Indah

Indah
Indah 2


__ADS_3

"Indah, boleh minta no hpmu?" pinta Sinta dengan wajah memohon.


"Kalau untuk masalah kantor cukup dengan nomer yang biasanya saja, Mbak Sinta!" jawab Diky dengan raut muka tidak suka.


"Bukan masalah kantor, Pak Diky. Maaf, ini masalah pribadi," jawab Sinta dengan senyum khasnya, lalu mengalihkan pandangan dari arah Diky ke arah Indah.


"Bolehkan, Indah? Pleasee ...." rajuk Sinta, tangannya terulur memberikan phone miliknya, sambil menatap Indah yang bingung harus berbuat apa.


"Boleh, Mbak ... boleh," jawab Indah terpaksa , mengulurkan tangan mengambil phone milik Sinta dengan kedua mata mencuri pandang ke arah Bos Diky. Kemudian diserahkan lagi ke pemiliknya, setelah diketik beberapa nomor di phone tersebut.


"Makasih, ya. Kamu baik banget!" kata Sinta dengan senyum yang mengembang. Setelah menerima kembali phone miliknya.


Diky langsung balik badan kembali melangkah ke arah pintu keluar ruangan dengan wajah yang ditekuk. Indah, yang sekilas masih sempat melihat raut rupa Diky, terdiam sambil melangkah mengekori Bosnya. Dia paham kalau si Bos marah, karena sudah memberikan nomor phone miliknya ke Sinta. Walau tadi Indah juga terlihat serba salah, takut dianggap berlebihan bila tidak mengabulkan permintaan Sinta.


Indah berdecak kesal, mungkin bingung harus bagaimana menghadapi Bosnya.


***


"Harusnya tidak kau kasihkan nomormu ke Sinta!" tegur Diky, saat mereka sudah berada di dalam mobil. Indah menangkap ada emosi yang sedikit ditahan.


"Maap, Pak! Saya hanya tidak ingin dianggap tidak tahu diri, karena posisi saya sama dengan posisi Sinta. hanya seorang sekretaris, Pak," jawab Indah menunduk, tanpa berusaha melihat wajah Diky yang menegang sambil menjalankan kemudi.


Diky membuang napas dengan keras, mencoba menenangkan hatinya, yang entah sejak kapan mulai berbeda degubnya.


'Rasa apa ini namanya?' gumamnya. Sudah lama kutak rasakan degub ini, benarkah aku sudah mulai merasakan "rasa" ini lagi?" Gumam Diky, lirih.


***


"Indah masuk ke ruangan saya!" perintah Diky, tanpa menghentikan langkahnya masuk ke ruangan.


Sekejap suasana di pagi itu langsung hening, karyawan yang baru datang, namun masih bercakap-cakap santai, langsung melesat ke tempat kerja masing-masing.


"Indah ... si Bos kenapa? masih pagi kok sudah begitu?" tanya Selly setengah berbisik, begitu bayangan Bosnya hilang di balik pintu.


"Entah!" jawab Indah dengan mengendikkan bahunya. Langkahnya tergesa menuju pintu ruangan si Bos.


"Masuk!" perintah Diky, dari balik pintu. Setelah mendengar suara pintu diketuk agak keras.


"Assalamualaikum, Pak!" sapa Indah, sambil menutup pintu ruangan.


"Permisi," sambungnya lagi sembari berjalan mendekati meja kerja Diky.


"Wa'alaikum salam, duduk!" Mata Diky fokus menatap Indah.


Tanpa menjawab Indah menduduki salah satu kursi di depan meja kerja Pak Bos.


"Indah, tolong bantu saya merapikan berkas-berkas yang ada di meja saya. saya lagi tidak enak badan," Titah Diky sambil berdiri meninggalkan kursi kebesarannya. Membaringkan badan ke sofa panjang yang berada di sebelah kiri depan meja kerja.


"Baik, Pak!" jawab Indah sambil tersenyum, ketakutannya tadi tidak beralasan. Hanya disuruh membereskan kertas berkas berisi  data.


Diky pun tersenyum senang, hanya dengan melihat sosok Indah di dekatnya saja, rasanya hati tenang banget.


"Mmm ... perasaan apa ini?" Lirih Diky.

__ADS_1


"Ya, Pak. Maap saya tidak mendengar jelas."


"Eh, nggak. Kamu lanjutkan aja kerjanya."


