Intan, Gadis Tomboy

Intan, Gadis Tomboy
Bab. 19. Harapan Misbah Pada Dion


__ADS_3

Pada perlombaan adu balap ini, Zaki kalah start. Kecewa di hatinya sangat mendera. Namun dia tidak akan membiarkan pria itu satu langkah lebih maju darinya untuk mendapatkan Intan.


Lampu merah sudah terlihat, dia yakin bahwa Dion tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan hati gadis tomboy itu


Tapi masalahnya, apakah gadis tomboy bisa memiliki cinta untuk mereka para pria? Dengan kebiasaannya sama seperti kegiatan yang dilakukan sepertinya.


Tapi Zaky yakin, Intan memiliki cinta untuk Zaky. Motor Zaky laksana pembalap profesional kali ini. Dia tidak peduli, dengan keselamatan nyawanya. Yang terpenting saat ini dia harus sampai di rumah Intan secepatnya.


Beberapa menit kemudian sampailah Zaki depan rumah Intan. Terlihat mobil berwarna silver milik Dion sudah berada di pekarangan rumahnya.


"Sial! dia sudah sampai di sini duluan, aku harus cepat-cepat masuk ke dalam untuk menghindari hal-hal yang tidak aku inginkan dari sikap dan bicara Dion yang nantinya membuatku mual."


Zaky percepat laju langkahnya, di ruang tamu Dian duduk bersama Pak Misbah.


"Assalamualaikum Pak Misbah," sapa Zaky saat berdiri diambang pintu yang separuh terbuka.


"Wa'alaikum salam Zak, masuk saja Zaky," jawabnya sembari menyuruh Zaky masuk dan bergabung dengan mereka.


"Ternyata kamu ke sini juga Zaky?" tanya Dion merasa sok peduli.


"Haha, kan dari tadi aku sudah bilang mau menjenguk Intan, apa kamu lupa?" jawab Zaky setengah menyulut.


Misbah melihat keduanya, wajah mereka terlihat babak belur, memar tidak beraturan.


"Kalian saling kenal? Dan tunggu, itu wajah kalian kenapa babak belur seperti itu? apa jangan-jangan kalian baru bertengkar?" Misbah merasa curiga.


"Maaf Pak Misbah, biasa anak muda. Pak Misbah seperti tidak pernah muda saja," Zaky dengan tertawa kecil segera duduk di dekat Dion.


"Oh ya Pak, bagaimana keadaan Intan? Apa dia saat ini sudah membaik? Saya sangat khawatir terhadapnya karena dia tidak pernah sakit sebelumnya, Intan itu anak yang kuat dan bebal, jadi saya rasa penyakit pun enggan bersarang di tubuhnya," kata Zaky terkekeh.


"Semprul kamu Zak! Meskipun Intan anak tomboy, toh dia tetap manusia kan?" Misbah merasa tidak terima. Keningnya berkerut.


"Haha, bercanda Pak."


"Saat ini dia sudah membaik, kalau kalian mau silakan saja untuk menjenguknya ke dalam, tadi dia masih beristirahat karena mengeluh kepalanya sedikit pusing," kata Misbah mempersilahkan mereka.

__ADS_1


"Terimakasih Pak!"


Menurut pendapat pria yang sudah berumur itu, Dion sepertinya lebih pantas untuk putrinya. Dian bicara sendiri pada Misbah bahwa saat ini Dia adalah seorang CEO di perusahaannya. Dan jika demikian maka kehidupan Intan akan terangkat.


Misbah ingin Intan tidak seperti mereka, hidup dengan sederhana, dan uang penghasilan perkebunan hanya cukup untuk dibuat makan sehari-hari. Sementara untuk kebutuhan yang lain, dia belum bisa mencukupinya.


Kali ini pria itu tersenyum, ternyata masih ada pria yang menyukai putrinya. Padahal dia nilai, Intan adalah anak yang nakal dan urakan. Tidak akan ada pria yang menyukainya. Apalagi seorang CEO seperti Dion.


Pada kenyataannya, ternyata banyak yang mengincar putrinya itu meskipun dia masih sekolah duduk di bangku kelas 2 SMA.


Zaky dan Dion berjalan mendekati kamar Intan, dengan saling menyiku satu sama lain.


