
"Ndaaah, .... Ada yang perlu gue omongin ma, lo!" ucap Selly tanpa memandangku, tangannya sibuk merapikan file di meja.
"Ada apa, Sell?" jawab Indah, memandang heran. Biasanya Selly langsung ngomong, tapi sekarang malah minta waktu buat ngomong.
"Gimana kalo pulangnya kita ngopi dulu di resto depan?" tambah Indah, tangannya kembali ke menari di atas komputer.
"Ok! siap bu Bos!" jawab Selly, sambil melangkah ke ruangan Bos.
"Whaat!!" mata Indah melotot ke arah Selly, sedangkan yang dipelototin dengan cuek melangkah ke ruangan Bos.
***
Disinilah Indah dan Selly berada, duduk berhadapan hanya dipisah sebuah meja, dimana telah tersuguhi dua cangkir kopi mocca di atasnya.
Suasana resto yang lumayan sepi, mendukung untuk Selly berbicara dari hati dengan Indah.
"Lu, mau ngomong apa sich, " tanya Indah, "tumben-tumbenan ngajak ngomong kayak gini?" tambahnya lagi. Mata Indah memandang wajah teman kantornya ini.
Selly, seakan meragu, rancangan kata-kata yang tadi dirangkainya seakan larut, ikut adukan kopi yang ada di depannya.
Tidak berani membalas tatapan Indah. Diteguknya kopi di hadapannya sejenak, berharap dapat menstabilkan gugupnya.
"In, __ bagaimana jawabanmu untuk Bayu, sudah kurang berapa hari lagi?" tanya Selly pelan, sambil menatap mata Indah. Indah merasa aneh dengan pertanyaan Selly, timbul praduga-praduga di benak Indah.
"Kenapa, Sell?" berbalik tanya ke Selly, "kira-kira, lo, punya solusi buat gw ngak?" sambung Indah, masih mencoba bersikap senormal mungkin.
"Apapun keputusan, lo, itu terserah hati lo!" jawab Selly.
"Cuman gue minta ma lo, apapun keputusannya nanti, gue harap lo terus kerja ya!? jangan sampai berhenti kerja! pleaseeee !!" harap Selly.
Mencelos hati Indah mendengar ucapan Selly, menyesal telah berburuk sangka pada Selly.
"Pleaseeeee!" lagi Selly merajuk, dipegangnya tangan Indah, ibarat anak kecil yang tidak ingin dipisahkan dengan ibunya,
"Aku akan berusaha untuk itu, Sell, karena aku juga masih mencintai pekerjaanku," jawab Indah, tersenyum berusaha memberikan kepercayaan pada sahabatnya.
"Kalau semisal kau nanti dipaksa berhenti gimana?" tanya Selly lagi, sungguh dia takut apa yang pernah dialaminya, bakalan dialami oleh temannya ini.
"Atau, lo jadikan sebagai mahar aja, Ndah?" tambah Selly, sembari tersenyum, Selly yakin idenya pasti berhasil.
"Emangnya kenapa kalo aku berhenti kerja, Sel? kamu takut kangen ma aku yaaa?"
__ADS_1
goda Indah sambil senyam- senyum ke arah Selly.
"Aku pikirin nanti lagi dech!" tambah Indah, sambil menghabiskan kopi yang dipesannya tadi.
"Ayo! kita sholat maghrib dulu!" ajak Indah.
Selly menuruti kemauan Indah, raut mukanya mencetak jelas guritan kesedihan. Ada Apa dengan Selly?
Baru saja, Indah hendak melangkahkan kaki menuju pintu rumah kost, terlihat di depan pintu ada dua orang berlawanan jenis, yang sedang hendak berpamitan dengan teman kost Indah.
"loo, itu orangnya sudah datang!" ucap Susi, teman satu kost Indah. Serentak kedua orang berlawanan jenis itu menolehkan pandangannya kepada Indah.
"Hai, Ndah!" sapa Eko, dia teman kecil Indah, benar-benar teman sejak kecil karena rumah mereka dekat. Bukan rumah Indah, tapi rumah kakek. Dulu ayah dan bunda sama-sama kerja, sehingga Indah dan Dion dititipkan ke Kakek dan Nenek. Pagi hari diantar, sore dijemput.
Tapi bukan Eko yang bikin Indah ragu menjawab sapa'annya, keberadaan sosok wanita di sebelah Ekolah yang menjadi perhatian Indah.
