Intan, Gadis Tomboy

Intan, Gadis Tomboy
Bab. 30. Intan Versus Gina


__ADS_3

Polisi bernama dada Briptu Dimas Perwira mendorong kembali tubuh Intan hingga dia terjatuh ke dalam sel bersama tiga wanita tahanan berbaju biru. Perawakannya cukup bagus, tinggi dan tegap.


"Sudah! kamu diam bersama mereka!" suruh Briptu Dimas, pria berseragam itu akan meninggalkannya. Sebelum pergi dia masih memperhatikan Intan bicara.


"Pak! apa gak ada belas kasih Pak polisi untuk melepaskan saya? padahal kejahatan yang saya lakukan akan tergolong ringan. Seperti itu saja saya harus dimasukkan sel," gerutunya kesal.


Briptu Dimas meninggalkan mereka. Dengan wajah kesal berlalu saja Briptu Dimas dari sel tempat Intan ditahan.


"Dasar anak muda sekarang, bebal dan semaunya sendiri, biar mereka rasakan dulu hukuman yang sudah mereka perbuat untuk memberikan efek jera," gumam Briptu Dimas.


"Ya, ditinggal pergi! Pak Polisi! lepaskan saya Pak! saya tidak bersalah, Bapak! saya tidak ingin mendekam dalam tahanan ini Pak!" Intan berteriak-teriak dengan tenaga.


"Bisa diam gak kamu!" teriak wanita bertubuh besar berambut cepak di belakangnya. Terlihat dari matanya, dia sangat kesal melihat Intan membuat kegaduhan di dalam selnya.


Seketika Intan terdiam, tapi dasar Intan adalah wanita yang tidak suka memperdulikan omongan orang. Dia melengos cuek.


Kembali dia berdiri di pintu pagar dan mendobrak-dobraknya dengan keras.


Brak! Brak!


"Pak polisi! keluarkan saya dari sini Pak! Pak!" lagi suaranya melengking membuat semua telinga yang mendengarkan sakit.


"Woy! bisa diam nggak kamu! atau tidak aku akan bikin wajahmu hancur!" ucap wanita berotot yang sepertinya dia adalah seorang kepala sel. Intan tidak bergeming.


"Pak Polisi! keluarkan Saya dari sini pak! pak, aku mohon keluarkan saya dari tahanan ini!" Intan tidak menghiraukan tiga orang di dalam sel.


"Hajar Bos!" salah satu anak buah menyuruh kepala sel untuk maju dan memberi pelajaran pada gadis yang baru saja masuk dalam sel mereka.


Wanita berbadan besar menggertakkan jari-jari tangannya untuk pelemasan. Berjalan beberapa langkah ke depan dengan wajah sangar yang dipasangnya.


Tangannya yang besar dan gemuk meraih kerah baju Intan yang tidak terkancing.


"Eh, apa-apaan ini! berani sekali kau menarik kerah bajuku! ayo singkirkan tanganmu dari kerah baju ini. Atau tidak kamu sendiri yang akan menerima akibatnya!" Intan tidak gentar sedikitpun.


Baginya ilmu bela diri yang dimiliki sudah cukup untuk melawan orang-orang semacam ini. Parasit dunia.

__ADS_1


"Haha, belagu benar kamu! sekali pukul kau akan mampus! tubuhmu kurus! mana mungkin bisa mengalahkan ku!" ucap wanita itu dengan sombong.


Dua wanita lainnya ikut menyumbang dengan gelak tawa yang sengaja di buat-buat untuk menjatuhkan Intan.


"Hahaha! Hajar Bos Gina!" mereka sangat mendukung 100% jika Gina berhasil membuatnya babak belur.


Satu kepalan tangan Gina sudah dipersiapkan, dan dengan cepat gerakan itu sudah mengarah ke wajah Intan.


Wuusssttttt!! Klek!


"Aduh!"


Intan berhasil menepis genggaman tangan Gina yang hampir mengenai wajahnya, dia buang kepala tangan itu begitu saja ke udara dan berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan diri dari ketentraman tangan kanan gina yang masih memegang kerah bajunya.


"Brengsek anak baru ini!" cibir Gina.


Bug! Intan membalas pukulan Gina mengenai wajahnya. Hingga terlihat di sudut bibirnya nampak lebam baru satu pukulan dari kepalan tangan intan.


