Intan, Gadis Tomboy

Intan, Gadis Tomboy
Bab. 11. Tragis


__ADS_3

Hari itu Intan ingin pergi bersama temannya main ke lapangan basket...


Biasa, dia lebih senang jalan kaki, meski sedikit jauh, atau naik angkot jika tujuannya sedikit jauh.


"Duh, bahaya ini, orang yang rumahnya pernah aku lempari batu ada di depan mata, aku harus kabur, sebelum dia minta ganti rugi kerusakan kacanya," Intan putar kaki nya, dan berjalan seolah dia tidak melihat wanita paruh baya itu.


"Satu ... Dua ... Ti ... Kabur!"


"Woy gadis nakal! berhenti kau!" teriak wanita itu, intan berpikir, dia tidak akan mampu mengejarnya, karena sang wanita memakai sarung, pasti kesulitan bergerak dengan sarung itu.


"Hahah ... ah! kenapa sih apes lagi, sumpah aku tidak memiliki cita-cita jadi atlet lari, aku cuma mau jadi altet basket," gumamnya sambil terus berlari.


Lagi-lagi kakinya yang tidak bisa membiarkan diam benda di jalanan, menendangnya dengan keras.


Sebuah kaleng bekas itu melesat jauh dan mengenai seorang pria yang baru keluar dari mobilnya.


Teng!


"Auh! sakit!"


Intan berlari tanpa melihat depan, dan lagi, menabrak seseorang di depannya.


Bug!


"Lagi-lagi kamu!" teriak seorang pria, Intan menabrak seorang berdada bidang, dari parfum dan suaranya dia seperti pernah menciumnya.


Saat melihat ke wajahnya, 'Ya ampun pria ini lagi!'


Intan berniat lari lagi, tapi pria itu memegang tangannya, "Lepas!" Sambil melihat ke arah belakang, takut wanita tadi mengejarnya sampai sini.


"Kenapa? Hah?" tanya pria itu menyelidik.


Intan tidak segera menjawab, "Pasti berbuat ulah lagi seperti tempo hari?" pria itu menelisik.


"Dasar gila!"


"Apa kamu bilang? sini ikut aku!" pria itu menarik tangan intan dengan paksa.


"Mau di ajak kemana aku?" Intan merasa kebingungan. Pria itu menyeretnya pergi dan mendorong paksa tubuh Intan masuk ke dalam mobil.


"Lepas gak! apaan sih, kenapa aku dimasukin ke mobil, ampun! kau bawa aku kemana?" Intan ketakutan. Ingat-ingat akan berita di televisi tentang sebuah kasus, penganiyaan dan pembunuhan bahkan di mutilasi secara keji.


"Ampun! jangan bunuh aku!" Intan berteriak, pikirannya saat ini adalah kematian yang menantinya.


"Tutuplah mulutmu! Berisik! lagi pula siapa yang akan membunuhmu! bahkan pisau-pun enggan menyentuh kulitmu! aku akan beri kamu hukuman! kau sudah membuat aku repot berkali-kali! anak seperti kamu tidak bisa di biarkan berkeliaran," ucap pria yang belum di ketahui namanya oleh Intan.


Pria tampan berambut pirang itu melepaskan tangan Intan, saat dia sudah menutup pintu mobil dan menjalankan mobilnya.


"Kau mau bawa aku ke mana? please lepaskan aku wahai pria tak bernama!" rasanya darah Intan berubah dingin, dia merasa ketakutan yang luar binasa, eh biasa.


Tidak pernah perempuan itu se-gelisah ini, bahkan di kejar monyet lebih seru dari pada di bawa orang dengan beribu pertanyaan.


"Aish, please siapapun aku mohon, tolonglah aku," Intan menggebrak-gebrak pintu mobil, berharap akan ada dewa penolong yang akan menolongnya. Kali dia kepikiran Zaky, akankah pria itu muncul di hadapannya.


Mobil itu melaju cepat, hingga meski berteriak sekalipun, tidak akan ada yang mendengarnya.


"Ah, berisik sekali! diam gak? atau aku lempar kamu ke tepi jalan sekarang?" ancamnya. Terpaksa Intan diam, dan menunggu pria itu menghentikan mobilnya.


