
"Aku butuh waktu satu minggu!" jawab Indah, sambil mengangkat kepalanya dan memandang Bayu.
"Kenapa harus satu minggu lagi, Dik? kalau ada yang bikin kamu ragu, tanyakan langsung ke Bayu!" tanya Dion, yang nggak suka dengan jawaban Indah, yang seakan akan menggantung Bayu.
"Ok, satu minggu lagi!" putus Bayu, senyumnya mengembang, walau sedikit kecewa karena Indah tidak langsung memberikan persetujuan.
Bayu menganggukan kepala ke arah Dion, seolah berkata dalam tatapan, bahwa dia baik-baik saja.
"Muka tampanmu ternyata tidak banyak memberikan efek, Mas Bayu," ledek Adam.
Bayu refleks jitak kepala Adam. Tawa mereka pun pecah melihat kelakuan Bayu dan Adam.
Adam hanya bisa merengut sambil mengelus kepala.
"Satu minggu lagi ya, Ndah?, kuharap jawabanmu tak mengecewakan aku!" harap Bayu.
"Aku pulang dulu Yon!, sudah hampir maghrib!" pamit Bayu ke Dion.
Dion hanya mengganggukan kepala dan merangkul Bayu dan Adam, dan mengantarkan mereka ke depan.
Sekarang hanya ada Inge dan Dion yang tinggal, Inge memang rencana menginap di kost-an Indah.
"Kalau udah bosen di sini, telpon ya ... biar aku jemput! Jangan pulang sendiri!" pesan Dion ke Inge sambil mengelus kerudung Inge.
"Lupa dech, kalau masih zona dilarang mesra," cibir Indah, Dion tertawa dan memeluk adiknya gemes.
"Udah, Mas balik dulu, wassalamualaikum!" pamit Dion sambil melangkah ke arah pintu.
"Wa’alaikum salam!" jawab Indah dan Inge, sambil mengantar Dion ke luar pintu.
****
Inge melipat sajadahnya, baru selesai sholat Isya, diliriknya Indah yang tidur tiduran di lantai.
"Kenapa kamu butuh waktu, Ndaaah? Kamu masih mencintainya ya?" tanya Inge, saat mereka menikmati waktu di kamar kost Indah.
"Iya!" jawab Indah, terdiam dan menundukkan kepalanya, aku sangat mencintainya, walau kutahu cintaku bertepuk sebelah tangan, batin Indah mendesis sedih.
Inge memeluk Indah, mereka saling menguatkan.
"Sudahlah! intinya, apapun pilihanmu, aku, Adam dan mas Dion mendukungmu," ujar Inge, "kamu pasti mengerti itu kan?" sejenak suasana hening.
"Kau, bebas ambil keputusan, ini untuk kebaikanmu, kamu yang jalani!" tambahnya dan memeluk Indah, calon adik iparnya.
****
Drrrrt ..drrrt .. drrrt.
"Assalamualaikum, ada apa? " jawab Indah.
__ADS_1
" ___--__"
"Aku di resto depan kantor, lagi makan siang."
"__--__"
"Barengan teman kantor"
"___--__"
"Ais .... wa’alaikum salam!" Indah matikan phonenya dan menyimpannya ke saku bajunya, ad senyum di bibirnya.
Indah dan Selly sedang makan berdua di resto depan kantor mereka, suasana ramai karena sekarang, jamnya makan siang.
"Sell, ... nanti ada teman mau gabung makan siang bolehkan? ya siapa tahu ada yang cocok?" tanya Indah ke Selly, sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Emang siapa yang mau gabung ma kita, In?" tanya Selly sambil melihat mobil yang lalu lalang lewat jendela.
"Bayu ma Adam!" jawab Indah, sambil memandang ke arah luar resto, menanti tamunya.
"Bayu ...?" tanya Selly sembari mengerutkan dahinya, menatap Indah seakan minta penjelasan.
"Iya ... Bayu? CEO dari Surya Corp!" jawab Indah, tanpa mengubah arah pandangannya.
"Apa hubungan antara lo ma Bayu?" tanya Selly lagi, ada nada beda di suaranya.
"Bayu tiga hari yang lalu ngelamar gue, ngajak nikah, padahal gue baru mengenalnya, tanpa proses pacaran atau tunangan." jawab Indah yang masih memandang area parkir, sehingga tidak menyadari perubahan wajah Selly.
"Nyet! lama ya nungguin?" sapa Adam.
