Indah

Indah
Indah 15


__ADS_3

"Wa alaikumussalam," jawab beberapa suara dari dalam ruangan dengan nada yang tak merdu dan tidak serempak.


"Hai, every body, apa kabar?" Tanya Indah saat melangkah ke dalam ruangan sambil mengedarkan pandangannya ke arah warga di dalam ruangan itu.


Tak perlu waktu lama untuk bikin ruangan yang semula hening menjadi bising macam pasar malam, Indah hanya mesam-mesem mendengarkan godaan teman sejawat, melangkah terus menuju ke meja kerja dekat pintu ruangan Big boss. meninggalkan Inge dan Mas Dion yang duduk di kursi menunggu khusus tetamu.


Diambilnya sebuah map yang sudah lama disiapkan Indah dari laci meja kerjanya, dibaca diperiksa ulang, lalu tampak senyum manis sambil menutup map itu, terkesan puas.


Dilihatnya tempat duduk Selly yang kosong, lalu matanya beralih mencari teman yang lain.


"Mas Bian, Selly nggak masuk ya? Kok kosong kursinya?" Tanyaku ke mas Bian, orang yang sering kususahkan kalo aku cuti.


"Masuk kok, cuman tadi ada tamunya, entah sekarang pergi ke mana," jawabnya tanpa menoleh ke arah Indah, tetap melanjutkan kerjaannya didepan komputer.


Indah sejenak memandangi kursi Selly, menghela nafas ringan kemudian melangkah menuju ruangan Big Bos.


Tok! ...tok!


"Masuk," terdengar suara perintah menyuruh Indah masuk.


"Assalamualaikum, Pak," sesaat setelah Indah sudah ada di dalam ruangan, tangannya bergerak menutup pintu.


"Maaf, Pak, saya mengganggu sebentar, saya ingin mengajukan izin Pak," ujar Indah, kakinya melangkah mendekati meja Bos.


Terdengar helaan nafas berat seseorang di balik kursi, membuat Indah yang berdiri menatap punggung kursi dengan perasaan tak menentu, rasanya seperti ingin berlari meninggalkan ruangan tapi apa daya kakinya terpaku susah digerakkan.


Sreeeeet.


Akhirnya kursi itu berbalik arah, kini menghadap ke arah Indah.


"Bagaimana kabarmu, Ndaah?" Tanya Diky, sosok di balik kursi. Matanya memandang Indah dengan senyum di bibirnya, seakan ingin mengatakan dia baik-baik saja.


Indah gelagapan menerima sapaan dan senyuman dari Diky,


'ah rasa ini harusnya tak ada, ini salah, ini tak boleh' desis batin Indah,

__ADS_1


Melihat Indah yang hanya terdiam sambil memandangi dirinya, timbul pikiran ingin menggoda, hingga membuat senyum Diky bertambah lebar.


Diky perlahan berdiri dari kursinya berusaha tanpa suara sedikitpun, badannya dicondongkan ke arah depan hingga menyisakan jarak yang sedikit dengan keberadaan Indah. Dan jari telunjuknya menyentuh dahi Indah sambil berucap,


"Doaaargg!"


Tersentak Indah dari lamunannya, kepalanya terhuyung sedikit ke belakang karena hentakan telunjuk Diky.


'Astaugfirullah, nih orang ja_had banget sih' ngedumel batin Indah.


Apalagi saat dilihatnya Diky tertawa lepas, matanya tak henti memandangi Indah, sambil kembali duduk di kursinya.


"Mau nikah kok suka ngelamun, kamu lagi mikir apa?" Tanya Diky, mata itu masih tidak berpindah obyeknya,


"Anu ... Pak, saya mau ngajukan cuti, ini berkasnya," ujar Indah sambil meletakkan map yang ditangannya ke meja Diky.


"Ini hanya izin kan, Ndah? Kamu masih kerja di sini kan? Berjanjilah padaku, kau akan tetap kerja di sini," pinta Diky tulus dan terlihat keseriusan di wajahnya, qekor matanya melirik map yang tadi Indah letakkan di meja.


"Iya, Pak, ini hanya izin saja, bukan surat permohonan diri kok," jawab Indah tersenyum, ah teringat janji ke Selly tentang izin bekerja setelah menikah, sampai detik ini belum pernah dibicarakan dengan Bayu.


Indah bergegas balik arah menuju ke luar ruangan kerja Diky.


