
"Indah! segera ke ruangan saya!" perintah Diky, sejenak berhenti di depan meja Indah, lalu kemudian meneruskan langkah ke ruangannya.
Serasa dunia berhenti berputar! buktinya semua yang ada di ruangan itu melirik ke arah Indah dan Diky.
"Bawa jadwal saya hari ini dan laporan hasil meeting seminggu kemarin!" tambah Diky, yang langsung menghilang di balik pintu.
Blaaaam!
Terdengar keras bunyi pintu ditutup, penduduk satu ruangan terkaget, diam, saling pandang ke arah Indah.
Indah yang merasa jadi pusat perhatian hanya bisa diam dan mengedikkan bahunya, lalu segera melangkah ke ruangan Bos, dengan membawa semua yang diperintah si Bos.
Fiuuuh pagi yang 'menyenangkan', ironi desis Indah lirih.
Tok! tokk!
"Masuk!" perintah si Boss.
"Permisi, Pak! Assalamualaikum!" ucap Indah begitu selesai menutup pintu ruangan Diky.
"Hari ini dua acara, Pak. Briefing staf jam sembilan, dan meeting dengan investor Singapura jam dua belas lewat tiga puluh," jelas Indah. Kakinya segera melangkah mendekati meja Diky dan meletakkan map tiga warna di atasnya.
"Arsip warna merah untuk briefing, dan yang kuning untuk meeting, Pak. Sedangkan yang hijau hasil meeting selama seminggu kemarin," jelas Indah tanpa berani menunjukkan muka ke Bosnya.
"Duduk, Ndah!" perintah Diky, yang masih menatap tajam Indah.
"Siap, Pak!" jawab Indah, menarik salah satu kursi di depan meja bosnya, dan mendudukinya.
"Aduuuh! salah apa aku?" rutuk Indah dalam lirih AQ
Hening ....
Diky hanya menatap tajam Indah yang duduk di depannya, Indah yang mencoba mengangkat kepalanya, membuat pandangan mereka bertemu. Indah kembali menundukkan mukanya, tanpa berani mencuri pandang lagi ke arah Diky.
Hening lagi.
lama ....
"Kau masih marah padaku, Ndah? " tanya Diky pelan, tanpa merubah posisi duduknya, masih menatap tajam ke arah Indah.
Terasa sakit, Diky rasakan di dadanya, terluka parah tapi tidak berdarah, 'apa nama rasa ini?' tanya Diky pada hatinya.
"Kenapa kau tidak mengingatkan aku, Ndaah?" cicit Diky lirih, dan tetap menatap Indah, ingin rasanya direngkuhnya pemilik badan yang duduk didepannya itu, tapi Diky tidak punya kekuatan untuk melakukannya.
Mengingatkan kejadian yang menyakitkan, di saat hati sudah mulai membaik itu amat sangat menyakitkan.
Indah hanya bisa diam, dia bingung harus menjawab apa, tapi tak mungkin pula bila membiarkan pertanyaan bosnya. Digantung tanpa penjelasan, emangnya Indah siapa?
__ADS_1
"Saya merasa tidak pantas, Pak! saya hanya karyawan Bapak," jawab Indah, masih menunduk dan mengeratkan jari tangannya.
"Saya juga sudah memaafkan, walaupun tidak mudah untuk dilupakan!" tegasnya, dan mulai berani menatap bosnya.
Terkaget Indah begitu mengangkat mukanya, didapatinya Diky menatap dirinya, mata itu berkabut, 'ah ada apa ini,' rutuk Indah dan kembali membuang pandangannya ke arah lain.
"Saya permisi, Pak!" pamit Indah berdiri dari kursi, tidak mau ia berlarut dalam keheningan masa lalu.
"Assalamualaikum, Pak!" lalu segera membalikkan badan melangkah ke pintu dan segera menghilang di baliknya.
Diky diam menatap punggung sosok wanita yang mulai bikin kocar kacir dunianya, sosok wanita yang dulu pernah dibencinya, namun sekarang amat sangat ingin dimilikinya.
Indah segera ke mejanya, dan langsung duduk terdiam, menata hati dan mata, ada yang sakit di sudut hatinya yang tersambung dengan kabut di matanya, ah kenapa harus sesakit ini lirihnya.
Tanpa Indah sadari semua mata tertuju ke arahnya sekarang, dan semua mata itu terpancar rasa peduli.
