Indah

Indah
Indah 27


__ADS_3

"Kamu sering nangis ya? Matamu tidak cerah, kalo pakek soflens mau nggak, biar keliatan lebih seger," usul Tante rias sambil merapikan tatanan rias di wajah Indah.


"Saya pasrah deh, Tante," jawab Indah, sambil memejamkan mata saat dipasangkan bulu mata palsu.


10 menit ....


30 menit ....


1 jam ....


"Sekarang siap!" Teriak pelan si Tante rias.


"Liat di cermin, apakah kamu puas dengan kerjaku, aku harap iya," ujar si Tante tersenyum lebar.


Indah yang dari awal sudah tak ada hasrat, menuruti permintaan Tante rias.


"Luuuk ..., ini akukah, kok gaunnya warnanya putih, bukankah kemarin warnanya kuning ya?" Terkaget, karena dari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Aku nggak tahu sayang, aku cuma bagian rias wajah pengantin dan memakaikan perlengkapan pengantinnya, emangnya ini keliru? Kalau keliru, biar aku hubungi aja butiknya."


Tanpa menunggu jawaban dari Indah, Tante langsung menghubungi seseorang, sambil melangkah menjauh, mungkin agar tidak terdengar Indah.


Di sinilah sekarang, sebelum melangkah ke pelaminannya sendiri, Indah menghampiri Inge dan memeluknya.


Tak ada kata-kata terucap, hanya pandangan mata saja yang bicara.


Indah duduk di pelaminan ditemani bunda.


Sedangkan di pelaminan yang satunya, berada di sebelah barat, duduk Inge ditemani mamanya pula.

__ADS_1


Tamu undangan hanya para wanita, sedangkan undangan para pria masih berada di mesjid Jami', tempat mempelai pria melakukan akad dengan pihak orang tua laki mempelai wanita.


Hanya dengan media televisi ukuran 88 inci yang berada di dalam gedung, sarana untuk menyaksikan akad di mesjid.


Jarak antara mesjid Jami' yang digunakan hanya berkisar 150 meter saja dari gedung tempat resepsi bakal dirayakan.


Indah mengedarkan pandangan ke arah tamu, tangannya menggenggam erat tangan Bunda, seakan meminta kekuatan lebih.


Tiba tiba terdengar suara orang mengaji surah Ar Rahman dengan merdunya.


Menghipnotis semua mata untuk menatap televisi.


Indah hafal betul suara siapa itu, 'ah ..., kenapa dia harus hadir,' batin Indah sambil menunduk.


Akad pertama, Mas Dion mengucapkan ijab kabul dengan tegas lancar, menggunakan bahasa indonesia.


"Bunda jangan nangis dong, bedaknya nanti luntur," Indah menggoda Bunda, walau tak dipungkiri, hatinya terharu juga, akhirnya Mas Dion dan Inge resmi jadi pasutri.


'Giliranku' batin Indah.


Tak kuasa untuk memandang televisi, menunduk adalah jalan menghindari mata mengeluarkan kesaktiannya.


Tiba-tiba saja Indah tersentak saat mendengar nama yang disebutkan oleh Ayahnya, matanya segera melotot ke arah televisi, Bunda yang mengetahui perubahan putrinya tersenyum.


"Kenapa, Ndah? Kamu pikir yang akan menikahi kamu, si Bayu?" goda Bunda sambil mencubit pipi Indah yang tambah merah.


Indah memandangi Bunda dengan mata minta penjelasan, bingung dengan apa yang terjadi


'Sah.'

__ADS_1


'Ya Allah, aku resmi menjadi istrinya, bagaimana ini?'


"Sudah sah kau sayang, ingat kata Bunda semalam ..., aku mencintaimu." Bunda memeluk Indah erat, tak terdengar suara dari yang dipeluk, membuat Bunda merenggangkan pelukan, dan menatap heran anak bungsunya itu.


"Ada apa, kenapa kau kelihatan bingung begitu?" Tanya Bunda sambil menatapi wajah Indah.


"Aku yang harusnya nanya ke Bunda, ada apa ini, kenapa Setyo yang menjadi suamiku, kenapa bukan Bayu?"


"Sudahlaaah, nanti kita bicarakan setelah acara ini, ok," jawab Bunda, sambil berdiri, mempersilahkan Setyo menggantikan posisi Bunda.


"Ok, Mbak dan Masnya posisi berdiri dulu ya, kita ambil momentnya," seru si kameraman.


Tak ada protes yang keluar dari mulut Indah dan Setyo, Indah melakukan arahan kameraman dengan canggung, beda sekali dengan Setyo, yang tampak bahagia.


Lalu dengan memberikan kode tangan yang menyatukan jempol dan ibu jari membentuk tanda 0, mempersilahkan para tamu kesempatan untuk memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin yang langsung dilanjutkan dengan menikmati hidangan prasmanan.


Selama acara salaman berlangsung, tak ada obrolan antara Indah dan Setyo. Nampak di antara para tamu, teman-teman sekolah mereka, dan pastinya dengan ejekan dan sindiran khas khusus untuk Indah dan Setyo.


Hingga tak ada lagi tamu yang mengucapkan selamat, Indah terduduk kelelahan, sambil menarik Setyo untuk ikut duduk juga, ingin mendapatkan penjelasan.


"Sekarang katakan apa yang terjadi?"


"Kun fayakun, yang terjadi terjadilaaaah."


Indah dan Setyo serentak menengadahkan kepala ke sumber suara.


"Hai ... Bayu," sambut Setyo hangat, sambil memeluk erat Bayu.


Bayupun membalas pelukan Setyo, bagaikan sahabat yang lama tak ketemu.

__ADS_1


__ADS_2