Beberapa menit dalam mobil itu hening, tidak ada percakapan, hanya suara mobil yang di naikkan laju kecepatannya yang terdengar. Yang di dengar Paling keras oleh Intan saat ini adalah detak jantungnya.


Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di sebuah kediaman rumah mewah, jarak dari gerbang besi dan rumahnya lumayan jauh.


Seorang satpam membuka gerbangnya, dan memberi hormat dengan menundukkan kepalanya.


"Rumah siapa itu? besar banget" tanya Intan. Masih terpukau dengan kemegahan rumah itu. Mendongak hingga lantai atas.


Pria itu belum menjawab, berhenti di lorong penghubung pintu utama.


"Keluarlah!" sensor yang sudah di setting otomatis membuka pintu mobil.


"Weh, canggih banget weh?" Intan tidak percaya dengan semua yang dilihatnya. Terakhir kali ia ikut acara iringan pengantin dengan insial mobil merk Av, AC yang membuatnya mual tujuh hari tujuh malam, Sampai trauma naik mobil selain angkot. Kali ini dia biasa saja, apa ini yang namanya mobil mewah?


"Sudah jangan bengong! ikut aku masuk!" pria itu memaksanya ke rumah itu, Intan tidak bisa menghindari, tangannya begitu kuat, tenaganya berbeda jauh darinya.


Intan masuk di rumah mewah, mepet sawah itu. Dengan terkagum-kagum gadis itu berputar-putar melihat ke atas langit-langit plafon yang indah, dengan pernak-pernik hiasan lampu redup yang masih menyala.


"Eh, ini siang lho! Hemat listrik napa! matiin itu lampunya, kata Emakku gitu. Kan uda terang dapat cahaya dari luar," intan berceloteh tidak ada habisnya.

__ADS_1


"Hii ... !"


Pria tampan nan menyebalkan ini menutup rapat mulut Intan dengan tangan kanannya. Merasa kupingnya panas karena banyak bicara.


"Auh!"


Gadis itu meronta, dan menggigit telapak tangannya, "Gadis aneh menyebalkan!"


"Enak aku gigit? mau lagi?" tawar Intan, sang pria mundur beberapa langkah dari nya. Dia harus menjaga jarak dari gadis itu.


"Haha, sekarang apa yang kau inginkan dariku?"


"Kamu jangan banyak bicara, ikut aku!" ajak pria yang sampai saat ini belum diketahui namanya oleh Intan.


Sampai ke sebuah lorong paling ujung di kediaman ini, mereka berhenti. Pria dengan tubuh tinggi membuka pintu sebuah kamar, menurut Intan.


"Masuk dan bersihkan! kau sudah membuatku susah beberapa kali. Jadi, kamu harus mendapat hukuman, kalau tidak, kau akan aku pidanakan, mau?" ancamnya.


"Ba-baik, Mas."


"Mas, gundulmu! bersihkan itu, anggap saja kamu sehari ini bekerja di tempatku tanpa upah, tapi aku akan beri kamu makan dan minum sekali, jadi jangan berharap lebih, paham?"


"Aku gak tahu namamu, terus aku panggil kamu gimana?"


"Aku Dion!" jawabnya ketus, lalu meninggalkan gadis itu sendiri di ruang yang sedikit tidak terawat, lebih tepatnya gudang.


'huft'


"Apes benar hidupku, apa ini rumah pria itu ya, aku rasa sih begitu, ini ruang apaan sih? ah aku kesal, pengen lari. Hiks hiks," intan meracau tiada henti. Melihat sekeliling ruangan, banyak debu berterbangan, sarang laba-laba sudah memenuhi seluruh sudut dan langit-langit ruangan. Barang bekas yang tertumpuk tidak di terpakai.


Gadis itu mulai mengambil sapu di ujung pintu, "Halo ... Aku harus mengawali ini dari mana?"


"Mak, apa ini karma darimu Mak? sungguh aku minta ampun Mak!"


Intan dengan berat hati memulai membersihkan gudang itu, mulai dari sudut ruangan, menata beberapa barang, di bersihkan, dan ia tumpuk dengan rapi, menyapu, dan pekerjaan yang merepotkannya, mengepel lantai.