"Ndaaah!" sapa wanita itu pelan, namun mampu menyadarkan ke blank-ngan yang melanda Indah. Si wanita sadar, tuan rumah tidak suka atas kedatangannya.
Eko menghela nafasnya dengan kasar, ini diluar dugaannya.
Mmm ....
"Mari! Silahkan masuk, tidak enak berdiri di depan pintu, pamali!" ajak Indah dengan nada suara yang sedikit kasar, Susah payah ditahannya rasa benci di dada.
"Silahkan duduk!" ujarnya lagi kepada kedua tamunya.
"Gimana kabar Om dan Tante Ndah?" tanya Eko basa-basi. Indah yakin basa-basi kerena tiap ujung minggu, Ayah dan Bunda akan mengunjungi Kakek dan Nenek.
"Sudahlaaah, ada apa kalian ke sini? tidak usah basa-basi lagi!" ujar Indah, ingin segera mengakhiri pertemuan ini.
Entah apa hubungan Eko dengan wanita itu? kenapa mereka duduk berdua dan bersisihan. Apa mereka sudah ...?
Eko menatap mata wanita itu "katakanlah, bicarakan apa yang selama ini mengganggumu!" ujar Eko lembut. sambil menggenggam erat salah satu tangan wanita itu.
"Kalian sudah menikah, ya?" tanya Indah.
"Aku sungguh merasa tak pernah kau anggap lagi sebagai seorang sahabat, Ndah" cicit Eko "kau berjanji akan datang, tapi ternyata tidak!"
Indah terdiam, mengingat-ngingat kejadian yang lampau.
Masya Allah ....
__ADS_1
Indah tersadar karena mulai mengingat sesuatu.
"Maaf ... maaf! aku lupa waktu itu." aku merasa bersalah, Eko adalah teman terbaikku.
"Jangan beralasan, ketidak datangnganmu karena yang jadi istriku adalah, Dina?"
"Itu melukaiku dan aku tahu kamu bukan orang yang suka mendendam." Panjang lebar Eko berkisah, mungkin itu bukan lagi disebut bicara melainkan curhat.
"Tidak, pastilah bukan karena, dia!" jawabku sambil melirik ke arah Dina. Ah jawaban bohong, aku benci harus melakukan itu.
Ya, dia adalah Dina!
"Maaf, kamu benar, aku tidak datang karena dia," lirih Indah, mencoba untuk bersikap jujur pada diri sendiri atau pada orang lain.
"Maapkan aku Ndah! sungguh aku tidak menduga. Sesuatu yang aku anggap lucu, ternyata menyakitkan bagimu," kata Dina, berdiri dari sisi Eko, mendekat dengan setengah menjongkok,dan menggenggam tangan kiriku dengan kedua tangannya.
Dina sadar telah melempar batu ke dalam riak hati Indah, yang tanpa disadari, luka akibat lemparan batu itu teramat dalam.
"Aku dulu egois, menganggap biasa saja saat sikapku banyak menyakitin temanku," mata Dina tak lepas dari memandang Indah.
"Maapkan aku ya, Ndah, aku mohon!" ujarnya lagi.
Ah, Indah jadi serba salah, Dina memang sudah membuat luka di hatinya, tapi mereka berteman juga tidak sebentar.
"Aku memaafkanmu, Din!" ujar Indah, tulus.
Dina langsung memeluk Indah sambil menangis, ucapan terima kasih tidak putus keluar dari mulutnya.
Indah membalas pelukan Dina, dendam ini harusnya selesai beberapa tahun yang lalu. Tapi tak ada kata terlambat bukan?
"Apa aku juga boleh memelukmu, Ndah?" kata Eko, yang dari tadi hanya diam membiarkan sahabat dan istrinya berdamai dengan masa lalu mereka.
Dan lihat! Indah dan Dina serempak melotot, dan Eko anggap itu sebuah jawaban atas pertanyaannya tadi.
Eko tersenyum "makasih, aku tahu kamu pasti mau memaafkan, Dina" jelasnya sambil mengelus kepala Dina yang terbungkus hijab. Dina pun sudah mulai mereda tangisnya.
Percayalah hidup tanpa dendam itu Nikmat.
"Ndah ...!" panggil Eko yang sudah kembali duduk bersama Dina.
"Apo ...!" jawab Indah, dengan ekspresi muka tidak setegang tadi.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Setyo?"