Intan, Gadis Tomboy

Intan, Gadis Tomboy
Bab. 29. Ternyata Kamu Wanita!


__ADS_3

Breng!!!


Intan menancapkan gasnya, menambah gigi terakhir pada perseneling. Sementara Zaky berkeringat dingin karena ketakutan.


"Dasar wanita jadi-jadian!" Zaky mengerucutkan bibirnya, dan menoleh kembali ke belakang. Ternyata kedua polisi itu tidak jera juga mengejar Intan.


Zaky menggigit bibir bawahnya, melihat dua polisi itu sudah sangat dekat dengan mereka.


"Woy berhenti!" teriak salah satu polisi yang berhasil mengiringi lajunya.


Intan tidak menoleh, dia semakin mantap untuk ngebut lagi. Baginya ini adalah sebuah tantangan.


"Berhenti!" teriak polisi lagi. Rupanya polisi tahu pengendara seperti butuh pekerjaan.


Dorr!!


Satu timah panas, polisi tembakan ke atas udara. Intan sedikit rilex dan mengatur nafasnya.


"Kalau kamu tidak berhenti, hukuman kamu akan saya tambahkan dengan hukuman yang lebih berat lagi!" lagi polisi memberikan peringatan keras.


"Sudah yuk Intan anak baik, berhenti dulu! kita minggir, kita ini juga salah! Harus berani mempertanggungjawabkan kesalahan yang sudah kita perbuat!" Zaky berbicara di dekat telinga Intan.


"Gak mau!" teriaknya.


Tanpa berpikir lama polisi itu menghadangnya dari depan, hingga motor Intan terhenti seketika.


"Ah apes!" dengan memukul keningnya Intan serasa lemas.


"Masalah lagi nanti sama emakku!" pikir Intan.


Dua polisi turun dari motor besarnya. Dan menghampiri kedua pemuda pemudi yang baru saja melanggar lalu lintas.


"Maaf Mas, kami mengganggu waktu dan perjalanannya," ucap salah satu anggota polisi.


Intan melepas helm di stang motor, dan berusaha menjawab pertanyaan yang akan siap diluncurkan dua polisi berbadan besar.


"Astaga, kamu perempuan!" Kedua polisi itu tidak menyangka bahwa pemotor ugal-ugalan yang baru saja mereka kejar adalah seorang wanita.


"Ya, Pak kenapa memangnya?" jawab Intan tidak menunjukkan rasa hormatnya pada dua anggota kepolisian tersebut.


"Intan, yang sopan dong bicaranya!" tegur Zaky.

__ADS_1


"Maaf Mbak, saya harus menyita motor Anda, dan kalian bisa ikut kami ke kantor polisi terdekat. Mohon tunggu!" Ucap satu polisi lainnya yang masih terlihat muda. Dengan mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi teman lain untuk membawakan mobil kepolisian.


"Apa ini tidak bisa diselesaikan dengan kekeluargaan Pak polisi! kan kita bisa bicara baik-baik tanpa perlu mendatangi kantor kepolisian?" tawar Intan.


"Sebelumnya saya sudah peringatan kepada anda untuk menghentikan motor, Anda malah menerobos lampu merah, saat kita mengejar anda dan menyuruh anda untuk berhenti anda tidak menghiraukan. Anda malah berusaha meloloskan diri dengan cara kebut-kebutan di jalan," jelas polisi yang sudah berumur, terlihat dari kumisnya yang beruban. Intan sampai memperhatikan uban itu.


"Ya maaf Pak, tadi tidak sengaja!" Intan sedikit mengakui kesalahannya. Namun berat mengatakan kalau sepenuhnya dia memang salah.


"Zak, kau bawa uang sejuta gak?" Intan mendekatkan mulutnya untuk berbisik pada Zaky.


"Buat apa! gak ada yang segitu di dompetku!" jawab Zaky, sebenarnya di ATM ada, tapi biarlah ini membuat efek jera Intan.


"Buat uang tutup mulut!" jawab Intan lirih dengan menutup mulutnya.


"Kamu mau menyogok maksudnya?" Zaky terkejut, dengan suara yang lumayan keras, terdengar oleh dua polisi tersebut.


"Sttt! jangan keras-keras dong!" Intan menutup mulut Zaky rapat. Dengan mengedipkan beberapa kali matanya. Agar Zaky tidak lagi membahasnya.


