
Hanya dengan media televisi ukuran 88 inci yang berada di dalam gedung, sarana untuk menyaksikan akad di mesjid.
Jarak antara mesjid Jami' yang digunakan hanya berkisar 150 meter saja dari gedung tempat resepsi bakal dirayakan.
Indah mengedarkan pandangan ke arah tamu, tangannya menggenggam erat tangan Bunda, seakan meminta kekuatan lebih.
Tiba tiba terdengar suara orang mengaji surah Ar Rahman dengan merdunya.
Menghipnotis semua mata untuk menatap televisi.
Indah hafal betul suara siapa itu, 'ah ..., kenapa dia harus hadir,' batin Indah sambil menunduk.
Akad pertama, Mas Dion mengucapkan ijab kabul dengan tegas lancar, menggunakan bahasa indonesia.
Bunda yang terharu, saat semua mengucapkan kata 'sah' memeluk Indah sambil meneteskan air mata.
"Bunda jangan nangis dong, bedaknya nanti luntur," Indah menggoda Bunda, walau tak dipungkiri, hatinya terharu juga, akhirnya Mas Dion dan Inge resmi jadi pasutri.
'Giliranku' batin Indah.
Tak kuasa untuk memandang televisi, menunduk adalah jalan menghindari mata mengeluarkan kesaktiannya.
Tiba-tiba saja Indah tersentak saat mendengar nama yang disebutkan oleh Ayahnya, matanya segera melotot ke arah televisi, Bunda yang mengetahui perubahan putrinya tersenyum.
"Kenapa, Ndah? Kamu pikir yang akan menikahi kamu, si Bayu?" goda Bunda sambil mencubit pipi Indah yang tambah merah.
Indah memandangi Bunda dengan mata minta penjelasan, bingung dengan apa yang terjadi
'Sah.'
'Ya Allah, aku resmi menjadi istrinya, bagaimana ini?'
"Sudah sah kau sayang, ingat kata Bunda semalam ..., aku mencintaimu." Bunda memeluk Indah erat, tak terdengar suara dari yang dipeluk, membuat Bunda merenggangkan pelukan, dan menatap heran anak bungsunya itu.
"Ada apa, kenapa kau kelihatan bingung begitu?" Tanya Bunda sambil menatapi wajah Indah.
"Aku yang harusnya nanya ke Bunda, ada apa ini, kenapa Setyo yang menjadi suamiku, kenapa bukan Bayu?"
"Sudahlaaah, nanti kita bicarakan setelah acara ini, ok," jawab Bunda, sambil berdiri, mempersilahkan Setyo menggantikan posisi Bunda.
"Ok, Mbak dan Masnya posisi berdiri dulu ya, kita ambil momentnya," seru si kameraman.
Tak ada protes yang keluar dari mulut Indah dan Setyo, Indah melakukan arahan kameraman dengan canggung, beda sekali dengan Setyo, yang tampak bahagia.
Lalu dengan memberikan kode tangan yang menyatukan jempol dan ibu jari membentuk tanda 0, mempersilahkan para tamu kesempatan untuk memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin yang langsung dilanjutkan dengan menikmati hidangan prasmanan.
Selama acara salaman berlangsung, tak ada obrolan antara Indah dan Setyo. Nampak di antara para tamu, teman-teman sekolah mereka, dan pastinya dengan ejekan dan sindiran khas khusus untuk Indah dan Setyo.
Hingga tak ada lagi tamu yang mengucapkan selamat, Indah terduduk kelelahan, sambil menarik Setyo untuk ikut duduk juga, ingin mendapatkan penjelasan.
"Sekarang katakan apa yang terjadi?"
"Kun fayakun, yang terjadi terjadilaaaah."
Indah dan Setyo serentak menengadahkan kepala ke sumber suara.
"Hai ... Bayu," sambut Setyo hangat, sambil memeluk erat Bayu.
Bayupun membalas pelukan Setyo, bagaikan sahabat yang lama tak ketemu.
"Hai istri orang, kenapa muka cantikmu ditekuk, menyesal karena bukan aku suamimu ya?"
__ADS_1
"Hei ... belum pernah merasakan ciuman pengantin pria?" tanya Setyo sambil meninju pelan dada Bayu.
Entah di mana lucunya, kenapa mereka berdua bisa meledak tawa sedemikian rupa.
