Indah

Indah
Indah 14


__ADS_3

"Ndah ... jangan lupa, obatnya diminum!" setengah teriak Bunda mengingatkan Indah yang sudah hampir nyampek pintu kamar, dengan setengah hati ditikungnya lagi langkah balik menuju ke dapur ambil air minum.


"Bunda ngingetinnya tanggung bener deh, udah hampir nyampek kamar, balik lagi," sungut Indah, sambil mencium pipi Bundanya, yang masih menunggu di dapur.


Walau nada bicara Indah pakai mode marah, tapi Bunda tahu kalau sebenarnya Indah tidak benar-benar marah, jadi Bunda hanya tersenyum saja mendengar gerutuan anak gadisnya.


Indah segera minum obat yang memang sengaja diletakkan di atas meja kecil samping kanan tempat tidurnya, maksudnya sich biar mudah keingatnya, tapi ternyata lupa juga, ahaaaai.


Sambil tiduran, me-onkan phone, yang sejak sakit tidak tersentuhnya, banyak notif yang langsung masuk, kebanyakan dari teman group SMP. Group kantor juga. Dan semua berisikan doa dan harapan tentang pernikahan Indah. Ah, andai mereka tahu apa yang Indah rasa.


Diantara semua notif, nama Selly paling banyak, ah dia kehilangan tempat curhatnya, batin Indah sambil senyum-senyum sendiri. Aku jadi kangen kantor.


Tuuuuuut ... tuuuuut.


"_____----_____"


"Loooo, kok malah teriak-teriak, salamnya mana, Non?"


"_____----_____"


"Jahat gimana? gue sakit tiga hari, lo nggak pernah nyampek, teman rasa apa lo?" goda Indah pura-pura marah, padahal sedang tersenyum.


"_____-----______"


"Idii malah marah-marah lagi, iya maaf aku bikin repot kamu, nambahin kerjaanmu ma kerjaanku, janji besok aku datang dech, tapi sehari aja ya, soalnya kamu kan tahu sendiri ...."


"____-----_____"


"Ok, sampai besok ya,"


Indah menutup hubungan phonenya dengan Sherly, melanjutkan istirahat malam, dan berharap besok ada keajaiban. Amiin.


"Dik, kamu jadi mau ngurus cuti sekarang?" tanya Mas Dion ke Indah, pagi itu saat sedang sarapan.  Yang dijawab dengan anggukan kepala karena mulut Indah masih penuh dengan makanan.


"Apa nggak aku aja yang ngurus cutimu, Dik? Kamu kan masih perlu istirahat," usul Mas Dion, masih terus berusaha mencoba melarang Indah tuk pergi dari rumah.

__ADS_1


"Aku udah sehat kok, Mas, berhentilah mengkhawatirkanku, lagian aku juga harus mengurus gaun pengantinku bukan?" ujar Indah, sambil tersenyum ke arah mas Dion.


"Kalo begitu, Mas yang akan menjadi sopir pribadimu hari ini, ok," putus Dion, karena alasan Indah sudah tidak bisa dibantah lagi.


"Tak ada lagi penolakan, Adikku yang cantik!" tambahnya lagi dengan mata sedikit melotot ke arah Indah yang dilihat sudah membuka mulut hendak menjawab usulan Dion.


Indah yang mendapati mata Mas Dion membulat, mulai sedikit mengkeret, dan hanya pasrah dengan keputusan kakaknya.


"Inge ikutkan, Mas?" tanya Indah, karena berdua dengan Mas Dion dalam kondisi dia marah, akan menjadikan perjalanan menjadi lebih menegangkan daripada istana hantu, percayalaaah ....


"Iya, nanti jemput Inge dulu, sebelum ke butik," jawab Mas Dion, nadanya mulai agak menurun, dan kembali menikmati sarapannya, seperti tidak terjadi apa-apa. Alhamdulillah batin Indah senyam-senyum sendiri.


***


Disinilah Indah sekarang, berada di antara manekin-manekin cantik, bergaun pengantin dan pesta, bikin pusing milihnya karena semua sangat bagus, jangan ditanya harganya, bisa habisin gaji Indah selama setahun.


"Pagi Mbak, saya Indah, sudah ada janji dengan Ibu Hj. Sulastri," ucap Indah pada seorang karyawan putri yang duduk di belakang meja kasir.


