
Namun sesaat ada seseorang yang memeluk badannya dari depan, Indah mencoba berontak, namun bau parfum si pemeluk ini sangat familiar.
"Selamat ulang tahun, Indah. Happy birthday," sambil melepaskan kain penutup mata dan mulut Indah, orang tersebut mengucapkan ucapan selamat ulang tahun.
Dengan beberapa kali kejapan mata, Indah kemudian memandang sekitarnya, tampak wajah sahabat-sahabatnya.
"Aaaaaaaaaargh!" Teriak Indah sambil tersenyum. Apalagi tadi yang memeluknya ternyata Selly, saat hendak memeluk balik, dia ingat ikatan tangannya belum dibuka.
"Selly bukain dong," pinta Indah, matanya menunjukkan ke pergelangan tangannya.
"No ... no ...."
"Ayo dong please, ih Selly tega ya," rayu Indah
"Belum waktunya sayang, nanti dulu laaa, sabar," balas Selly sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Indah.
"Ada kejutan special buatmu," ujar Dina yang sedang memangku anak kecil laki-laki, dengan Eko disampingnya.
Indah tersenyum melihat keluarga bahagia itu, iri rasanya.
"Ooouy, dah pengin punya anak ya?" Tanya Adam sambil mencolek lengan Indah, "makanya jangan kabur kalau 'dah mau nikah."
Sarkas benar kata-kata Adam menyerang Indah.
"Kalian tahu dari siapa aku di sini?" Indah bertanya karena penasaran.
"Hohohoho, rahasia dong, emang cuma kamu yang bisa main rahasia-rahasian," Maman menjawab. Indah baru sadar kalau ada Maman pula di situ, duduk bersila dengan perempuan cantik berkerudung. Dan berarti ....
"Selamat ulang tahun, Ndah," seseorang dengan suara berat mengatakan ucapan ultah dari arah belakang.
Indah menengok ke arah suara, matanya langsung membesar saat sosok Bayu tampak sedang berjongkok sambil memegang kue tart yang masih terbungkus box dos kue.
"Apa kabarnya calon mempelai wanita?" Sapanya, tersenyum dan mengedipkan sebelah mata.
Indah hanya bisa menatap Bayu tanpa mengeluarkan sepatah kata, dia terhenyak, tak menyangka bisa bertemu di tempat yang tidak pernah disangka sebelumnya.
"Hei ...!" Senggol Selly, menyadari kondisi Indah yang blank saat melihat Bayu.
"Eh ... hai Mas Bayu, baik kok Mas, alhamdulillah, kabarmu gimana?" Jawab Indah geragapan sambil melempar pandangan ke laut.
Bayu yang melihat sikap Indah hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, "nggak kangen aku 'ta, Ndah?" Tanya Bayu sambil duduk di samping Indah, sedangkan kue yang tadi dipegangnya sudah berpindah ke tangan Selly.
__ADS_1
"Maaf, aku rindu karena ingin menyelesaikan urusan kita," jawab Indah dengan mata masih menatap laut.
Tiba-tiba, semua yang semula duduk bersila melingkari Indah berdiri dan menjauh seperti dikomando.
"Sekarang, bicaralah," ucap Bayu sambil menatap mata Indah.
"Bisakah sebelum aku bicara, bantu aku lepaskan ikatan di tangan ini, please," pinta Indah ke Bayu.
"Tunggu dulu, sebelum kubantu melepaskan ikatan tanganmu itu, apakah kau bersedia untuk melakukan satu hal untukku?"
"Insya Allah, asalkan itu tidak membuat menderita dan malu, aku kan lakukan," jawab Indah tegas.
"Berjanjilah untuk tidak memukulku," pinta Bayu.
Mata Indah membesar, "apa maksudmu?" Tanyanya sarkas.
"Dion cerita kalau hatimu sedang bermasalah, kamu suka mukul orang sebagai pelampiasan," Jelas Bayu, "apalagi kamu pemegang sabuk hitam karate kan?"
"Makanya aku minta tangan kamu diikat dulu tadi, daripada muka bonyok semua." Indah dengan membulatkan mata, berteriak setengah tertahan.
"Lepaskaaan! Kalau tidak segera dilepaskan, aku bukan lagi memukul tapi akan melahapmu bulat-bulat, cepaat!"
"Iya, aku lepasin, jangan sambil melotot dong nyuruhnya, matamu loo sampek mau keluar gitu," goda Bayu, sambil melepaskan ikatan di tangan Indah.
"Mulailah, apa yang ingin kau katakan," suruh Bayu kemudian.
Indah tertegun sejenak sambil menatap Bayu, bingung harus memulai dari mana.
"Atau mungkin, aku yang akan bercerita padamu, tentang semua yang terjadi antara kau, aku dan Mamaku" ujar Bayu.