Indah melengos membuang pandangannya ke arah lain, hingga tanpa sengaja nampak Inge dan Mas Dion sedang duduk di salah satu meja dekat jendela.
Melihat rona tak perduli Indah, Bayu dan Setyo hanya bisa saling pandang saja.
"Tampaknya kalian masih belum menyelesaikan masalah di pantai kemarin, ayolaaaah. Dik ... selesaikan urusanmu secepatnya atau kau mau malam pertamamu berakhir dengan kau tidur di luar,?" bisik Bayu sambil menepuk bahu Setyo.
"Semoga bahagia, jangan bersedih terus ... segera berikan aku ponakan, ok!" Bayu memeluk Indah, yang dibalas senyum kecut karena mendengar doa Bayu.
"Hei ... jangan lama-lama bukan muhrim."
"Jangan cemburu padaku, Dik. kamu tahu kan kalo Indah cinta mati padamu?" ujaran Bayu dibalas pelototan mata Indah.
Bayu hanya tersenyum sambil berlalu meninggalkan Setyo dan Indah sambil melambaikan tangannya.
"Apa benar kau cinta mati padaku, Ndah?"
"Nggak!" sengit Indah.
"Ah, bodohnya aku percaya dengan ngigauanmu waktu di
rumah sakit dulu."
"Apa maksudmu? Mana pernah aku mengigau?"
"Mana ada pula orang mengigau bisa sadar kalo dia mengigau? untung saja aku rekam," ujar Setyo sambil menggenggam tangan Indah erat.
Indah terperangah mendengar Setyo mempunyai rekaman dia saat sedang mengigau.
"Mana ... tunjukkan padaku, mana rekaman itu, jangan bohong."
"Apa syaratnya, lagian kenapa pakek syarat sih."
"Syaratnya nggak susah kok, kamu tinggal lanjutin doang."
"Lanjutin apa?"
Tiba-tiba saja Setyo berlutut di depan Indah. Indah yang kaget karena tingkah Setyo hingga terduduk kembali di kursi pelaminan.
"Kamu mau apa? Jangan ngelakuin yang aneh-aneh."
Tiba-tiba terdengar suara gitar menggema, dan seorang laki-laki datang dan menyerahkan microfon ke Setyo.
🎶🎶Memenangkan hatiku
Bukanlah satu hal yang mudah
Kau berhasil membuat
Ku tak bisa hidup tanpamu
Menjaga cinta itu
Bukanlah suatu hal yang mudah
Namun sedetik pun
Tak pernah kau berpaling dariku
__ADS_1
Beruntungnya aku dimiliki kamu
Kamu adalah bukti
Dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku
Tolong kamu camkan itu
Meruntuhkan egoku bukanlah satu hal yang mudah
Dengan kasih lembut kau pecahkan kerasnya hatiku
Beruntungnya aku dimiliki kamu (ku ingin engkau tahu)
Kamu adalah bukti dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah (kaulah bentuk terindah) dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu (mengusaikan cantikmu)
Kau wanita terhebat bagiku, tolong kamu camkan itu
(Semua yang jadi bukti tersimpan di dalam palung hati
Kamu adalah bukti dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi tentang terang dan gelapnya hidup ini
Bukti-Virgon🎶🎶
Setyo menyelesaikan lagu dengan mata berkaca-kaca. Pun dengan Indah yang dengan lekat dan meneteskan air mata menatap laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya.
Setyo memeluk Indah erat, disambut dengan tepukan tangan para undangan dan semua yang ada di tempat itu.
Indah yang tersadar kondisi, mencoba melepaskan pelukan Setyo, namun Setyo malah menambah erat pelukannya.
Hingga tampak teman-teman mendatangi Indah dan Setyo. Adam mencolek bahu Setyo, hingga membuat Setyo melepaskan pelukannya.
"Terimakasih gitarnya," ujar Setyo ke Adam yang mendekat bersama Selly.
"Kalian kapan?" Tak usah lama-lama," ujar Setyo lagi.
"Looo, Selly ’ma Adam? Kata Mas Bayu, Mama sudah melamar Selly?"
"Iya, Mama Mas Bayu melamarku untuk Adam, bukan untuk Mas Bayu."
__ADS_1
Indah memeluk Selly bahagia.
"Alhamdulillah," ucap Indah sambil terus memeluk Selly.