Indah dengan cekatan merapikan kertas file di meja bos sesuai dengan draft yang sudah tertulis di lembar depan map.


10 menit.


20 menit.


30 menit.


Terdengar dengkuran halus dari arah si bos Diky. Indah tersenyum tanpa menoleh ke sumber suara.


Segera menyelesaikan tugasnya. Dan bergegas keluar, menutup rapat pintu dengan tanpa suara.


****


Flash on Indah.


"Ndaah, ada surat buatmu!" Ujar Dina sembari meletakkan sepucuk surat yang wanginya, mmm ... bingit di atas meja.


"Dari siapa, Din?" tanyaku, sambil melihat surat yang Dina letakkan di meja, tanpa ada keinginan untuk mengambilnya.


Dina hanya mengendikkan bahunya "baca aja, nanti kan kamu tahu sendiri?" jawab Dina acuh. Dina temanku sejak SD. Kami sekelas lagi di SMP.


Dina merupakan idola di sekolah.


"Dari siapa, Ndah?" tanya Inge teman sebangku.


"Entah!" jawabku, sambil melanjutkan menulis catatan pelajaran sebelumnya.


"Gimana kalo lo aja yang buka, Inge?" usulku, tiba-tiba saja perasaan jadi tidak enak dengan adanya surat itu.


Merasa mendapat angin surga, Inge langsung mengambil surat itu dan menyobek pinggir surat.


"Aku baca ya, Ndah?" lirih Inge bertanya, tangannya sibuk membuka lipatan kertas yang dia keluarkan dari amplop. Anggukan kupilih sebagai jawaban pertanyannya.


****


💖💖💖Asssalamualaikum


Kuharap kamu bahagia selalu.


Sudah lama, Aku, memperhatikanmu dalam diam.


Kulakukan dengan cinta


Yang semakin lama semakin meraja


aku ... tak sanggup tuk mengatakan langsung padamu.


Karena, aku, terlalu rapuh 'tuk mendengar penolakanmu.

__ADS_1


walau kuyakini kaupun sama


Satu rasa denganku


Maukah kau terima cintaku padamu?


Kutunggu balasanmu


Satyo 3-5


💝💝💝Wa alaikum salam


****


"Cie ... Ndah," goda Inge bikin blushing pipiku.


"Gue, nggak tahu orangnya, Nge," balasku tanpa berpaling ke arahnya.


"Ayo!" ajak Inge, sembari menarik tanganku. Kami setengah berlari keluar kelas, kelasku 3-4, berarti sebelah kelasku 3-5.


"Inge lepas!" kataku sembari hentakkan tanganku yang ditarik Inge.


"Jangan! malu," jelasku sembari menutupi pipiku yang sudah merah.


Inge hanya mengerlingkan matanya, mulutnya tak berhenti yang senyum- senyum tak jelas. Entah apa yang sedang di pikirannya sekarang.


"Biar gue yang nyari, nanti gue tunjukkan ke lo ya, Ndah?" usul Inge sembari memelukku, dan mengajak kembali ke dalam kelas.


Flash off.


***


Tok! tok!


"Assalamualaikum, permisi, Pak!" Dengan perlahan Indah mengetuk dan membuka pintu ruangan bosnya.


Cekrek ...!


"Ya Indah, ada apa?" jawab Diky, dengan menatap intens Indah, terasa ada yang bergejolak di dada Diky saat pandangan mata mereka bertemu.


"Mmm ... anu, Pak, ada meeting dengan Wijaya Corp. Jam 10 dan makan siang dengan Angkasa Corp." Indah menjelaskan rentetan acara hari ini.


Diky mengangguk beberapa kali. Diliriknya arloji di tangannya masih jam 8.45.


"Kau siapkan berkasnya ya, Indah? kamu ikut lagi meeting hari ini, kamu nggak papakan!" ujar Diky dengan suara yang lembut, selembut tatapannya ke arah Indah.


"Baik, Pak! Permisi, saya siapkan berkas dulu. Assalamualaikum!" pamit Indah, membalikkan badan dan melangkahkan kaki ke arah pintu.


"Wa'alaikum salam!" jawab Diky, wajahnya tersirat kegalauan. Entah, perasaan apa namanya ini? kenapa rasanya greget, mangkel jadi satu bila jauh dari gadis itu.


Salah tingkah, bahagia beraduk saat dekat dengan gadis itu.


"Sepertinya, aku sudah jatuh cinta," lirih Diky, di bibirnya tampak senyum tipis penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2