"Aduh! sialan gadis ini, aku tidak pernah dikalahkan oleh siapapun malahan saat ini gadis kurus kering ini telah berhasil menghajar ku!" ucap Gina dengan sinis.


"Haha kau gadis kurus kering!" lagi ucapannya diulangi dengan sorot mata sinis menunjukkan ketidak kesukaannya pada Intan.


Bug bug bug!


Intan menambahi dengan beberapa pukulan mengenai wajahnya tanpa Gina melakukan perlawanan.


"Aduh sakit! Lepaskan!"


Bruk! tubuhnya terjatuh ke lantai. Intan maju dan membalas menarik kerah bajunya.


"Awas kalau kamu macam-macam! aku sama sekali tidak takut pada siapapun termasuk kamu!" ucap Intan dengan menunjuk hidungnya memberi peringatan agar dia tidak mengganggunya.


Gina dan dua lainnya melindungi dirinya masing-masing.


"Lagi?" Intan bersiap dengan genggaman tangannya lagi, memberi efek jera pada mereka.

__ADS_1


"Ampun-ampun!" ucap Gina menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Intan melepaskan tarikan kerah lehernya, membuat Gina kesulitan bernafas. Intan berjalan dan melihat sekeliling koridor sel menunggu orang tuanya datang untuk menjemput namun sudah beberapa waktu lamanya mereka tidak kunjung datang juga.


Sementara ketiga wanita yang berada di belakang Intan itu, terdengar berbisik mengenai kemampuan Intan untuk melindungi dirinya. Jadi mereka memutuskan untuk menjaga jarak dengan Intan dan tidak mengganggu nya. Meskipun Gina adalah kepala sel yang sudah senior bertahun-tahun di ruangan itu karena terpidana kasus pemukulan.


Intan memandang jauh ruang per ruang melihat ruangan sel yang menghadap dengan ruangan yang saat ini ditempati untuk mencari Zaky.


Beberapa menit kemudian terlihat Zaky berjalan santai ke arah ruang sel Intan. Intan sangat terkejut kenapa dia tidak ditahan juga, padahal jelas-jelas mereka berada pada satu motor yang sama. Malah surat tanda nomor kendaraan tercantum atas nama Zaky.


"Zaky, kok kamu berada diluar? kenapa polisi itu tidak menahan mu juga. Ini gak adil menurutku!" dercak Intan kesal. Dengan melipat tangan di dadanya dan enggan memandang wajah Zaky yang terlihat tidak berdosa.


Brak!


Intan menendang keras pagar besi yang menghalangi. Mengeluarkan emosinya.


"Karena yang bersalah adalah pengemudi motornya bukan orang yang dibonceng Intan!" jawabnya.


"Tetap saja, aku tidak terima." sungut Intan, dia berdiri membelakangi tubuh Zakiy.


Lalu berjalan kembali mendekati Zaky yang berada di luar sel, "lalu bagaimana dengan orang tuaku, kenapa sampai saat ini mereka belum datang untuk menjemputku dan membawaku pulang? aku tidak ingin berlama-lama di ruang tahanan ini, ayo dong Zaky, bantu keluarkan aku dari sini, aku yakin kau pasti bisa menolongku. Please, kali ini saja aku janji deh nggak akan mengulangi kesalahan aku kembali," pinta Intan dengan mata berbintar mengharapkan Zaky bisa mengeluarkan nya dari ruang jeruji besi ini.


"Aku akan menghubungi kembali ke dua orang tuamu intan tunggulah dengan sabar ya," Zaky berjalan melewati koridor-koridor ruang tahanan. Dan keluar berbalik arah.


"Ih, kenapa dengan anak itu? apa dia lagi kesal ya gara-gara tadi aku enggak mendengarkan omongannya sampai aku sendiri yang jadi korban masuk sel karena kenakalan ku," gumam Intan.


Prank!..


Intan meninju pagar dengan kesal.


"Menyebalkan! aku benci kamu Zaky! kalau kamu gak bisa menolong aku. Hubungan persahabatan kita berakhir!" ucap Intan tidak sabar.


"Sudah, kamu jangan teriak-teriak! Memang kasus apa yang kamu lakukan tadi hingga polisi menahan mu di sini?" tanya Gina mencoba perduli.


Intan mulai memandang mereka dengan wajah biasa saja. Mencoba menjadi teman satu sel yang ramah.

__ADS_1


__ADS_2