"Apa maksudmu, tentang kau, aku dan Mamamu?" Ulang Indah bertanya dengan mata heran.
"Dengarkan ceritaku, jangan kau potong sebelum aku selesai bercerita, ok?" Bayu memposisikan duduknya agar nyaman bercerita.
"Ok," Indah yang penasaran langsung menyetujui usul Bayu.
"Maafkan Mamaku, beliau terobsesi pada seorang putri anak sahabatnya." Bayu menghela nafas sambil matanya menatap laut.
"Dulu, umurku masih 16 tahun waktu itu, Mama yang baru saja datang dari pertemuan para istri di kantor, dengan semangat mengatakan padaku, kalau dia sudah menemukan calon istri. Foto seorang anak perempuan cantik berambut pendek, lurus dan hitam mama tunjukkan padaku waktu itu. Gadis itu masih mengenakan seragam sekolah putih biru, jelas sekali terlihat manja, dan aku tidak suka anak perempuan yang manja."
Bayu menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan, sambil melirik ke arah Indah.
__ADS_1
"Aku tidak menggubris apa yang Mama katakan. Yaaa ..., bisa dikatakan aku il fiil pada saat aku melihat fotonya," lanjut Bayu kembali menatap laut.
"Tapi Mama tidak perduli pada perasaanku, dia sudah teramat sangat terobsesi pada gadis anak sahabatnya itu. Setiap aku bawa perempuan yang aku cintai ke hadapan Mama, beliau menunjukkan sikap dan kata yang tidak mengenakkan. Hingga akhirnya setelah perundinganku dengan Papa, aku putuskan bertunangan dengan Selly,"
"Kenapa_?"
"Karena Mama tidak setuju aku bertunangan dengan siapa pun kecuali dengan gadis anak sahabatnya itu," potong Bayu cepat, sambil menatap ke arah Indah.
"Bisakah aku menyelesaikan ceritaku tanpa gangguan, wahai calon mempelai wanita?" Tanya Bayu sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit ke arah Indah.
Indah tersenyum, sambil menganggukkan kepalanya, dia berucap, "lanjutkan, Bos!"
"Mama dipaksa Papa datang berkunjung ke rumah Selly, karena hanya Papalah yang bisa membujuk Mama, dan walaupun Mama bersedia hadir, namun aura kebencian Mama ternyata tambah menjadi setelah pulang dari rumah Selly."
Lagi-lagi Bayu menelan sativanya, dan membuang nafas dengan sarkas. Terlalu menyakitkan untuk sekedar mengingat lagi peristiwa usang nan menyedihkan.
"Dan kau sudah dengar sendiri bukan perlakuan Mama ke Selly."
Indah menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aku, lelaki yang paling jahat karena harus melihat dan membiarkan dengan mata kepala sendiri, perempuan yang kucintai diperlakukan semena-mena di hadapan keluarga besar, tanpa sedikit pun keberanian untuk membela."
Mata Bayu memerah, dia pasti sedang menahan rasa, agar tidak meluap saat itu.
"Hingga pada suatu saat, phoneku berdering, dan Mama melihat fotomu yang kujadikan cover di hapeku. Beliau bertanya kenapa fotomu bisa jadi cover di phoneku,"
Bayu tersenyum melihat mata Indah yang membesar.
Wajah cantik itu tampak tambah menggemaskan.
"Kujawab kalau itu foto hasil curian waktu sedang rapat bersama. Kau tahu, Ndah! Ekspresi bahagia beliau waktu itu, ekspresi yang lama kurindukan, kini hadir, karena kamu, Ndah," tekan Bayu, menundukkan kepala memandangi pasir, walau dia sadar, Indah sedang memandanginya sekarang.
"Aku berusaha semampuku, Ndah. Berusaha membahagiakan Mama, dengan cara mengkhitbahmu. Mama bahagia banget, Ndah. Padahal kamu belum menjawab pertanyaanku, tapi Mama sudah menyiapkan segalanya, Ndah. Segala persiapan dan kebutuhan pernikahan kita, Mama yang menyiapkan."
"Janji temu kita di resto sore itupun, aku datang bersama Mama, beliau memaksa ikut."
Indah terbeliak mendengar penjelasan Bayu yang di luar dugaan.
"Beliau mendengar semua yang kalian bicarakan, dan beliau menyesal karena Adam harus menanggung salah yang Mama sebabkan,"
Bayu menghela nafas.
__ADS_1
"Entah apa yang Mama lakukan saat tiba di rumah, hanya saja, sekitar pukul tujuh malam. Mama, Papa mengajakku ke rumah Selly, aku pikir beliau hanya meminta maaf pada Selly atas sikap dan kata-kata yang pernah menyakiti hati Selly, tapi ternyata bukan itu saja."