Indah

Indah
Indah 7


__ADS_3

"Lo kemana aja? lo marah banget ma gue, ya? Gue sedih tau, nggak?" cicit Inge, pelukan mereka sudah lepas namun genggaman tangan Inge dan Indah belum lepas.


"Lo kok ilang napa, Ndaaaah?" jejal Inge sambil duduk di kursi samping adam bersisian dengan kursi Indah, matanya menatap Indah seakan memaksa harus menjawab pertanyaannya.


"mmm ..., mau tahu aja, apa mau tahu banget?" desah Indah menggoda Inge, yang kemudian memandang sahabatnya dngan senyum dan kerling mata.


"Mulai dech keluar setannya!"  jawab Adam disambut ketawa Inge 'ma Indah.


"Waktu itu gue hanya sedih, marah, malu tapi sudahlaah, itu sudah berlalukan?" tegas Indah yang tersenyum manis ke arah Inge.


"Untung Adam cerita ke gue, kalau Mas Dion yang mau khitbah gue, ternyata kakak lo, maap kemarin aku ngak bisa hadir, kamu marah ya? gue merasa bersalah ama lo, Ndah." cerocos Inge.


"Andai dulu aku nggak ngirim balasan surat Setyo, dan dengerin  kata lo, lo nggak bakalan dibuly,"


sesal Inge, tak terasa matanya mulai menangis.


"Udah dech! Inge sayang, lagian gue yakin kok kalau Ndaah nggak bakalan marah ma lo!" Adam berusaha mendinginkan hati sahabatnya.


"Ya ... palingan juga dendam ma lo!" sambung Adam menyeringai, yang dijawab pelototan mata Indah dan Inge.


"Wouuy! sabar keles!"  kata Adam yang langsung berdiri, tidak memperdulikan kedua sahabatnya yang masih melotot ke arahnya.


"Ayoo pulang! Udah mau maghrib, biar ngak kemalaman," sambil melangkah ke pintu keluar.


"Ayo Ing! biar monyeeet nggak marah!" jawab Indah sambil melempar senyum ke Inge, tiba tiba perasaan Indah menjadi sangat tenang, Indah yakin bisa menghadapi apapun, karena sekarang ada sahabat-sahabatnya, berada di sisinya


****


kamu sangat berarti


istimewa di hati


s’lamanya rasa ini


jika tua nanti kita tlah hidup masing masing,


ingatlah hari ini


ketika kesepian menyerang diriku


nggak enak badan resah nggak menentu


kutahu cara sembuhkan diriku

__ADS_1


ingat teman temanku


don’t you worry, just be happy


temanmu di sini.


don’t you worry, Don’t be anggry


mending kita hapy hapy.


( Ingatlah hari ini- Project Pop)


****


"Ndaaah, malam ini gue nginep di kost-an lo, ya? " pinta Inge.


"Gue masih kangen banget ama, lo," sambung Inge penuh harap.


"Mmmm  gimana ya Nge?" maksud gue ...." jawab Indah ngegantung.


"Tentu saja harus!" pekikku sembari tertawa tertahan. pias wajah Inge berubah cerah. Ternyata sahabatnya hanya menggodanya.


"Kalau gitu aku juga boleh dong, aku juga nginep" tanya Adam sambil membelokkan mobilnya ke dalam halaman mesjid di pinggir jalan.


Indah langsung ke luar mobil sambil menunjukkan genggaman tinju tangan kirinya ke arah Adam


"kalau lo nginep? gue bacok lo!" balas Indah, sembari menutup pintu mobilnya.


"Udah! udah! pada berisik!"  lerai Inge, bergegas ditariknya lengan Indah menuju ke arah tempat berwudhu’


"Cepetan sholat maghrib waktunya dikit!" jelasnya lagi.


Nggak bakalan selesai kalau sudah debat sama Adam, malah bikin sakit hati, cemas, gelisah dan kurang tidur ( semuanya efek samping bila berdebat ma Adam).


Drrt drrt.


"Assalamualaikum! ya Pak?" jawab Indah.


"___--___"


"Baik, pak!" jawab Indah segera mematikan phonenya, dan melangkah ke ruangan Bosnya.


Tok! toook!

__ADS_1


"Assalamualaikum!" ucapnya, tangannya membuka pintu.