Selly melangkah ke arah Indah, dan memeluknya dari belakang. tanpa suara, tapi menjadi penyaluran kekuatan tersendiri bagi Indah, Indah tersenyum dan berbalik menatap Selly.
"Terimakasih sayang," ucapnya, bibir itu kini memberikan senyum merekah.
"Kau saudaraku walau tak ada ikatan darah antara kita," ujarnya lagi, dan membalikkan badan tuk membalas pelukan Selly.
"Alhamdulillah, gue nggak tahu ada masalah apa dengan, si Boss? aku hanya perduli padamu," balas Selly.
"Jangan terlalu dipikirkan, resiko kita sebagai bawahan, ikut kerja ke orang harus mau dimarahi orang," jelasnya lagi dengan tersenyum.
"Sabar ya," dijawab anggukan kepala Indah, Selly kemudian kembali ke mejanya dan melanjutkan kembali kerjanya.
Drrt, drrrt.
"Assalamualaikum, ada yang bisa Ndaah bantu"
"___-____-"
"O ... Selamat pagi, Pak Bayu! ada yg bisa saya bantu, Pak?"
"_____--_____"
"Maap, Pak. kalo siang saya tidak bisa, maaf."
"___----"
"Insya Allah, Pak, wa'alaikum salam."
Ternyata kekhawatiran masalah kemarin terbukti, Pak Bayu menelpon Indah, jangan tanya tahu dari mana nomer Indah, pasti Sinta.
"Apa lagi ini?" keluh Indah dalam hati, fiiuh ... dunia oh dunia, langsung membalikan kepala ke arah komputer.
__ADS_1
Lagi ....
Tring tring.
from: Adam mp
Nyeet pulangnya gue
jemput ya?
to: Adam mp
jam 5 ya, Dam?
from: Adam mp
ok, Nyeeet!
Sms dari Adam, sejenak mengingatkan Indah janji bertemu dengan Pak Bayu, bagaimana dia bisa melupakan janji itu? berpikir lalu tersenyum, apa yang Indah senyumin ya?
***
Jam pulang!
Indah bergegas melangkah ke arah restoran depan kantor, Indah berdoa semoga dialah yang pertama nyampek, dan ternyata kemujuran berpihak padanya.
Kebetulan suasana restoran tidak begitu ramai, sehingga Indah bisa leluasa mencari posisi duduk yang enak.
Indah melangkahkan kakinya ke posisi kursi sebelah kiri pintu utama.
"Adam!" panggil Indah, begitu melihat seorang pria masuk ke dalam restoran, di belakang Adam ada sosok wanita berjilbab dan bercadar, mengikuti langkah Adam.
"Hai, Nyet!" sapa Adam menghampiri Indah.
"Ndah, kangen!" teriakan kecil wanita di belakang Adam, wanita itu berdiri tepat di depan Indah, mendekatkan mukanya tepat di depan muka Indah, dan tiba-tiba melepas cadarnya sejenak lalu dipasang lagi, begitu posisi berada dekat sekali di depan Indah.
"Ndah, kangen!" teriakan kecil wanita di belakang Adam, wanita itu berdiri tepat di depan Indah, mendekatkan mukanya tepat di depan muka Indah, dan tiba-tiba melepas cadarnya sejenak lalu dipasang lagi, begitu posisi berada dekat sekali di depan Indah.
Yang langsung dibalas pelukan oleh Indah, tak terasa mata Indah berkaca kaca dalam pelukan wanita itu.
Tanpa disadari oleh mereka bertiga, ada dua pasang mata, yang melihat pertemuan mereka dengan posisi yang berbeda, pasti dengan pemikiran yang berbeda pula.
Pak Bayu dan Diky. Diky yang sengaja mengekori Indah tersenyum karena Indah hanya bertemu dengan temannya saja, eh ... Kenapa sekarang jadi posesif?
Berbeda dengan Pak Bayu, dia tersenyum, walaupun awalnya ada keterkejutan melihat Indah bersama temannya, sepertinya ada yang sedang dipikirkannya
"Gue kangen lo juga, Inge!" lirih Indah enggan melepas pelukan dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"Wouy! lepas wouy! mau sampek kapan pelukan? mending pelukan ma gue aja, masak jeruk makan jeruk?" kekeh Adam.
Indah menegakkan kepalanya, menatap tajam mata sahabatnya, dengan tersenyum dan menangis.