Indah

Indah
Indah 4


__ADS_3

Diky Pov.


Aku kaget begitu mendengar Adam teriak.


Bukan ... bukan kaget karena Adam, tapi kaget karena ternyata Indah kenal dengan Adam.


Aku baru sadar kalau Indah sudah tidak mengikutiku lagi.


"Heeeei, yang bareng Adam itu kan si Ndah ya?" tanya Eko, matanya belum pindah dari tempat Indah dan Adam.


"Eh iya bener itu Ndah, dia cantik banget!" jawab Maman sembari mengerlingkan matanya ke arahku.


"Kok bisa bareng lo, Set? lo ... jadian ma Ndah ya?" tanya Maman, diikuti tatapan puluhan pasang mata ke arahku.


"Dia sekretaris gue yang baru, pilihan ayah," jawabku sambil kubalas tatapan mereka.


"Kok kalian bisa kenal ma Indah? kenal di mana?" tanyaku.


Kembali ... semua pandangan teman-teman menatapku, aneh ... apa yang bikin mereka memandangku seperti itu?.


Sesaat hening.


"Set, lo nggak ngenali? atau lo lupa ingatan?" tanya Eko, sembari meletakkan tangannya ke dahiku terus di lanjutin ke pantatnya.


"Sialaaan!" umpatku.


"Ya, beneran gue nggak tahu, emang siapa sich dia?" tanyaku. kupandangi satu-satu muka temanku.


Hening sejenak.


Kemudian semua temanku tertawa pecah, ada yang jumpalitan, guling guling, akh nggak ding, cuma tertawa keras banget, mulut ketawa, tangan nunjuk-nunjuk aku, sambil megang perut.


Aku jadi bingung, siapa sebenarnya si Indah? Gumam Diky berpikir keras, dilihatnya ekspresi semua temannya.


"Indah itu Ndah, anak kelas 3_4 waktu masih smp, sekelas ma gue, Adam ma Dina" jelas Maman sesaat setelah reda ketawanya.


"Ndah, yang pernah lo bikin malu dulu," tambah Eko, dengan raut muka datar.


Kupandangi wajah satu-satu temanku, yang menunjukkan ekspresi berbeda, tanpa seribu kata.


Kutolehkan leherku, saat terdengar dia menyanyi dengan ditemani permainan gitar Adam. Romantis banget.


Mata Indah menatap Adam, Adampun demikian menatap Indah, walau sesekali melihat posisi letak tangan di gitarnya.


Dadaku serasa dipukul puluhan godam, bagaimana aku bisa tidak mengenalinya, mataku masih terus menatapnya.


Dia memang berubah, lebih kurus dan berhijab. Dia tampak dewasa, dan aku mulai mencintainya.


****


"Hai!" sapa Indah ke arah teman temannya, diikuti Adam yang melangkah di belakang Indah.


"Haiii, Ndaaah!" jawab beberapa temannya, ada yang hanya tersenyum dan ada pula yang melambaikan tangannya.


"Lo kemana aja sich, Ndah? kok lama ilang? gue kangen tau," sambut Eko sambil mesam-mesem nggak jelas.


"Palsuuu!" jawab Indah sembari melirik si bos.


Diky yang sadar dilirik Indah, seketika langsung berdiri.


"Kita balik dulu ya? masih ada pekerjaan di kantor."

__ADS_1


"Kok cepet banget, Set? makan aja belum?" cegah Maman.


"Lain kali ya ... maaf," ujar Diky.


"Ayo ... Indah!" Sembari melangkahkan kaki ke pintu keluar restorant.


"Iya bos," jawab Indah segera berdiri dan melangkah mengikuti arah bosnya.


"Guuys, duluan ya!" melambaikan tangan ke arah temannya yang masih berada di tempat.


"Ndaaah, nomormu mana?" teriak Eko.


"Tanya, Adam aja! byeee!" balas Indah setengah teriak pula.


Ampun nich si Boss, kenapa pula jalannya seperti kayak dikejar setan.


Hening .....


1


2


5


7


10


"Kamu dari pertama sudah tahu siapa aku ya, Ndaah?" tanya Diky, matanya menatap lurus ke arah jalan. Hanya tangannya yang mengepal kemudi mobil.


"Aku ingat, kamu pernah manggil aku dengan Setyo, saat awal kita bertemu," ujarnya lagi.


Indah hanya bisa memeras kedua tangannya sendiri, posisi ini yang tidak pernah Indah mau.


