
"Kenapa dengannya?" tanya Indah membalas tanya Eko.
"Maksudku, bagaimana hubunganmu dengan Diky Setyawan? Bossmu yang jelek itu?" jelas Eko pakek plus-plus, plus menghina.
"Biasa aja, kenapa?" jawab Indah, melirik Dina yang hanya senyum-senyum menjadi pendengar antara Indah dan Eko.
"Napa lu senyam-senyum? kesambet lu ya?" tegur Indah sarkas ke Dina.
"Yeeee ... yang nanya siapa? marahnya ke siapa? kangen lu ya, gara-gara ditinggal tanpa pamit," woooow Dina mulai berani menyerang, bikin pipi Indah seketika menjadi blushing.
"Cieeeee ciiiie suiiit."
Pekik Eko dan Dina, alamak jaaan kompak sekali mereka berdua. Pantas saja kalo mereka berjodoh. Tapi darimana Dina tahu kalo Diky tidak pamit, uft dasar pria, emberr.
Ah Indah jadi pengin pindah ke mars dech, sungguh!! maluu banget ini ....
"Ndah! kalau misalnya Setya mengkhitbah lu, bakalan lu terima kagak?" tanya Eko serius, menatap indah dengan tajam. Indah terdiam, matanya memandang Eko dan Dina yang masih setia ma senyuman di bibirnya.
"Ceritanya, kalian mau godain lagi apa gimana nich?" tanya Indah, hatinya berdebar-debar, iiih kenapa rasa itu mulai terasa lagi. kenapa?
"Udah dech, pulang aja sono, kalau niatnya cuma bikin rusuh disini," usir Indah walau sebenarnya hanya bercanda saja. Jujur Indah malu kalau harus membahas Setyo.
Dina berdiri dari duduknya, "maaf ya aku harus menelpon seseorang nich," sambil menoleh pada Eko dan Indah, lalu melangkah ke luar pintu setelah Eko dan Indah menganggukkan kepala.
"Ih, gini amat usaha jadi orang baik, hayati lelah kang!" ucap Dina pura-pura marah, sambil berjalan melewati Indah.
"Wooouuy, yang ikhlas, dong!" jawab Indah ngakak, dengerin nada suara Dina yang ngikutin gaya 'anak jaman now'.
"Nyeet! gue beneran nanya ma lo ini, diterima kagak si Setyo?"
"Issh tadi pas ada Dina, lo nggak pernah manggil gue, Nyet, kenapa sekarang berubah?" geram Indah sambil melempar bantalan kursi ke arah Eko.
"Yeee tadikan gue memaniskan diri biar lo mau maafin Dina, sekarang mah udah balik lagi, sudah maafin ini kok," jawab Eko santai setelah terhindar dari lemparan bantal sofa.
"Dasar srigala berbulu domba, lo," nyolot Indah sambil mendengus.
"Kagak usah ngalihin permasalahan dech, dasar bocah loo!"
"apa-an!!"
"Lo, mau kagak nerima Setyo jadi suami lo? Jawab iya atau nggak aja susah banget, sich?" sungut Eko sambil memonyongkan bibirnya,
"Beruntung lo temen kecil gue, kalau kagak?"
"Kalau kagak emangnya kenapa?"
"Ya kagak napa-napa, iiiih cepetan bocaah, apa sich susahnya jawab? Gua pites juga nih."
"Gue udah dilamar orang, Ko!" Indah menjawab sambil tertunduk.
Dina yang masuk kembali setelah menelpon, bingung mendengar kata-kata Indah.
__ADS_1
"Siapa yang sudah dilamar orang?" tanyanya kepada Eko.
Eko yang juga shock mendengar kalimat Indah. Tidak langsung menjawabnya, malah memandang Indah seperti tidak percaya.
"Tapi kata Om, lo belum ada yang khitbah? atau kamu bohong ya?" tuduh Eko, karena nggak mungkin ayahnya Indah berbohong tentang putrinya.
"Bukan gitu, orang yang ngelamar aku belum ketemu Ayah, dia masih menunggu jawaban dari aku," jelas Indah, sambil melirik Dina yang masih sibuk dengan phonenya.
"Kau sudah menerimanya belum, Ndah?" cecar Eko.
"Belum Ko! besok batas akhir aku menjanjikan jawaban untuk dia," jawab Indah, seketika perasaan Indah menghangat, hingga terlihat kacanya sedikit berkaca-kaca.
"Ngomong-ngomong, kita makan di luar yuks! aku lapar, mumpung belum terlalu malam" ajak Indah, setengah mengalihkan pembicaraan.
Eko menengokkan kepala ke arah Dina yang masih sibuk dengan phonenya.
"Mi, Indah ngajak makan di luar, kamu siap?" tanya Eko romantis banget.
Indah yang melihat Eko ma Dina, jadi mupeng ... Ya Allah kapan waktuku?
