
Huff
" Tenang Marsya, kamu tinggal duduk aja temani mereka minum " ( batin Marsya )
" Hallo baby ( ucap seorang laki laki pengunjung Club )
Kini tangan laki laki itu merangkul pinggang Marsya, sontak membuat Marsya terkejut dan langsung menepis kasar.
" **** ! ( ucap laki laki itu dengan tatapan tajam )
" Aduh habis dehh ( batin Marsya )
" Sorry sir ( ucap Marsya tertunduk )
" Padahal dia yang kurang ajar, tapi aku yang harus minta maaf ( batin Marsya )
.........
Flashback
" Teteh,, ( teriak Eneng )
" Naon atuh Neng ? kamu teriak-teriak aja ! ( sahut Marsya )
" Hihi ( mentari memasang senyum )
" Tolong ajarkan Eneng PR fisika atuh teh ( rayu mentari ) Eneng teh ngga ngerti, ( sambung mentari )
" Ihh,, kamu mah ( jawab Marsya )
" Pliss atuh teh, mau yaa ? Nanti Eneng buatkan seblak paling enek dehh ( mencoba Bernegosiasi )
__ADS_1
" Oke lah ( langsung setuju )
" Ihh,, teteh kalau sama makanan langsung dehh ( cibir mentari )
" Yaudah atuh ngga mau bantu kamu ( pura pura merajuk )
" Ihh,, jangan atuh teteh ! pundungan aja ( cegah mentari )
" teteh ngga pundungan ! ( Marsya tidak terima )
" iya iya, teteh ngga pundungan cuma,,
" APA ? ( menatap tajam )
" Ehh,, cuma Eneng aja yang nakal, Suka godain teteh yang pundungan hihihi ( langsung kabur mencari perlindungan di belakang tubuh Ambu yang baru saja masuk kedalam rumah )
" TARIII ( teriak Marsya )
.........
Mentari tersenyum kala mengingat segala kenangan bersama kakaknya dulu. Marsya Aulia, kakak kandung dari mentari yang terlampau tiga tahun dengan nya.
Marsya memang memiliki kecerdasan di atas rata rata. terlebih dari mata pelajaran matematika dan fisika yang sebagian besar sulit dipelajari dan sedikit peminat.
Termasuk sang adik mentari. gadis mungil itu sangat tidak berminat tentang mata pelajaran yang menurutnya sangat sulit dan membuat pusing bahkan baru mendengar nama mata pelajaran nya saja.
Mentari lebih menyukai mata pelajaran seni. saat masih duduk di bangku sekolah, gadis mungil itu kerap kali menjadi perwakilan sekolah bahkan pernah menjadi peserta perwakilan kota kembang di pentas seni nasional.
Tubuh pendek namun cukup berisi, membuat setiap gerakan tari tradisional yang ia bawakan menjadi sangat menarik. Di tambah paras wajah yang cantik natural menambah minat dan daya tarik bagi siapapun yang menonton pertunjukan tarian nya.
Tak hanya pandai menari, gadis mungil itu cukup mahir dalam dunia kuliner. Karena sebagian besar waktunya di habiskan dirumah, bersama Ambu mentari diajarkan mengolah berbagai jenis masakan.
__ADS_1
Hal ini yang membuat gadis mungil itu cukup unggul di bandingkan sang kakak yang lebih mahir memegang alat tulis dengan tumpukan buku yang sangat tebal.
" Teteh, Eneng rindu ( lirih mentari sendu )
.........
Pagi datang menandakan hari baru telah dimulai. Dengan senyum yang berkembang, mentari memulai hari ini dengan penuh semangat walaupun tadi malam dirinya kurang tidur karena memikirkan sang kakak yang sampai sekarang belum diketahui keberadaan nya.
Namun ia berusaha bersikap profesional, karena tanggung jawabnya terhadap konsistensi dalam bekerja. terlebih ia tidak ingin mengecewakan Bu Adel yang sudah begitu baik kepadanya.
,,, ,,, ,,,
" Selamat pagi bu ( sapa mentari ramah )
" pagi tari ( sahut adel )
" Mommyyyy ( teriak suara anak kecil dari luar )
Huhh,,
Tampak seorang anak laki laki dengan wajah cemberut yang semakin membuatnya terlihat menggemaskan.
" Uuu,, kenapa anak mommy cemberut ? ( tanya adel sambil berusaha memeluk tubuh mungil itu )
" No mommy ! jangan peyuk peyuk aku ! aku sudah besal tau ! huhh ( kesalnya )
Prttt
Adel menahan tawanya melihat tingkah putra kecilnya.sedangkan mentari, gadis mungil itu melongo melihat aksi protes Varel.
" kenapa ?
__ADS_1
BERSAMBUNG