"Kamu masih marah ya? aku memang belum minta maap langsung padamu. Waktu itu, aku langsung menghilang dan kau susah kuhubungi," terangnya lagi.


Ciiiit ... !


Diky memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Kemudian memiringkan badannya ke arah Indah.


"Ndaaa, maaf!" kata Diky dan mencoba mengambil satu tangan Indah.


Indah menghindar dari tangan Diky.


"Saya sudah memaafkan, Bapak.


Bapak tidak bersalah, saya yang terlalu ke ge-er-an," jawab Indah, mata Indah mulai berkabut.


****


Flash on


"Ndaaa sini!" teriak Inge, melambaikan satu tangannya ke arahku. Menandakan ingin kuhampiri.


"Haaai!" jawabku setelah berada di depannya.


Hari senin, upacara pagi, semua berkumpul di lapangan.


"Ndaaah, lo sudah tahu belum siapa yang mengirim surat ke lo?" tanya Inge, semangaat bingit.


"Belum, emangnya lo udah tahu?" tanya balik Indah, sambil melangkah mengambil posisi di belakang Inge.

__ADS_1


"Setyo, jadi pemimpin upacara hari ini, sekarang giliran kelas 3_5 yang jadi aparatur upacaranya," jelas Inge, tanpa menoleh ke arahku.


Aku terdiam, entah kenapa hati ini berdebar, apa aku mulai cinta padanya.


Upacara dimulai.


Baru kutahu sosok yang bernama, Setyo, ah benarkah dia orang yang mengirim surat kepadaku, dia tampan, kok aku jadi minder, ada rasa tersanjung dikit, karena dengan kondisiku saat ini bisa menarik perhatian sosok yang amat emejing bagiku.


"Gimana, Ndah?" goda Inge, saat kami berjalan beriringan ke arah kelas, begitu upacara selesai.


"Gue kok minder ya, Ing," cicitku lirih.


"Kenapa kok minder? buktinya dia beneran nulis surat itu kok, ada saksinya kan, si Dina," jawab Inge, berusaha meyakinkan aku.


"Nggak usah dianggap aja lah, Ing. Aku nggak yakin dia yang nulis. Kami seperti langit dan bumi!" ucapku lagi.


Setyo banyak punya pilihan pacar, ngapain nembak aku yang apalah-apalah ini


"Iya dech, nggak usah dipikirin," ujar Inge, sembari menghempaskan dirinya ke bangku sebelahku.


"Atau aku aja yang balas suratnya ya?" sambil mengerlingkan matanya ke arahku.


"Ingeee!" jeritku tertahan, sambil melototkan mataku.


"Ups , ok, ok ....  santai, santai, jangan marah," jawab Inge sambil memandang ke arah yang lain.


****


Di kantin sekolah.


"Gue tunggu, lo! nanti sepulangnya sekolah, di pintu gerbang."  Aku tengadahkan kepalaku, mencari tahu asal suara.


"Ada perlu apa?" tanyaku setelah berhasil meredakan rasa kagetku.


"Kita selesaikan nanti urusan, kita!" tekan Setyo meradang, dan melangkah pergi meninggalkan kantin.


Aku jadi bergidik ngeri mendengar nada suaranya, ada apa ya? apa karena surat itu?


Kutatap wajah Inge di sampingku, kami saling tatapan, diam dengan pikiran masing masing.


"Lo, nggak balas surat itu kan, Ing?" tanyaku menatap intens wajah sahabatku itu.


L


"Maaap, Ndaaah," luncurnya pasrah, menunduk tanpa melihat ke arahku.


Aduaaanaa, kutatap Inge dengan marah, namun aku nggak bisa mengeluarkan kata- kata. Aku terlalu menyayangi sahabatku ini.


"Sudahlaaaaa, sudah terjadi, nggak papa kok, anggap aja sebagai pembelajaran diri gue biar nggak terlalu percaya ma orang,"


ujarku sembari langsung melangkah ke arah kelas, ninggalin Inge  yang terdiam dan menyesal.


****


Sepulang sekolah.


Bel pulang sudah dari tadi, meninggalkan segelintir orang yang masih tersisa di sekolah.


Indah, salah satu dari orang yg tersisa, melangkah pelan ke arah pintu gerbang sekolahnya.


Terlihat oleh Indah, sosok Setyo di kiri pintu gerbang sekolah, menatap Indah dengan tajam, menunggu penjelasan Indah.

__ADS_1


__ADS_2