"Tragis sekali hidupku!"


Baba 11 Tragis (Intan)


Hari itu Intan ingin pergi bersama temannya main ke lapangan basket...


Biasa, dia lebih senang jalan kaki, meski sedikit jauh, atau naik angkot jika tujuannya sedikit jauh.


"Duh, bahaya ini, orang yang rumahnya pernah aku lempari batu ada di depan mata, aku harus kabur, sebelum dia minta ganti rugi kerusakan kacanya," Intan putar kaki nya, dan berjalan seolah dia tidak melihat wanita paruh baya itu.


"Satu ... Dua ... Ti ... Kabur!"


"Woy gadis nakal! berhenti kau!" teriak wanita itu, intan berpikir, dia tidak akan mampu mengejarnya, karena sang wanita memakai sarung, pasti kesulitan bergerak dengan sarung itu.


"Hahah ... ah! kenapa sih apes lagi, sumpah aku tidak memiliki cita-cita jadi atlet lari, aku cuma mau jadi altet basket," gumamnya sambil terus berlari.


Lagi-lagi kakinya yang tidak bisa membiarkan diam benda di jalanan, menendangnya dengan keras.


Sebuah kaleng bekas itu melesat jauh dan mengenai seorang pria yang baru keluar dari mobilnya.


Teng!


"Auh! sakit!"


Intan berlari tanpa melihat depan, dan lagi, menabrak seseorang di depannya.


Bug!


"Lagi-lagi kamu!" teriak seorang pria, Intan menabrak seorang berdada bidang, dari parfum dan suaranya dia seperti pernah menciumnya.


Saat melihat ke wajahnya, 'Ya ampun pria ini lagi!'


Intan berniat lari lagi, tapi pria itu memegang tangannya, "Lepas!" Sambil melihat ke arah belakang, takut wanita tadi mengejarnya sampai sini.


"Kenapa? Hah?" tanya pria itu menyelidik.


Intan tidak segera menjawab, "Pasti berbuat ulah lagi seperti tempo hari?" pria itu menelisik.


"Dasar gila!"


"Apa kamu bilang? sini ikut aku!" pria itu menarik tangan intan dengan paksa.

__ADS_1


"Mau di ajak kemana aku?" Intan merasa kebingungan. Pria itu menyeretnya pergi dan mendorong paksa tubuh Intan masuk ke dalam mobil.


"Lepas gak! apaan sih, kenapa aku dimasukin ke mobil, ampun! kau bawa aku kemana?" Intan ketakutan. Ingat-ingat akan berita di televisi tentang sebuah kasus, penganiyaan dan pembunuhan bahkan di mutilasi secara keji.


"Ampun! jangan bunuh aku!" Intan berteriak, pikirannya saat ini adalah kematian yang menantinya.


"Tutuplah mulutmu! Berisik! lagi pula siapa yang akan membunuhmu! bahkan pisau-pun enggan menyentuh kulitmu! aku akan beri kamu hukuman! kau sudah membuat aku repot berkali-kali! anak seperti kamu tidak bisa di biarkan berkeliaran," ucap pria yang belum di ketahui namanya oleh Intan.


Pria tampan berambut pirang itu melepaskan tangan Intan, saat dia sudah menutup pintu mobil dan menjalankan mobilnya.


"Kau mau bawa aku ke mana? please lepaskan aku wahai pria tak bernama!" rasanya darah Intan berubah dingin, dia merasa ketakutan yang luar binasa, eh biasa.


Tidak pernah perempuan itu se-gelisah ini, bahkan di kejar monyet lebih seru dari pada di bawa orang dengan beribu pertanyaan.


"Aish, please siapapun aku mohon, tolonglah aku," Intan menggebrak-gebrak pintu mobil, berharap akan ada dewa penolong yang akan menolongnya. Kali dia kepikiran Zaky, akankah pria itu muncul di hadapannya.


Mobil itu melaju cepat, hingga meski berteriak sekalipun, tidak akan ada yang mendengarnya.


"Ah, berisik sekali! diam gak? atau aku lempar kamu ke tepi jalan sekarang?" ancamnya. Terpaksa Intan diam, dan menunggu pria itu menghentikan mobilnya.