"Eh! mbak Selly kan?" tanya Adam begitu menoleh ke arah orang yang duduk di depan Indah, tanpa menunggu jawaban indah
Selly salah tingkah sejenak, pas melihat Bayu dan Adam, namun langsung kembali mengubah situasi ke mode wajar lagi,
"Iya, Adam ternyata masih ingat ya?" tanya Selly, sambil melirik Bayu dengan ekor matanya.
"Ingatlaaa ... kan mantan terindah!" goda Adam, sambil melirik ke arah Indah.
"Mantan siapa Dam? mantan kamu?" tanya Indah. Sambil pindah posisi duduk dekat Selly, Adam mendekati kursi dekat Selly seakan memberikan posisi dekat Indah diambil Bayu.
"Kepo lo, Nyeet!" jawab Adam,
"Eh, kalian teman sekantor ya? di kantornya si Setyo kan?" tanya Adam mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Setyo? Siapa itu?" tanya Selly mengalihkan pandangan dari Adam ke Indah.
"Setyo itu Diky, Setyo nama panggilan waktu masih SMP, kalo dikantor dipanggil Diky," jelas Indah, sambil memandang aneh ke arah Bayu yang diam dan terus menundukkan kepala.
"Daan ... mantan ter ... mm apa ya Ndah?" goda Adam mengerlingkan mata ke arah Indah.
__ADS_1
"Whaat!, lo, pernah pacaran ma Bos ya, In?" tanya Selly, matanya menatap tajam seakan tak percaya ke arah Indah.
"Uhuk! uhuk!" Indah kesedak makanan yang baru disuapnya.
"Minum dulu, pelan-pelan!" Bayu menyodorkan gelas berisi air bening ke arah Indah. Bayu sebenarnya tak kalah kaget dengan Selly, hanya Bayu masih bisa mengendalikan perasaannya.
Selly menatap perlakuan Bayu ke Indah, ada perih di hatinya. Seketika Selly mengalihkan pandangan, tapi ternyata dia kembali salah mengalihkan pandangannya, karena dia sekarang sedang menatap Adam, yang juga sedang memandang dia, Adam tersenyum manis padanya.
"Kagak kok!" jawab Indah, melotot ke arah Adam.
"Mulut lo, beneran kagak ada badrolnya, Dam! jangan fitnah dong!" semprot Indah ke arah Adam, gemes Indah lihat Adam. Adam hanya cengar-cengir ke arah Indah.
"Ih, Adam, mah tukang gosip aja nich!" gerutu Selly, melirik ke arah Adam, sambil sesekali melirik ke arah Bayu, yang sepertinya enggan bicara dan melihat ke arahnya.
Adam hanya senyam-senyum menatap ketiga orang di depannya. Apa yang dipikirkan Adam?.
"Ayok, Ndaah! jam siang hampir habis kita belum sholat!" Selly berdiri dan langsung membalikkan badan.
"Ih, iya bener juga," jawab Indah ikut berdiri.
"Gue duluan ya!" pamitnya ke Adam dan Bayu. Dengan cepat Indah melangkah ke arah kasir.
"Indah! biar aku aja yang bayar, kasihan teman kamu nunggu," ucap Bayu.
Indah menoleh sebentar ke arah Bayu, Bayu menganggukkan kepalanya, berusaha meyakinkan kesungguhan ucapannya.
"Makasih!" ucap Indah berbalik, segera menyusul Selly yang duluan ninggalin resto.
****
Prov Adam.
Sesaat setelah Indah keluar dari resto.
"Lo, yakin meneruskan hubungan lo ma, Ndaah?" tanyaku, sambil memainkan es batu dalam gelas dengan sendok.
"Gue nggak mau dia sakit hati, __ seperti yang Selly dulu alami," lanjutku lagi, kutatap wajah Bayu, mencari kesungguhan di raut mukanya.
"Karena bila itu lo lakuin, gue, yang pertama kali akan menghajar, lo!" tegasku, aku tidak bisa lagi membiarkan ada orang bermain-main dengan perasaan sahabatku, aku pernah menyayanginya.
PERNAH ...!
Bayu hanya bisa terdiam mendengar peringatan dari Adam.
Bayu sadar, Adam dan Dion merupakan orang terdekatnya saat ini, tapi bila sudah mengenai Indah, tak ada lagi kata saudara atau sahabat.
Bayu berusaha meyakinkan hatinya, untuk tidak mengulangi kesalahan yang kedua kali.
"Gue, akan berusaha semampu gue Dam. Gue, harap lo percaya," tekan Bayu, membalas tatapan Adam.
__ADS_1
"Gue harap, lo bisa membuktikan ucapan, lo," balasku sambil menepuk bahu Bayu.