Intan melirik Zaky dengan cengar cengir. Dia merasa malu dan tidak enak hati karena kebodohan yang di lakukannya sendiri.


Zaky malas bicara, dia diam saja saat polisi itu membawanya. Pasrah akan apa yang nanti terjadi.Intan menghubungi ibu dan ayahnya di rumah.


"Apa? siapa yang ditahan?" jawab Misbah dari seberang telepon.


"Aku Ayah!" jawab Intan dengan suara parau. Dia tidak ingin polisi-polisi itu menahannya.


"Apa yang kamu lakukan sampai polisi menahanmu? dari kecil kerjaanmu buat susah orang tua saja Intan! bisa tidak sekali saja kamu membuat orang tuamu bernafas lega!" teriak Misbah.


Sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga Intan. Karena suara ayahnya sangat sakit di telinga Intan.


"Sudahlah ayah, cepat datang ke kantor polisi! Intan tunggu!" Intan segera mematikan ponselnya.


"Kebiasaan buruk!" sergah Zaky. Melirik Intan lalu melengos.


"Maaf ya Zaky, semuanya gara-gara aku!" Intan tahu jika saat ini Zaky kesal padanya


Tapi semuanya sudah terlanjur.


Sampainya di kantor polisi…


"Untuk memberikan efek jera, kalian akan kami tahan sementara!" kata polisi berkumis tebal. Yang jabatannya lebih tinggi dari kedua polisi tadi.

__ADS_1


"Ya Pak, kasih maaf dong. Saya minta maaf atas kesalahan saya tadi. Jangan di tahan ya saya!" Intan dengan pasang wajah melasnya memohon pada Kepala polisi.


"Jangan berusaha berkata-kata manis pada kami! kami tidak akan terpengaruh! cepat panggil orang tua kalian!" polisi menekankan nada bicaranya.


Intan terdiam dan takut!


"Zaky, kenapa kamu gak mau bicara pada polisi. Minta donk keringanan!" Intan merasa Zaky pasrah saja tidak mau berusaha.


"Percuma Intan. Nasi sudah jadi bubur!" kata Zaky datar. Dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Maaf ya Zaky, aku menyesal," Intan duduk disebelah Zaky kan mencoba meminta maaf atas kesalahan yang baru dia perbuat. Dia tidak mendengarkan nasehat Zaky sebelumnya.


"Zak, kamu marah ya. Minta maaf donk Zak! nanti kalo marah gantengnya ilang deh!" Intan berbicara dengan membuang muka ke samping dan menjulurkan lidah. Karena perkataan mulut dan hati beda.


"Coba kamu ulang lagi!?" tiba-tiba wajah Zaky berubah cerah.


"Ogah!" aku tarik kembali ucapan aku barusan. Karena gak ada data tulisan yang terekam di otak ku kalau kamu ganteng. Ogah amit-amit!" mulut Intan menyindir tidak pada tempatnya.


Suara keras mereka hampir membuat ruang tahanan ramai.


"Kalian bisa diam tidak!" teriak Polisi yang masih duduk di kursi kerjanya.


"Maaf Pak, kami akan diam!" Jawab Zaky.


"Bagaimana apa orang tua kalian tidak datang?" lagi tanya polisi muda yang tadi menghadangnya.


"Ya Pak, sabar. Sebentar lagi pasti akan datang!" Intan memilih keningnya karena risau. Apa mungkin Ayah Misbah tidak bisa mengeluarkannya dari sini.


Intan melihat jam dinding menunjukkan pukul 07.00 malam.


"Ah, lama benar mereka!" Intan mulai tidak bisa sabar menunggu orang tuanya datang.


Dua orang polisi kembali datang dan menyuruh keduanya berdiri. Dengan memborgol tangannya di belakang.


"Aduh Pak, gak kasihan apa. Tangan udah di borgol gini. Sudah kaya tahanan aja!" Intan tidak bisa berhenti berbicara. Sebelum kedua orang tuanya datang.


"Sudahlah dari tadi Kamu banyak bicara, sekarang tunggu saja orang tuamu di balik jeruji!" jawab Polisi muda yang mendorong tubuh Intan hingga terjungkal.


"Aduh, pelan-pelan napa Pak, aku jadi jatuh bangun karena Bapak mendorong tubuh saya!" sungut Intan.


Polisi memasukkan Intan bersama wanita tahanan lain dengan kasus ringan.

__ADS_1


__ADS_2