jaim, jokerface, anti kotor laaah, kenapa sekarang bisa segila ini," tegur Indah sambil mencoba meraih dahi Bayu, namun ditepis sambil tertawa.


"Kan mau ketemu ma calon mempelai wanita," jawab Bayu dengan mata genitnya.

__ADS_1


"Diiiih ..., mulai rayuan recehnya keluar,"


"Ayooo ... cepat jawab, gimana perasaanmu ke aku,"  tegur Bayu, mulai tak sabar.


__ADS_2