"Pagi Mbak, baik mohon tunggu sebentar, saya lapor dulu, silahkan anda duduk dulu," jawab karyawati itu dengan sopannya, yang kemudian menghubungi seseorang melalui phonenya.


"Assalamualaikum, mana ini yang namanya Mbak Indah," seorang Ibu berjilbab besar menyapa Indah dan Inge dengan senyum santunnya.


"Wa alaikum salam." Indah, Inge dan Dion serempak menjawab salam.


Indah tersenyum, sambil melangkah maju dan segera  menyodorkan tangannya ke arah si Ibu.


"Indah, Bu Hajjah," senyum Indah tak lepas dari bibir.


"Waah calon nyonya Bayu cantik banget, pinter milih istri ternyata dia, bening dan tertutup," puji Bu Hj. Sulastri sambil tersenyum, tangan kanannya menerima salaman tangan Indah, dan menarik tubuh indah ke dalam pelukan.


"Kamu cantik banget, Indah," antusias Bu Hj. Sulastri sambil memandangi wajah Indah.


Indah yang dipuji hanya bisa tersenyum malu, pipinya sudah ngeblush, tanpa disadari.


"Bayu sudah memilih beberapa gaun khusus untukmu," jelas bu Hajjah, sambil menuntun Indah masuk kedalam ruangan khusus, Inge dan mas Dion hanya bisa mengekori langkah Indah dan Bu Hajjah.

__ADS_1


Bu Hajjah memperlihatkan tiga buah gaun pengantin, tiga-tiganya bernuansa warna kuning.


Indah melihat gaun dengan raut muka dan sinar mata yang sukar diartikan.


"Apa harus berwarna kuning, Bu Hajjah?" Tanya Indah sambil terus memandangi gaun yang dipilih Bayu.


"Ini warna pilihan mamanya Bayu, Ndah," jawab bu Hajjah, tangannya berhenti merapikan satu gaun diantara tiga yang sedang diperhatikan intens oleh Indah. Dipandanginya wajah cantik di depannya, didapatinya raut muka kecewa di sana.


"Tidak bisa diganti dengan warna lainkah, Bu Hajjah? semisal warna putih atau biru muda," tanya Indah lagi, berharap bisa memakai gaun selain warna kuning, karena Indah tidak suka kuning.


"Maaf, Indah. Mungkin ada baiknya kamu hubungi langsung mama Bayu, kamu bilang kalo kamu mau ganti warna," usul Bu Hajjah dengan senyum.


"Bukannya aku nggak mau menghubungi mamanya Bayu, namun itu diluar kuasaku," jelas Bu Hajjah, yang masih setia tersenyum pada I AQndah.


"Namun, hanya sebatas jadi pertimbangan saja, dengan waktu yang super duper dekat sekali, masih sempatkah mengganti dengan  gaun yang berbeda warnanya," Bu Hajjah memberikan masukan ke Indah.


Indah terdiam sambil terus  memelototin tiga gaun di depannya, kelihatan jelas aura kecewa terpancar dari sorot mata yang menyipit, dan dengan dahi yang mengkerut.


Mungkin inilah waktunya Indah harus berkorban, masalah ini bukan sepenuhnya kesalahan dari Mas Bayu, walaupun Mas Bayu memang tidak pernah meminta saran dari Indah,


"Baiklah Bu Hajjah, saya terima apa jadinya aja dech," pasrah Indah, karena memang situasinya sudah tidak dapat dibantah lagi.


Setelah selesai dengan urusan gaun, yang meninggalkan rasa kecewa di hati Indah. Bertiga mereka segera meluncur  menuju ke kantor tempat Indah kerja.


Suasana kantor terasa agak lenggang, mungkin karena masih masuk jam kerja.


Indah menggeret Inge bergegas ke  lift, Mas Dion hanya bisa mengekori langkah dua perempuan yang dicintainya tanpa banyak protes.


Lift naik ke lantai paling atas, tempat Indah biasanya bekerja, baru beberapa hari tidak menginjakkan kaki di kantor, rindunya mengalahkan rindu pada  kucing, diiiih Indah kan takut ma kucing.


Tiiing!


Bunyi tanda lift berhenti, bergegas Indah dan Inge melangkah keluar dari lift, menuju ruangan kerja Indah. Dibuntuti Mas Dion yang masih setia dari arah belakang.


"Assalamualaikum," ujar Indah setelah berhasil membuka pintu yang menuju ke ruangan kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2