Keduanya melihat Intan terbaring dengan mata terpejam. Ingin masuk namun kasihan jika mengganggu dia istirahat.


"Mau menjenguk Intan ya Zaky dan temannya ini?" tanya Minah yang baru keluar dari kamar Intan.


"Ya Mak, tapi biarlah dia beristirahat dulu. Agar kesehatannya cepat pulih. Kami tidak akan mengganggunya," jawab Zaky.


Zaky sudah sering main ke rumah Intan, jadi sudah terbiasa dengan keluarga Intan. Termasuk emak dan bapaknya.


"Oh tidak perlu Bu, biar saja dia istirahat."


Percakapan di antara mereka membuat Intan terbangun, kalau melihat ke arah pintu. Gadis itu tersenyum pada mereka.


"Kamu Zak! Masuk aja!" suruh Intan yang masih terbaring.


"Tuh dia melek, silahkan masuk, Mak mau buatkan minuman untuk kalian."


"Ah tidak perlu repot-repot Mak," Zaky yang biasa menggoda Minah selalu membuat Minah tertawa.


"Aku nggak buatin kamu, Mak buat teman kamu itu," jawabnya terkekeh dan berjalan pergi ke arah dapur.


"Hai Intan, bagaimana kabar kamu?" tanya Dion.


"Eh Dion, aku uda baikan kok, emangnya kamu nggak kerja?" tanya Intan masih dalam selimut yang menutupi tubuhnya.

__ADS_1


"Syukurlah, iya aku kerja tadi izin mau menjemput kamu pulang, nanti aku balik ke kantor jam setengah dua siang. Kamu makan yang banyak kayak kemarin biar cepat sehat, kalau udah sehat nanti aku traktir makan lagi sepuasmu," kata Dion menyindir.


"Buktinya apa makan banyak bisa buat badan sehat, Yang kulihat malah kemarin Kamu traktir Intan makan banyak dan akhirnya apa? malamnya dia malah demam," sungut Zaky yang terdiam dari tadi.


Hari ini mbak


"Cih, nyambar aja kaya listrik!"


"Kamu itu, parasit!"


Kedua bola mata Intan menatap Zaky dengan tersenyum, entah dia sangat senang hati ini pria itu menjenguknya. Padahal biasanya tidak ada perasaan ini muncul.


"Sudah donk! Jangan bertengkar lagi! Kalian ini menjenguk apa mencari tempat untuk berkelahi? lihatlah wajah kalian yang babak belur itu? Pasti kalian baru bertengkar ya? mau saya obati kalian?" tawar Intan serius. Dia terpaksa bangun dari tidurnya.


"Eh tidak perlu, kami ini cowok, jadi luka seperti ini sih kecil bagi kamu,nya kan Dion?"


"Bener, udah kamu istirahat saja, maaf Intan aku buru-buru, lupa tidak bawa buah tangan, hehe," Dion cengar cengir saat bicara pada Intan mengenai oleh-oleh yang lupa di bawanya.


"Ya Intan, maafin kita karena lupa. Habisnya dari sekolahan ke sini kita tadi aduh balap, ternyata aku yang kalah start," ungkap Zaky jujur.


"Ya, gak apa kok."


"Kalau besok aku kemari lagi, nanti aku mampir deh, ke toko atau warung atau apa, kamu mau dibawakan apa sih?" tanya Dion dengan tersenyum.


"Tidak perlu, udah doain saja aku cepat sembuh biar bisa masuk sekolah lagi, aku kanau jadi amak baik," kata Intan dengan melebarkan senyumnya.


"Jangan berubah ya Intan, aku ingin kau tetap menjadi seperti ini saja, ku mohon, aku lebih suka kau apa adanya, seperti sebelumnya," Kata Zaky.


"Gak Zak, pengen berubah menjadi lebih baik lagi aja. Hehe, entah aku bisa apa gak!"


"Semangat Intan!" Keduanya serentak memberi semangat.


"Terima kasih ya..."


"Zak, aku kalau udah sembuh pengen nimpuk kera yang beberapa hari lalu ngejar kita," kata Intan nyeleneh.

__ADS_1


"Eh, aku gak mau ikut ya. Maraton tingkat nasional banget itu."


__ADS_2