Indah

Indah
Indah 12


__ADS_3

"Astaugfirullah!" jerit Indah. Tersentak, dipandanginya ketiga temannya, dia baru sadar kalo semua mata ketiga teman, sedang fokus padanya.


"Baksonya dimakan, Ndaah," suruh Diky dengan suara lembut,


"I ... iya," jawab Indah pelan, kemudian memulai menikmati baksonya dengan pelan, suapan yang ketiga, indah mengangkat kepala.


"Kenapa kalian ngeliatin gue? ada yang salah ya?" tanya Indah sambil memandangi wajah-wajah yang kini sedang kompak memandanginya.


"Bi, anterin aku ke toilet dong!" ajak Dina ke Eko.


"Ayo!" jawab Eko berdiri dan melangkah ke arah dalam cafe, di ikuti Dina.


"Aduuuuh ... gimana nich?" desis Indah, berdua dengan Setya bukanlah hal yang pertama kali Indah lakukan, tapi kenapa sekarang kok jadi beda ya?


"Indah! ... aku mencintaimu!" kata Setya penuh percaya diri, matanya menatap lekat mata Indah.


"Kuharap kau pun masih mempunyai perasaan yang sama kepadaku?" tanya Setya, tanpa mengalihkan pandangan mata dari Indah.


Indah kebingungan, mulutnya membeku dan matanya mulai memanas. Jawaban apa yang harus dikatakan, jawaban bohongkah? atau jujur saja!


"Maaf Setya, ...  aku tidak bisa menerima cintamu, walaupun aku juga menyimpan rasa yang masih sama, tapi rasa kita sudah tak boleh terjadi." lirih suara Indah. Harus menahan isak di dada dan riak di mata,  ini sungguh berat, batin Indah


"Kenapa? Apakah kau masih membenciku, tidak bisakah kita berdamai dengan masa lalu kita?" cicit Setya, matanya masih setia memandang Indah.


Setya tidak menduga begitu dalam telah membuat jurang pedih di hati Indah, hingga walaupun sudah berbatas waktu yang lama, luka itu ternyata masih ada, meninggalkan bekas yang terasa ngilu bila diingat, mungkin.


"Maaf ... aku sudah dikhitbah orang, Set! Baru saja Ayahku menerima lamaran dari Mas Bayu," Jelas Indah lirih, terisak pelan, tak berani mengangkat kepalanya.


"Innalillahi!" lirih Setya kaget bukan main, badannya lemes seketika, bagaikan dilolosi seluruh tulang di badannya, untung kursi yang ia duduki ada sandaran, hingga bisa menahan badan Setya.


Matanya terpejam, ada gulir di ujung matanya.


"Apakah ini bagian dari balas dendam-mu kepadaku? kau bilang kau sudah mema'afkan aku, tapi kenapa kau melakukan ini kepadaku, kenapa Ndah, kenapa?" ratap Setya, matanya menatap nanar ke Indah yang tertunduk dan terisak.


"Kenapa kau sekejam ini padaku, Ndah? Aku mencintaimu, amat sangat! Apa tak terbacakah selama ini olehmu?" ocehan Setya menambah tinggi suara isakan Indah.


Indah bukannya tidak membaca perubahan sikap Setya selama ini, hanya saja dia terlalu takut menilai Setya. Takut terluka lagi.


"Aku harus bagaimana, Ndah? katakan padaku, apa yang harus aku perbuat agar kamu mau menerimaku?" tanpa lelah Setya terus berharap pada Indah, tanpa Setya sadari, dia telah membuat Indah semakin merasa bersalah.


"Kemana aja kau selama ini, kenapa baru sekarang kau datang, kenapa Setya?" pekik Indah tertahan, ingin rasanya Indah teriak mengeluarkan beban hatinya, namun dia sadar,ini tempat umum.

__ADS_1


"Dan ... dengan seenaknya kamu nyalahin aku, menyudutkan aku! Memangnya kamu siapa? " bentak lirih Indah, seakan hendak memakan Setya bulat-bulat.


Indah pejamkan kedua matanya, tersadar posisinya tidak memungkinkan untuk  bersikap sarkas. Meredam emosi yang hampir memuncak.


"Astaugfirullah, maaf Setya ... aku tidak bermaksud kasar padamu, aku hanya kecewa." Bergetar suara Indah menahan emosi dan tangis agar tidak pecah.


"Terima kasih kau mau mencintaiku, karena akupun mencintaimu, tapi ...." Indah menggantung kalimatnya.


"Bayu sudah mendahuluimu bertemu Ayah untuk mengkhitbahku," terus Indah nanar.


"Dan aku ... aku tidak punya keberanian untuk membantah keputusan orangtuaku," tambah Indah lagi, air matanya benar-benar telah membasahi hijab yang dipakainya.


Dengan cepat, Indah berdiri dan melangkah menjauh dari tenda kafe, meninggalkan Setya yang terpaku di kursinya.


Sambil menangis, Indah berjalan cepat sambil menunduk, hatinya sakit, dan entah kenapa kini kepalanya tiba-tiba saja pusing. Indah memegangi kepalanya sambil sedikit memijit kepala di balik hijab, berharap bisa mengurangi kesakitan yang dialaminya.


