
Intan memilih satu menu saja berserta minumannya sekalian. Dia memilih menu yang paling terjangkau di cafe tersebut. Meski yang dia lihat yang paling murah berkisar Rp 100.000,00.
"Idiih, mahal amat yah? ini bisa buat beli beras ibu 10 kg," begitu ucapan dalam hatinya. Sambil melihat satu persatu daftar menu dengan mata terbelalak.
Pelayan menyembunyikan senyumnya, meski rasanya sudah tidak tertahankan lagi.
Namun demi pekerjaannya saat ini dia harus menahan tawanya. Siapa gak ingin tertawa melihat kekonyolan perempuan yang ada dihadapannya sekarang ini.
"Uda ya?" Tanya Zaky.
"Uda. Aku uda nunjukin pada writersnya," jawab Intan.
"Aku tidak mendengarkan kamu bicara tadi?" Zaky bertanya lagi
"Ya, aku kan cuma nunjuk, gak ngomong Zak," Intan merasa lelah bicara pada pria itu.
"Ya udah mbak, menunya sama aja sama pacar saya!" Kata Zaky, membuat Intan terbelalak karena terkejut melihat ucapan Zacky barusan.
"Eh apa, ucapkan sekali lagi? Pacar dari mana?" Ucap Intan dengan sewot. Merasa harga dirinya terinjak-injak karena perkataan Zaki yang meresahkan.
"Emang kenapa, malu ya punya pacar kayak aku?" Zaky sengaja mempermalukannya di depan writers tersebut.
"Yaudah kalian silakan menunggu pesanannya ya Saya permisi dulu," ucap waiters meninggalkan pria dan wanita itu beradu mulut.
Setelah agak jauh dari mereka writers itu melepas tawanya, hingga teman-teman dapur mengatainya sebagai orang gila baru.
"Eh Zaky, kalau kamu ngajak bercanda jangan kayak gitu dong caranya, misal lempar batu pada anjing terus dikejar kayak waktu itu, jangan malu-maluin aku kayak sekarang gini dong. Mau taruh di mana muka aku sekarang di depan waiters tadi?" Intan mengerucutkan mulutnya ke depan.
"Emang kamu enggak senang ya jadi pacarku, misalnya. Heheh," Zaky cekikikan melihat Intan.
"Inget ya, kita cuma bersahabat! Gak boleh lebih dari itu!" Peringatan dari Intan dengan menunjuk hidung Zaky. Zaky mengikuti jarinya hingga juling matanya.
"Ini pesanannya, Tuan, dan nyonya," ucap writers dengan meletakkan dua plate dan dua es teh di mejanya. Zaky melihatnya dengan terkejut.
"Lho! Apa-apaan ini Mbak, Siapa pesan nasi goreng aja pake telur ceplok gini?" Zaky merasa dipermalukan.
"Memang Tuan dan nyonya tadi kan pesan ini," writers menegaskan.
"Kamu tadi pesan apa Intan?" Tanya Zaky tidak percaya.
"Ya itu bener," Intan mantab menjawabnya tanpa rasa malu.
Zaky menghela nafas sebentar, dan menghembuskannya.
"Dasar cewek jadi-jadian, masa ke cafe mahal menu yang di pilih lauk telur ceplok, mendingan tadi mampir ke warung mbok Darmi aja, toh sama aja masakannya," Zaky bergumam tanpa henti. Menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Kamu lagi ngomongin aku ya di dalam hatimu?" Intan mengeraskan suara.
"Dasar demit, kok bisa dengarkan isi hatiku, heheheh," Zaky masih membatinnya, lalu cekikikan melihat Intan.
__ADS_1
Intan masih memelototinya dalam, seperti ingin membunuhnya sekarang juga.
"Tuh, kan. Kamu ngomong lagi. Kamu ngatain aku buruk ya?" Kata Intan dengan tatapan sinis. Belum menyentuh makanan di mejanya
"Ih, anak ini. Apa punya indera ke tujuh? Sampai bisa mendengar suara hatinya," Zaky geleng-geleng kepala.
"Eh Zaky, kalau mau ngomong, ngomong aja deh. Ngatain aku apa barusan?" Ancam Intan.
"Siapa yang ngomongin kamu sih, jadi cewek nggak usah kepedean deh!" Zaki tidak kalah sinis-nya dengan ucapan intan.
"Udah ah, aku lapar bertengkar nya dilanjutin nanti aja sekarang kita makan dulu perut aku udah keroncongan banget," ajak Zaky langsung mengambil sendok dan garpu di atas piring.