"Permisi, Pak! ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lagi sambil menutup pintu dan melangkah kedekat meja bossnya.


"Temani aku makan, Ndaaah!" pinta Diky, dengan senyum termanisnya.


Ini bukan kali pertama Diky ngajak Indah menemani makan, tak segan kadang Indah dipaksa makan berdua di luar kantor, kadang Diky minta ditemani mencari buku atau hanya sekedar jalan jalan di mall, mencuri waktu di sela-sela kesibukan kerja.


"Kamu, nggak lagi ada acara makan dengan yg lain, bukan?" menarik baju di lengan Indah menuju ke sofa set bentuk L di sebelah sisi kanan ruangan kerja si Bos.


Tampak di meja sofa, beberapa kotak makanan dan beberapa cup gelas berisi jus aneka buah, hasil order online.


"Nggak ada kok, Pak!" jawab Indah, nggak punya alasan buat nolak ajakan Bosnya.


"Ayooo ... Ndaaah! kamu kepingin makan yang mana? ambil yang kamu mau!" perintah Diky, gemes karena Indah hanya diam ngeliatin kotak isi makanan. Dibukanya satu persatu isi kotak dan diletakkan di meja depan Indah duduk.


"Wouy! jangan ngelamun aja, ayo dimakan!" masih sambil menatap Indah yang bingung memilih mau makan apa.


"Kamu, nggak suka sama menu yang aku pilih sekarang, ya?" tanya Diky, menatap Indah lembut.


"Sebutkan mau makan apa sekarang? biar aku pesenin lagi!" tanyanya, tangan kanannya sudah memegang ponsel pintarnya.


"Nggak kok, Pak! ... nggak usah mesan lagi! saya hanya bingung, ini yang makan saya dan Bapak saja?, tapi jumlahnya kok banyak banget ya?" polos Indah sambil memilih nasi kotak isi pecel madiun tuk menu makan siang.


"Bapak, ada rencana ngajak orang selain saya makan?" tanyanya lagi sambil mulai menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya, pandangannya tak lepas dari nasi kotak di meja.


"Nggak ada kok, Ndah, ini semua aku pesan hanya agar kamu bisa memilih apa yang kamu mau, hanya buat kamu kok!" jawab Diky sambil tersenyum senang melihat Indah mulai makan nasi kotaknya.


Tertegun Indah mendengar jawaban Diky, hanya untukku, ulang Indah dalam hati, jangan baper Indaaaah, ini jebakan batman, bantah hati Indah, tanpa disadari kepalanya ikut mengelengkan kepala.


Diky sendiri memilih makan nasi Padang untuk menu makan siangnya.


"Terus, sisanya mau dikemanain, Pak?" tanya Indah, sambil menatap si Boss, dahinya mengerut, tanda dia sedang berpikir keras.


"Ya dibuang Ndaaah!, kalau kamu pengin sih, boleh kok dibawa pulang," jawab Diky tanpa beban, membuang kotak kosong di tangannya, dan mengambil lagi satu kotak nasi padang. Makan bersama Indah, membuatnya merasa selalu lapar, Indah bisa jadi multivitamin buat Diky.


"Eman, Pak! ... Kalau boleh saya bagi ma teman di luar boleh nggak, Pak?" tanya Indah, bukan karena mempunyai mental minta minta tapi kan mubazir.


"Nggak papa kok Ndah, kamu urus aja, sekarang makan dulu ya!" jawab Diky, sambil memandang penuh cinta ke arah Indah. Ah .... tahukah kamu, Ndah, ini hari terakhir aku bisa bersamamu, bisa menatapmu, aku mulai mencintaimu Ndah, tapi aku takut untuk menyatakannya, takut .... takut banget," desis batin Diky.


"Ndah! bisakah kau panggil namaku saja tanpa embel embel bapak? kita seumuran loo!" ucap Diky "ya setidaknya saat kita berdua seperti saat ini? please!"


Indah yang mendengar permintaan Diky agak berjingkit bahunya, tak mampu mengartikan arti dari perkataan si boss. Ada apa dengan Diky?, kenapa sikapnya berubah sejak tahu siapa Indah yang sebenarnya, renung Indah.

__ADS_1


__ADS_2