Beberapa menit dalam mobil itu hening, tidak ada percakapan, hanya suara mobil yang di naikkan laju kecepatannya yang terdengar. Yang di dengar Paling keras oleh Intan saat ini adalah detak jantungnya.


Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di sebuah kediaman rumah mewah, jarak dari gerbang besi dan rumahnya lumayan jauh.


Seorang satpam membuka gerbangnya, dan memberi hormat dengan menundukkan kepalanya.


"Rumah siapa itu? besar banget" tanya Intan. Masih terpukau dengan kemegahan rumah itu. Mendongak hingga lantai atas.


Pria itu belum menjawab, berhenti di lorong penghubung pintu utama.


"Keluarlah!" sensor yang sudah di setting otomatis membuka pintu mobil.


"Weh, canggih banget weh?" Intan tidak percaya dengan semua yang dilihatnya. Terakhir kali ia ikut acara iringan pengantin dengan insial mobil merk Av, AC yang membuatnya mual tujuh hari tujuh malam, Sampai trauma naik mobil selain angkot. Kali ini dia biasa saja, apa ini yang namanya mobil mewah?


"Sudah jangan bengong! ikut aku masuk!" pria itu memaksanya ke rumah itu, Intan tidak bisa menghindari, tangannya begitu kuat, tenaganya berbeda jauh darinya.


Intan masuk di rumah mewah, mepet sawah itu. Dengan terkagum-kagum gadis itu berputar-putar melihat ke atas langit-langit plafon yang indah, dengan pernak-pernik hiasan lampu redup yang masih menyala.


"Eh, ini siang lho! Hemat listrik napa! matiin itu lampunya, kata Emakku gitu. Kan uda terang dapat cahaya dari luar," intan berceloteh tidak ada habisnya.


"Hii ... !"


Pria tampan nan menyebalkan ini menutup rapat mulut Intan dengan tangan kanannya. Merasa kupingnya panas karena banyak bicara.


"Auh!"


Gadis itu meronta, dan menggigit telapak tangannya, "Gadis aneh menyebalkan!"


"Enak aku gigit? mau lagi?" tawar Intan, sang pria mundur beberapa langkah dari nya. Dia harus menjaga jarak dari gadis itu.


"Haha, sekarang apa yang kau inginkan dariku?"


"Kamu jangan banyak bicara, ikut aku!" ajak pria yang sampai saat ini belum diketahui namanya oleh Intan.


Sampai ke sebuah lorong paling ujung di kediaman ini, mereka berhenti. Pria dengan tubuh tinggi membuka pintu sebuah kamar, menurut Intan.


"Masuk dan bersihkan! kau sudah membuatku susah beberapa kali. Jadi, kamu harus mendapat hukuman, kalau tidak, kau akan aku pidanakan, mau?" ancamnya.


"Ba-baik, Mas."


"Mas, gundulmu! bersihkan itu, anggap saja kamu sehari ini bekerja di tempatku tanpa upah, tapi aku akan beri kamu makan dan minum sekali, jadi jangan berharap lebih, paham?"


"Aku gak tahu namamu, terus aku panggil kamu gimana?"


"Aku Dion!" jawabnya ketus, lalu meninggalkan gadis itu sendiri di ruang yang sedikit tidak terawat, lebih tepatnya gudang.


'huft'


"Apes benar hidupku, apa ini rumah pria itu ya, aku rasa sih begitu, ini ruang apaan sih? ah aku kesal, pengen lari. Hiks hiks," intan meracau tiada henti. Melihat sekeliling ruangan, banyak debu berterbangan, sarang laba-laba sudah memenuhi seluruh sudut dan langit-langit ruangan. Barang bekas yang tertumpuk tidak di terpakai.


Gadis itu mulai mengambil sapu di ujung pintu, "Halo ... Aku harus mengawali ini dari mana?"


"Mak, apa ini karma darimu Mak? sungguh aku minta ampun Mak!"


Intan dengan berat hati memulai membersihkan gudang itu, mulai dari sudut ruangan, menata beberapa barang, di bersihkan, dan ia tumpuk dengan rapi, menyapu, dan pekerjaan yang merepotkannya, mengepel lantai.


"Tragis sekali hidupku!"

__ADS_1


__ADS_2