Indah

Indah
Indah 26


__ADS_3

Dion tersenyum sambil mengambil mug bekas kopi Indah, dan memberikan isyarat kalo dia mau kopi.


Indah bangkit berdiri, mengambil termos dan menuangkan isinya ke dalam mug, lalu memberikannya ke Dion.


"Inge yang ngasih tahu aku," ujar Dion setelah sedikit menyesap kopi.


"Jadi setelah kita antar dia pulang ke rumahnya, ternyata dia menghubungi rumah indekostmu, katanya sih waktu itu yang nerima namanya Lely, terus Inge minta tolong kalau suatu saat kamu datang balik ke indekost, agar segera menghubungi Inge," jelas Dion sambil menatap Indah.


"Tapi ternyata, Lely khawatir juga denganmu, benar dia menghubungi Inge, tapi dia juga yang mengikutimu sampai ke sini, dan memastikan kamu aman,"  lanjut Dion yang mengambil posisi duduk di depan Indah.


"Kamu harusnya bersyukur, Dik. Banyak temanmu yang mengasihi dan menyayangimu."


"Ya Allah ... Aku tak pernah menyangka mereka sangat menyayangiku, Mas," lirih suara Indah, "tapi yang kusayangi tidak menyayangiku."


"Sudahlaah ... kamu mau kan kuajak pulang malam ini," tanya Dion sambil menegak habis kopi.


"Besok kita berdua akan menikah bersama, kamu nggak mungkin bikin malu Ayah dan Bunda kan?" Tambah Dion mengingatkan Indah.


"Iya, Mas. Kita pulang sekarang," setuju Indah, bergegas mengambil ransel yang sudah dari tadi siap untuk dibawa pulang.


'Aku harus ikhlas dengan semua ini, harus!' batin Indah sambil melangkah keluar dari kamar.


Tas ransel yang semula ada di bahunya diambil alih Dion.


Selesai mengurus semuanya, Dion dan Indah melangkah keluar resort, menuju ke parkiran mobil.


Selama perjalanan, antara Dion dan Indah sama-sama diam, seakan memberikan waktu pada pikiran-pikirannya sendiri untuk berdialog.


Setibanya di rumah, Indah hanya bisa melongo melihat rumahnya sudah disulap sedemikian cantik, dan luar biasa. Sanak saudara pun banyak yang berdatangan, suasana rumah yang semula senyap menjadi hingar bingar.


Suasana hangatpun terasa waktu Indah dan Dion masuk rumah.

__ADS_1


Serasa seperti sedang merayakan lebaran, semua berkumpul, saling ledek, ada yang baper. Lain lagi dengan yang masih di bawah umur, saling kejar, rebutan, Indah sejenak bisa melupakan kesedihan hatinya.


Setelah menyapa dan salim sungkem dengan keluarga  lebih tua, Indah yang bergegas mau masuk kamar terhenti karena panggilan Bunda, mengisyaratkan agar dirinya masuk ke kamar Bunda.


Ditutupnya kembali pintu kamar Bunda, dilihat dan dihampirinya Bunda yang duduk ditepi ranjang menunggu dirinya.


Setelah puas memeluk, Indah disuruh duduk dekat samping Bunda.


"Besok kamu akan jadi milik orang, tak ada kewajiban  seorang putri kepada orang tuanya setelah menikah,"


"Orang yang wajib kau patuhi adalah suamimu, bukan Bunda dan Ayah lagi, tapi itu bila di jalan Allah!" tekan Bundanya.


"Sanggup atau tidak, jelek atau bagus, puas atau menyebalkan antara kamu dan suamimu nanti, tak usah kau bicarakan dengan orang lain, cukup kau, suamimu dan Allah yang tahu."


Bunda terus menasehati Indah, yang hanya bisa terdiam sambil memandangi wajah orang yang melahirkannya itu, bukan tidak perduli dengan yang dipesankan , tapi karena perasaan sedih harus berpisah dengan orang yang dicintainya.


Masih bisakah bercerita seperti ini, setelah dia menikah dengan Bayu nanti.


Bunda langsung terdiam, sambil membalas pelukan Indah, matanya pun berkaca-kaca. Rasanya baru kemarin putri bungsunya masih bermanja-manja, dan sekarang akan menjadi milik orang.


"Semoga kamu bahagia, Nak! Semoga suamimu bisa menjadi imam yang baik, yang bisa membawamu ke surga."


"Aamiin, ya Allah aamiin,"


Jawab Indah bersama Bunda.


"Sekarang, kamu istirahat, besok sebelum subuh kamu harus sudah bangun, biar kelihatan seger, ayo tidur,"


"Bunda, bolehkah aku tidur di sini malam ini, aku masih ingin dipeluk Bunda, boleh ya ...?" pinta Indah sambil merengek layaknya anak kecil.


Bunda tersenyum sambil mengiyakan permintaan putri bungsunya.

__ADS_1


Tiba harinya.


Sebelum subuh, semua sudah terbangun.


Ya ... kecuali para bocah.


Indah baru saja melangkah masuk ke kamar pribadinya, setelah semalam dikeloni Bunda


'Wooow ... indahnya kamarku, apalagi nuansa warna biru' batin Indah sambil tersenyum sumringah mendapati kondisi kamarnya sesuai dengan impiannya.


Sejenak, senyumnya kembali menghilang, teringat lagi dengan siapa dia akan menikah. Apalagi demi mendengar perkataan Diky kemarin.


Aaah ... pupus sudah angan mendapatkan keajaiban doa.


Tooook! ... tooooook!


"Mbak, orang salonnya 'dah datang 'nih!"


"Iya, masuk aja, nggak dikunci kok," balas Indah.


"Looh, mbaknya masih mau ngapain kok bawa handuk?" sambil menutup pintu kamar, seorang wanita paruh baya berkerudung lebar bertanya.


"Mau mandi dulu Tante, biar segeeer"


"Jangan mandi, ambil wudhu' aja ya, biar nggak keringetan nanti kalo habis dandan,"


"Ooo ... iya Nte, ambil wudhu' aja," jawab Indah sambil terbata,


'mana bisa sehari tanpa mandi, mending mandi aja ... ah," batin Indah, sambil meneruskan masuk kamar mandi yang ada di dalam kamar.


"Riasnya nunggu habis sholat subuh ya Tante," ujar Indah, begitu selesai dari kamar mandi.

__ADS_1


"Iya, sayang," jawab Tante tersebut.


__ADS_2