Indah

Indah
Indah 29


__ADS_3

Sengaja tadi Diky menyuruh Indah untuk istirahat duluan, sedangkan dirinya masih sibuk dengan tamu yang sebagian besar adalah relasi kerjanya.


Kreeeeek!


Pintu kamar terbuka dari luar, membuat Indah yang dibantu Ibu pengrias manten, menoleh bersamaan.


"Sudah pulang semua?" Sapa Indah saat melihat Diky melangkah masuk ke dalam.


"Sudah ...."


"Kok kedengarannya masih rame?"


"Hanya saudara kita aja yang bikin rame, itu lagi ngapain?" Tanya Diky sambil memperhatikan yang dilakukan Indah dan dibantu ibu periasnya.


"Biar saya yang bantu istri saya,Bu,"


Suara Setyo setelah terdengar pintu kamar tertutup.


Tante perias tersenyum "silahkan ...."


Serasa ada getaran aneh saat mendengar Setyo menyebut Indah dengan sebutan istri.

__ADS_1


Setyo memeluk Indah dari belakang sambil mencium tengkuk Indah. Indah tersenyum dan menambahkan tangannya sendiri diatas tangan Setyo yang sedang memeluk perutnya.


"Kita akhirnya sah menjadi suami istri, setelah penantian yang lama danĀ  menguras rasa," ujar Setyo, masih terus memeluk Indah.


"Ceritakan padaku, apa yang terjadi? Hingga membuat kamu bisa menggantikan Bayu?" tagih Indah sambil mulai melepas hiasan kerudungnya sendiri.


"Ceritanya ... Pas kamu masih dirawat di rumah sakit, kamu sering ngigau namaku, kadang ngigau betapa besarnya cintamu padaku. Ayah dan Bundamu menjadi saksinya, bahwa kamu beneran mengigaukan aku. Akhirnya Mas Dion punya ide untuk merekamnya, dan berniat untuk memberitahukan pada Bayu." Diky menjelaskan, tangannya masih memeluk Indah dengan posesif.


"Namun ternyata, sebelum rekaman itu selesai. Bayu datang menengokmu, bersama keluarganya. Jadi mereka juga menyaksikan dengan kepala mereka sendiri, betapa kamu hanya mencintaiku." Diky menjelaskan dengan bangga hingga mengeratkan pelukannya. Sambil mencium kepala Indah. Senyuman tak pernah pergi dari bibirnya.


"Itu alasan kenapa Bayu tidak meneruskan pernikahan ini, dan menyuruhku menggantikan posisinya."


"Aku tidak mencintaimu, Ndah. Tapi menginginkanmu sebagai istri, bukan cinta ya? Tapi ingin memiliki, alhamdulillah terwujud, bukan?!" Diky panjang lebar mengungkapkan isi hatinya.


"Kalau sudah ada bukti, aku minta imbalan looo ya?"


"Imbalan? Kayak anak kecil aja, nggak punya permen," jawab Indah masih dengan muka masam.


"Mana?" tagihnya lagi.


"Tapi, aku juga minta imbalan kan?" sahut Setyo, tidak mau kalah.

__ADS_1


Setyo membantu istrinya melepaskan banyak jarum pentul yang melekat di kerudung Indah.


"Imbalan apa? Kenapa harus pakek imbalan?" tanya Indah sambil membalikkan badannya menghadap ke Setyo.


"Karena tak ada yang gratis di dunia ini, sayang. Kau pasti tahu itu."


"Aku mencintaimu dari dulu, dan ak ...."


Indah tak bisa meneruskan ocehan karena mulut Setyo sudah menyumbat mulutnya dengan pelan, menggigit bibirnya sedikit hingga dengan terpaksa Indah membuka mulutnya.


Setyo yang merasa mendapat angin melilitkan lidahnya lebih dalam lagi, dan berhenti saat Indah mencubit hidungnya, hingga membuat Setyo kesulitan bernafas.


"Kenapa ...?"


"Aku lapar ... "


Setyo tersenyum mendengar alasan Indah, diciumnya kening perempuan yang sudah menjadi istri dengan lembut dan lama.


"Aku mencintaimu," ujar Setyo sambil menatap mata Indah.


"Teruslah mencintaiku dulu, sekarang dan nanti, hingga sampai akhir usia kita, kumohon."

__ADS_1


Mendengar kata yang diucapkan Setyo, Indah tersenyum dan menganggukkan kepala dengan mata yang berkaca-kaca, dipeluknya Setyo "bantu aku untuk mencintaimu lagi dan lagi."


"Selalu, selaaaaaalu. Akan kubalas cintamu yang dulu, sekarang, nanti dan selamanya. Tanpa syarat, tak perduli berat badanmu nanti, putih rambutmu, dan kecerewetanmu." Diky memeluk erat Indah, ada air di ujung matanya.


__ADS_2