Kepalanya menoleh kesana kesini berharap ada taxi lewat, namun sampai keluar dari kawasan kafe tenda, yang Indah harap tidak kunjung melintas.


Sedangkan rasa sakit di bagian kepala malah semakin bertambah, hingga akhirnya Indah merasa badannya ringan, seringan kapas. Dan mendadak  tidak ingat apa-apa lagi.


***


Terdengar suara isak tangis yang lirih dari arah sebelah kanan tempat tidur Indah. Terasa ada yang sedang menggenggam tangannya erat ... sambil menangis.


"Setya ... ," panggil Indah pelan, namun mampu masuk ke gendang telinga Setya.


Setya menegakkan kepalanya dari tidur duduknya, tersenyum "kamu sudah siuman ya, Ndah?" tanya Setya sambil tersenyum, menyeka air mata di wajahnya, langsung berdiri dan menekan tombol di atas kepala Indah.


"Alhamdulillah ...." Setya tak henti mengucapkan rasa syukur, sambil memandangi wajah pucat milik Indah.


Ingin rasanya Setya memeluk  perempuan yang tak berdaya di depannya, namun akal sehatnya melarang, dan beruntung Setya menerima saran dari akal sehatnya.


"Oiya ... keluargamu dalam perjalan ke sini, Eko yang jemput, sekalian nganterin Dina karena bayinya masih butuh Dina," jelas Setya, masih tetap memandang Indah.


Indah jengah diperlakukan Setya seperti itu, ia melengoskan muka memandangi pintu, dan berharap agar keluarganya datang agar terhindar dari keadaan berdua dengan Setya, seperti ini.


"Aku kenapa, Setya? Siapa yang membawaku kemari?" tanya Indah, sesaat setelah berhasil menormalkan detak jantungnya.


"Semalam kamu pingsan, aku dan Eko yang membawamu ke sini," jelas Setya, terus memandangi wajah pucat Indah.


"Kata dokter, tekanan darah kamu drop," jelas Setya "kamu mikirin apa sich, Ndah? Sampek jadi sakit gitu?" goda Setya tersenyum hanya ujung mulutnya mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


'Sesulit inikah perjalanan cinta yang harus kita hadapi,'  Setya membatin hingga tanpa sadar tangannya menggenggam tangan kanan Indah. Mencoba memberikan kekuatan dengan genggaman tangannya.


"Setya ...,"  panggil Indah lirih.


"Ya, Ndah, ada apa?" tanya Setya sigap, tahukan rasanya jadi seorang yang dibutuhkan oleh yang kita sayangi? Itu yang dirasakan Setya.


"Tolong, lepaskan tanganku, kita bukan muhrim," jawab Indah sambil tersenyum.


Setya hanya termangu mendengar permintaan Indah, pikirannya ngeblank seketika.


"Setya ..."


"Eh ... Maaf," terkaget Setya mendengar Indah memanggil namanya untuk yang kedua kali.


Tangannya pun segera melepaskan genggaman di tangan Indah.


"Maaf ... Indah, aku spontan." Setya tersenyum malu, kemudian kembali duduk dikursi dekat ranjang .


"Assalamualaikum." terdengar salam seorang perempuan dari luar pintu.


"Wa’alaikum salam," jawab Indah dan Setya bersamaan, lalu saling mandang dan tersenyum bersama.


"Ndah," panggil seorang wanita yang masuk ke dalam kamar tempat Indah dirawat dengan tergesa dan terdengar panik.


"Bunda," jawab Indah tertahan, terlihat senyum di bibir pucat Indah.


"Kamu nggak papa kan sayang, kamu sudah siuman, kata si Eko kamu pingsan. Apanya yang sakit, nduk?" tanya Bunda Indah pelan namun panjang.


Sambil mendekati pembaringan Indah. Lalu diciuminya kening dan dua pipi putrinya dengan hati-hati. Tersirat dari wajahnya betapa besar  kekhawatiran kepada putri kecilnya.


"Bunda ini bertanya, apa sedang menginterogasi putrimu, Indah kan lagi sakit, Bunda. Tak usahlah terlalu banyak tanya dulu," seorang  pria paruh baya sudah berada di belakang Bunda, dan memegang punggung Bunda, mencoba menenangkan Bunda.


Bergantian mendekati Indah, mencium kening dan dua pipi Indah. Mengelus kepala Indah yang masih dibalut hijab dan  memandangi wajah anak perempuannya


"Ayah ..."Sapa Indah sambil tersenyum ke arah Om Ibnu.


"Mas Dion kemana, kok nggak ikut?" tanya Indah, setelah sadar yang datang ayah dan bundanya saja.


"Tadi sudah ayah hubungi, bilangnya sih nanti dari kantor langsung ke sini,"  jawab Ayah Ibnu sambil duduk di tepi ranjang Indah, sedangkan Bunda duduk di kursi tempat tadi Setya duduk.


Dan Setya?

__ADS_1


__ADS_2