Pasti indah pada waktunya
amin Allahumma amin
"Eh boleh-boleh," jawab Dina yang masih sibuk dengan phonenya.
"Mii ... phonenya simpan dulu, ayo!" ajak Eko. melangkah duluan ke arah pintu. mengacuhkan Dina yang masih sibuk berkutat ma phonenya.
"Eh ...!" Dina tersadar, langsung menyelesaikan urusannya, segera menyimpan phonenya, dan melangkah cepat mengejar Eko.
Indah hanya bisa senyam-senyum melihat kedua temannya. Indah masuk ke dalam rumah sebentar buat izin ke teman kost-nya, lalu melangkah keluar menemui kedua temannya yang sudah menunggu.
"Makan di mana kita?" tanya Indah di jok kursi belakang, Eko dan Dina yang berada sisian di depan hanya senyam-senyum, tidak menjawab.
"Wooouuuuy, gue nanya ini?" gusar Indah, merasa dicuekkin oleh kedua temannya.
"Udah napa nggak usah cerewet, terima aja dah, tau beres pokoknya," jawab Eko, main rahasia-rahasian.
Tiba di deretan cafe tenda, Eko menghentikan mobilnya di depan salah satu cafe tenda di barisan tengah.
Pengunjungnya lumayan rame. Posisi di depan cafe terdapat kursi meja yang tersusun sedemikian rupa bergaya jaman now, sedangkan di dalam tenda bergaya lesehan, nuansa warna hijau kuning dari tenda, bikin semangat meningkat.
Dina memilih duduk di kursi depan cafe di baris kedua, agak lengang sih suasananya, cocoklah buat yang lagi pacaran. Indah mengikuti Dina, duduk di depannya sehingga posisinya kini membelakangi cafe, menghadap ke arah jalan besar.
Eko datang dan langsung mengambil posisi duduk di samping Dina "sudah kupesankan khusus kalian," jelasnya tanpa diminta.
Drrrrt ... drrrt.
"Maaf! Gue angkat phone dulu ya?" pintaku, bersamaan mereka menganggukkan kepala.
Drrrrt ... drrrt.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Ayah! tumben nelpon malam-malam, ada apa?"
"___--__"
"Iya, aku kenal dia. Ada apa ayah, jangan bikin aku penasaran?" tanyaku sambil melihat ke arah Dina dan Eko, yang juga tengah memandang Indah.
"__--__"
"Apa maksud, Ayah?"
"__--__"
"Tapi Ayah, aku memang berjanji ...."
"___--__"
"Iya, Ayah, insya Allah besok aku pulang."
"__--__"
"Baik Ayah, wassalamualaikum."
Indah mengakhiri pembicaraannya di phone, sambil menyimpannya kembali ke dalam dompet hp, mata Indah memandang kedua temannya dengan pandangan lesu.
"Permisi!"
Dua pelayan perempuan, mengantarkan empat mangkok bakso. Empat gelas minuman ukuran besar, satu piring lontong lengkap dengan botol saos, kecap dan sambal.
Selesai dengan pekerjaanya, dua pelayan kemudian kembali ke belakang cafe.
"Eko! Dina! kita langsung makan aja yah! Nanti, tolong setelah makan anterin aku pulang!" pinta Indah, tangannya terulur meraih mangkok bakso di depannya.
Eko dan Dina yang terdiam mendengar permintaan Indah.
"Om Ibnu ngomongin apa, Ndah?" tanya Eko penasaran, karena semenjak Indah menerima telpon dari ayahnya, sikapnya berubah menjadi lebih diam.
"Sudahlaah ... makan aja dulu yuk!" lerai seseorang dari arah belakang Indah.
Seketika Indah memalingkan wajahnya ke arah suara, matanya terkesiap.
"Baksonya keburu dingin, malah jadi nggak enak makannya," tambah orang itu lagi.
Setya! ya, orang itu Setya, bagaimana bisa dia sudah ada di belakang Indah.
Indah terpaku di tempatnya. menatap tak percaya ke arah Setya. Setya hanya tersenyum simpul ke arah Indah, kemudian memeluk Eko dan menyapa Dina.
"Makan dulu, keburu jadi es tuch bakso, kangen sich kangen, tapi mata tuch dijaga belum halal ini kok!" colek Dina sarkas.
Indah menoleh ke arah Dina, baru sadar ternyata Dina sudah berada di posisi sebelah kanan Indah, sedangkan posisi Dina tadi sudah diganti ma Setyo.
Indah seketika menundukkan kepalanya, mencoba merendam gejolak di dadanya, getaran itu bertambah dan bertambah besar. Bagaimana ini?
__ADS_1
"Ndaaaah, kenapa baksonya tidak dimakan?" tegur Setya. Dina yang melihat Indah masih diam menunduk dan memandangi mangkok baksonya, mencolek lengan Indah.