Dan sebelum benar-benar menutup pintu, sempat terdengar suara Diky mengatakan, "aku mencintaimu, Ndah, sangat ...."


Sekejap tubuh Indah menegang, serasa ada paku alam yang merajam kaki dan tangannya. Matanya mulai mengaca.


'Aku pun begitu, Setya,' batin Indah, tangannya mulai bergerak kembali menutup pintu ruang kerja Bos.


Sembari melangkah menghampiri posisi Inge dan Mas Dion, diambilnya phone dari dalam tas, lalu kemudian mendeal sebuah nama yang sudah tersimpan di memori phonenya.


Tuuuuut ... tuuuuuuut ....


Nada bahwa sedang terhubung dengan yang dituju.


"____----_____"

__ADS_1


"Siang, Mas. Assalamualaikum, nanti siang ada waktu? Aku punya sesuatu yang harus kita bahas, demi kita berdua kedepannya," ujar Indah pada orang yang sedang ditelponnya.


"____-------_____"


"Kutunggu ya, Mas. Di resto depan kantor, kebetulan baru sempat ngurus izin ke kantor."


"____----____"


"Kita bicarakan nanti, jangan sampai lupa ya, Mas,"


"_____----_____"


"Wa alaikum salam," tutup Indah, diletakkan kembali phone ke dalam tas bahunya.


"Siapa, Dik. Kok serius banget nelponnya," ujar Mas Dion, berdiri dari kursi sambil menarik tangan Inge agar ikut berdiri juga.


"Mas, kita jangan langsung pulang, aku mau nyari Selly dulu di resto depan," sengaja Indah tidak menjawab pertanyaan Mas Dion, dan mengalihkannya ke Selly, walau sebenarnya soal Selly tidak bisa dikatakan bohong.


Sendiri Indah mencari posisi duduk yang nyaman sambil menunggu sesorang yang tadi berjanji menemuinya dalam resto, Mas Dion sedang menemani Inge memesan menu yang ingin dinikmati bersama siang ini.


"Dam, aku nggak mau Indah bernasib sama denganku, kuharap kau tidak mengambil keputusan yang salah dengan menjodohkannya dengan Bayu."


Indah kenal suara itu, matanya mulai mencari sumber suara, ternyata Adam dan Selly sedang duduk berhadapan di meja pojok kanan di luar resto, tempat yang tidak pernah Indah coba nikmati saat sedang bersama Selly, "aku sudah ingatkan itu pada Mas Bayu, dia berjanji akan menjaga Indah."


Indah penasaran dengan yang mereka bicarakan, kenapa ada namanya dan nama Bayu?  Mendekati pintu dengan perlahan tanpa bersuara namun mata tetap fokus ke arah Selly dan Adam.


"Janji itu pun yang dia ucapkan padaku, namun nyatanya aku disekap di dalam rumah indekost, tidak boleh menemui orang tuaku sendiri. Dan yang lebih menyakitkan, sindiran dan fitnah dari ibunya." Selly menghela nafas mengatur emosi yang nampak sangat dijaga agar tidak meluap, dilihat dari caranya berbicara seolah kejadian itu baru dialaminya kemarin.


"Jangan menutup mata dan telingamu, Dam,"  sarkas Selly, matanya yang mulai berair, tajam menatap Adam yang memandanginya pula.


"Apakah kau mau Indah diperlakukan sepertiku? Hidup tertekan tanpa diberi akses bergaul dengan orang luar, termasuk dengan keluarganya sendiri," pelan ucap Selly, namun jelas ada marah dan takut di nada suaranya.


"Harus selalu merasa bersalah, ditindas oleh mamanya Bayu, di depan keluarga besar, tanpa pembelaan sedikitpun dari Bayu," Selly terus menekan Adam yang tetap memandangi Selly, tangan Adam bergerak meraih tangan Selly, dan menggenggamnya erat, seakan ingin memberikan kekuatan pada Selly, dan Selly menerima genggaman Adam.


"Ingat Adam, waktu itu statusku hanya tunangannya saja, bisakah kamu bayangkan bagaimana sikap Bayu ke Indah, statusnya sudah istri, dan kewajiban istri patuh pada suami," lirih suara Selly, namun masih bisa Indah dengar dengan jelas, tubuh ringkih Indah ngelosot jatuh ke lantai dengan mata yang entah sejak kapan sembab, matanya nanar menatap lantai.

__ADS_1


__ADS_2