"Eh, harus diselesaikan sekarang juga Zak!" Intan membantah.
"Udahlah ntar lagi, dibilangin aku uda laper, dari pagi belum sarapan," jelas Zaky.
"Ya sudah, kita lanjutkan nanti, aku akan membunuhmu jika kamu berkata buruk terhadap ku!"lagi Intan menunjuk hidung Zaky dengan jari nya.
Zaky membuang tangan Intan menyamping.
"Aku mau makan, kamu diam dan makanlah!" Zaky tidak perduli dengan tatapan Intan padanya.
"Lain kali, kalau diajak makan orang gitu cari menu yang enak. Mumung gratis!" Ucap Zaky.
"Yah, siapa tahu kamu gak bawa uang banyak, kan aku cuma kasihan sama kmu, Zaky. Kalau memang bawa uang, Kasihan juga uang itu uang hasil minta ibumu," jelas Intan polos.
"Udahlah, kalau gak tahu kamu diem aja!" Dengan mengendarai motornya, Percakapan mereka terus berlangsung.
"Pulang ya,"...
****
Keesokan harinya, Intan ingin pergi lagi keluar. Di hadang ibunya.
"Mau kemana kamu Intan?" Minah mengerucutkan bibirnya. Dengan tangan bertolak pinggang.
"Eh, Ibu. Kenapa sekarang ibu suka ngatur-ngatur hidup aku sih, Bu?" Intan jutek.
Misbah mendengarkan Intan bicara nada tinggi pada istrinya, dia mendekat dan marahi Intan.
"Kenapa tidak bisa berkata sopan pada Ibumu Intan!" Teriak Misbah
"Ibu sekarang suka mengatur hidup aku, Yah," adu Intan pada ayahnya.
"Kamu mulai sekarang dengarkan ucapan Ibu kamu ya Intan!" Perintah Misbah.
"Aku udah dengarkan, Yah, tapi ibu melarang aku keluar!" Kata Intan lagi.
"Ya kamu hanya dengarkan saja, tapi tidak kamu patuhi," Misbah menggerutu.
__ADS_1
"Kalau aku tidak boleh keluar, aku harus ngapain dirumah terus, Yah?"
"Kamu bantu ibu masak dan beberes dirumah!" Suruh Minah.
"Aku tidak bisa ngerjain pekerjaan-pekerjaan rumah, Bu. Aku tidak biasa," rengek nya.
"Sekarang bantu ibu di dapur dulu!" Minah menggeret tangan Intan masuk dapur belakang rumah.
Sampai di dapur, Intan di beri pisau oleh ibunya,
"Ini! Kamu potong-potong sayuran itu sekarang!" Dengan menyodorkan buncis dan wortel ke depannya.
"Ini diapain?" Gumam Intan dengan garuk-garuk rambutnya karna bingung.
Dengan keahlian seadanya dia potong-potong seenak hatinya, tanpa menyamakan bentuknya.
Minah yang saat ini tengah memotong bawang melihatnya dengan kesal, dan mendekatinya.
"Ya Ampun Intan, kamu asal saja motong kayak gini!"
"Coba perhatikan ibu, potong membujur seperti ini, lalu potong kecil sebesar korek api," Minah memberi contoh.
"Bisa kan?" Lagi tanyanya.
"Ya, Bu, bentar aku coba lagi yah," Intan mencoba bersabar dengan pekerjaan yang paling tidak dia sukai, yaitu memasak.
Dari zaman kuno, Intan memang tidak pernah masuk dapur. Hahahaha.
Dengan sedikit perlahan-lahan akhirnya dia bisa juga memotong wortel itu.
"Yey, aku bisa Bu!" Teriak Intan.
Dengan kecepatan tinggi Intan memotong semua wortel, dan tanpa sengaja pisau itu mengenai jarinya.
"Aduh!" Intan berteriak kesakitan. Karena darah mengucur begitu derasnya dari jari telunjuknya
"Duh Intan, kamu gak bisa hati-hati apa? Kenapa sampai mengenai tangan kamu?" Minah segera mengulum jarinya, dan mengambilkan plester dan obt luka.
"Udah, biar Ibu lanjutkan sendiri," ucap Minah.
Intan keluar dari dapur dengan gembira.
"Yes, bisa meloloskan diri!" Gumamnya.
Tanpa sepengetahuan Minah dan Misbah dia sudah pergi dari rumah.
"Intan, Intan!" Minah mencarinya tapi sudah lenyap.
"Dasar anak ini," Minah mengelus dadanya.
__ADS_1