
Hening sejenak.
"Maaf, Mas Bayu, aku belum mencintaimu, hingga saat ini," pelan ucapan Indah, namun Bayu masih bisa mendengar suara itu.
"Aku mencintai orang lain, orang yang pernah membuatku membencinya, tapi malah sekarang jadi alasan untuk mencintainya dengan sangat," tambah Indah.
Ditundukkan mukanya ke pasir karena tak sanggup melihat kekecewaan di wajah Bayu, namun inilah hal penting yang harus Indah katakan dari awal, agar tidak ada duri nantinya.
"Lalu ..., Bagaimana menurutmu rencana pernikahan kita ini," tanya Bayu.
"Aku tidak ta_,"
"Siapa orang yang kau cintai, Ndah, apakah aku mengenalnya?" Potong Bayu dengan cepat.
"Ya ..., Kau mengenalnya, dia teman SMP. Juga bos ditempat aku kerja,"
"Diky!" Pelan namun tegas Bayu menyebutkan nama orang yang Indah maksud.
"Apa dia menyintaimu juga,"
Tanya Bayu.
"Tidak ..., Aku tidak mencintai Indah," jawab seseorang dari arah belakang Indah.
Serentak bagai dikomando, Indah dan Bayu menoleh ke arah suara tadi, tampak Setyo melangkah mendekat.
Indah kaget nggak nyangka ada Setyo di belakangnya.
"Sejak kapan kamu ada di belakang, Set?"
"Sejak kau diberi kue ultah sama Bayu," jawab Setyo sambil tersenyum.
"Tepatnya sich kami datang berdua ke sini," tegas Setyo.
Seketika Indah menundukkan kepala, tak berani menatap, tak bisa terbayangkan bagaimana perasaan Setyo melihat dia bercanda tadi dengan Bayu.
__ADS_1
'duh mau taruh mana nich muka' batin Indah malu.
"Kenapa, Ndah, kok jadi salting gitu?" tanya Bayu yang dari tadi merhatiin Indah dan Setyo.
"Haaaah kamu malu ke Setyo ya, Ndah. Kamu beneran cinta ma dia?" Goda Bayu melihat Indah tak berkutik di depan Setyo.
"Sayangnya ..., aku tidak mencintainya," tegas Setyo.
Indah yang mendengar dua kali pernyataan Setyo yang tidak mencintainya, tanpa disadari air matanya jatuh, perih rasanya hati, tenyata dia tertipu yang kedua kali dengan orang yang sama, dan masalah yang sama, itu amat menyakitkan.
"Beneran nich, kamu nggak cinta ma Indah. Ikhlaskan kalau dia jadi pengantin perempuan buatku besok?" Tanya Bayu sambil menatap Setyo.
"Kalian jahad, kalian pikir aku barang yang bisa seenaknya dioper bila kalian nggak suka," ucap Indah, sambil bergegas berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Bayu dan Setyo yang masih terhenyak.
"Eh ...!"
Segera Setyo melangkah berlari mengejar Indah disertai tawa berderai Bayu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Hai ..., Ndah!" teriak Setyo, yang sudah berhasil merebut tangan Indah, namun disentak Indah hingga genggaman tangan itu lepas kembali.
Setyo tak perduli apa yang dikatakan Indah, kembali mengejar, malah kini berdiri menghalangi langkah Indah.
"Kamu mau apalagi, aku sudah tidak perduli dengan apa yang akan kau katakan," tegas Indah, mencoba menyingkirkan Setyo dari hadapannya.
"Aku akan pergi dari hadapanmu setelah kamu dengarkan apa yang akan kukatakan,"
"Tidak usah, sudah tak penting," isakkan Indah mulai terdengar halus dan pelan.
Setyo akhirnya melepaskan Indah karena sudah tak tahan dengan isakkan yang didengarnya.
Dengan memegangi tengkuk leher bagian belakangnya, Dipandanginya punggung Indah yang melangkah menjauh sambil membawa rasa kecewa, dan itu disebabkan oleh diri seorang Setyo, menyesal.
Dengan langkah lunglai, Indah melangkah memasuki pintu kamarnya, ah ..., tidak ada lagi harapan yang tersisa di hati, tak akan ada keajaiban lagi, semua terasa begitu menyesakkan, menyakitkan.
'aku mulai benci hidup ini, serasa berat penuh beban apalagi sangat sakiiit di bagian hati' batin Indah, matanya tak berhenti mengeluarkan air mata walau bibirnya tak mengeluarkan suara.
__ADS_1
Langsung menutup pintu dan menguncinya lagi, memasukkan baju dan semua pernak-pernik yang dia punya ke dalam tas ransel.
Siap untuk pulang, hanya perlu menunggu waktu.
Menuangkan kopi dari termos yang memang sengaja dipesannya dari resort, membuka jendela namun membiarkan tirainya dengan alasan orang tak bisa melihatnya dari luar jendela.
"Aah ... Sudahlaaah!" Sentaknya sambil membuka jilbab dan melemparnya ke kasur.
Dengan duduk bersila, di teguknya beberapa kali kopi yang sudah mulai menghangat, air matanya sudah berhenti mengalir, namun hatinya masih sakit.
Satu jam sudah terlewati, Indah masih berada dalam posisi yang sama, hanya saja mug yang tadi penuh isi kopi, kini telah kosong.
Toook! ... toook!
"Assalamualaikum."
"Indah! Kau di dalam? Buka pintunya, Mas mau bicara."
Indah yang hafal dengan suara di balik pintu, bangkit tanpa mengambil jilbab dan segera membuka pintu kamar.
"Wa alaikum salam, Mas,"
Tampak Dion berdiri di pintu, sendirian.
"Mas boleh masuk, Ndah?"
Dengan tersenyum, Indah mengambil tangan kanan Dion, membawa ke hidungnya, lalu memberikan dahinya ke arah Dion untuk dicium, dipeluknya Dion sambil terisak pelan.
Dion menutup pintu kamar, dan membawa Indah yang masih terisak dipelukannya untuk duduk dikursi.
"Sudahlaaah ..., Mas tahu kok apa yang sudah terjadi," ucap Dion.
"Kok bisa tahu?" Tanya Indah, sambil melepaskan pelukan di tubuh Dion.
"Oiya ... Bagaimana semua orang tahu aku ada di sini, siapa yang memberi tahumu?"
__ADS_1