
Mereka sudah berkumpul di lapangan basket. Dengan jumlah anggota grup 10 orang, 5 orang starter dan 5 lagi cadangan. Pemilihan itu sudah ditetapkan sejak olah raga ini ditemukan.
Sebenarnya dari penetapan dari Federation of Internasional Basketball Assosiation (FIBA) jumlah pemain maksimal 12 pemain. Namun jumlah tersebut belum termasuk official team.
Intan disini sebagai center, sebenarnya dia pandai di letakkan di bagian manapun. Tapi pelatih menyuruhnya memegang bagian itu karena Intan lebih menguasai di bagiannya.
"Intan, kamu harus melindungi pertahanan dari serangan jarak dekat, seperti lay up dan dunk dari tim lawan," pesan pelatih Ardian.
"Baik coach," jawab Intan patuh, ya hanya dipertandingan seperti ini dia patuh omongan orang.
"Selain itu jangan lupa pada tugasmu sebagai penyerang. Beri umpan yang baik ke anggota grup-mu," lagi pesan pelatihnya.
"Dan kalian semua, gunakan latihan terakhir kalian dengan baik!" Teriak pelatih Ardian
Semua peserta berdiri pada posisi masing-masing.
Peluit ditiup menandakan latihan dimulai. Bersama pemain cadangan mereka berlatih.
Zaky datang kesana untuk melihat Intan latihan. Dia memberi semangat untuknya.
Intan melihat Zaky bertepuk tangan dengan keras. Intan memberi kode dengan menutup mulutnya dengan jari telunjuk, Zaky berhenti bersuara.
Satu bola berhasil di tangan Intan, dan mereka memulai dengan gesitnya.
"Kania! Coba perlihatkan cara mendribel yang benar! Gunakan ujung jarimu biar bola tidak lepas!" Teriak sang pelatih pada Kanya yang terbilang permainannya masih belum sempurna.
Setelah sejam mereka berlatih, "Latihan selesai!" Ucap Coach Adrian.
Semua bergegas mengambil air minum, dan meneguknya. Keringat bercucuran sebiji jagung.
Intan mendekati Zaky, dan menawarinya air kemasan.
"Gak Bek (bebek), aku gak haus," ujarnya menolak tawaran Intan.
"Jangan panggil bebek lagi dong! Kamu kan Uda janji gak manggil dengan panggilan itu lagi," Intan merasa tidak nyaman.
"Halah Bek, aku lebih senang manggil kamu bebek daripada manggil Intan," Zaky mendorong hidung Intan dengan telunjuknya.
"Terserah kamu deh," Intan sudah menyerah kalau bicara dengan Zaky yang suka seenak jidatnya.
"Pulang yuk!" Ajak Intan.
"Apa kamu gak bareng temen-temen kamu?"
"Gak, aku pengen naik motor bareng kamu!"
"Oke, let's go!" Zaky tampak kegirangan.
"Jalan yuk! Kemana gitu,
__ADS_1
Intan naik ke motor cowok milik Zaky, tinggi dan harus berpegang erat takutnya jika mengerem mendadak pasti akan jatuh.
"Pegang pinggangku yang kuat Bek!"
"Hah! Kesempatan dalam kesemutan!" Dengan mulut di moncongin dikit melihat Zaky menggodanya.
"Ya uda!" Dengan perlahan Zaky menjalankan motornya, lalu ditancapkan gasnya. Membuat Intan spontan memegang pinggang Zaky.
Zaky tanpa sepengetahuan Intan senyum-senyum sendiri.
"Kurang asem kamu Zaky, hampir aku jatuh," Intan memukul punggung Zaky keras.
"Biarlah, gak jatuh beneran kan?" Zaky memastikan.
"Awas kamu!" Intan mencubit pinggangnya.
"Tau ah, sakit tau! Jalan kemana ya enaknya?" Zaky masih dalam kebingungannya.
"Kita jalan ke Mall!" Jawab Intan asal.
"Hahaha.. banyak uang Bu, main ke Mall?" Zaky bertanya dengan mengejek.
"Ya, gimana dong kamu kan cowok, kalau berani bawa cewek keluar, berarti harus bisa keluar duitnya, hahaha," Intan terkekeh sendiri tanpa Zaky.
"Malak kamu?" Sindir Zaky.
"Uhh..." Intan berdiri berpegang pundak Zaky dengan melepas kemejanya dan mengibarkan-nya dengan gembira.
Zaky terbiasa dengan sifat-sifat Intan yang aneh dan jahil. Dia adalah sahabatnya saat mereka di sekolah dasar.
"Uda, duduklah. Tidak baik untuk pengendara lain!" Perintah Zaky pada Intan yang masih berdiri.
Sampainya di mall kota.
"Punya uang gak?" Tanya Intan menyindir dan melirik isi dompetnya. Zaky yang melihat segera menyembunyikannya.
"Eh, ini privasi orang. Gak boleh lirik-lirik, bintitan mau?"
"Ih, amit-amit jabang bayi," Intan mengelus-elus perutnya.
"Aku mencium bau menyengat deh, entah dari mana asalnya," Zaky mencari-cari sumber bau.
"Ah masa sih?" Intan membantu mengendus dan menemukan sumber bau dari tubuhnya.
Intan cengengesan, dan mengedipkan satu matanya. Dan mengangkat satu sudut bibirnya memberi sebuah isyarat Zaky harus diam.
Dilihat dari kebiasaannya, Zaky seperti anak sekolah pengangguran. Tapi dibalik itu dia punya usaha di beberapa cabang di beberapa kota. Dan memiliki beberapa karyawan untuk menjalankan usahanya.
Intan belum tahu pekerjaan itu, karena Zaky tidak menceritakannya. Biarlah Intan menganggapnya teman satu kelas biasa saja.
__ADS_1
Tiap penjualan perbulan dia dapatkan laba bersih lima juta/ anak cabang.
"Sini ikut denganku!" Zaky menyeret Intan menjauh dari bioskop, dan berjalan menaiki lift masuk ke sebuah butik.
"Eh, ngapain masuk sini?" Intan bertanya dengan heran.
"Mau ngelamar kerja," Kata Zaky terkekeh melihat kepanikan Intan.
"Eh, siapa yang mau kerja. Gak mau aku!" Intan memberontak kesal.
Bisa-bisanya Zaky menyuruh dia kerja jadi penjaga pakaian. Dia mendorong tubuh Zaky hingga jatuh.
"Aduh!" Ucap Zaky
Intan berlari Keluar, dan Zaky berhasil menarik bajunya.
"Udah ku bilang kan, aku gak mau kerja disana! Aku cuma ingin jadi atlet nasional. Udah," Intan menjelaskan.
"Ih, siapa yang ingin nyuruh kamu kerja sih, kamu masuk sekarang dan pilih baju ganti terserah kamu mau pilih yang mana," Ucap Zaky membuat Intan merasa malu dengan ucapannya tadi.
"Apa? Milih baju?" Intan cengar cengir mendengar Zaky menawarkan baju untuknya.
"Maksudnya aku milih baju, terus kamu yang bayar gitu apa gimana?" Intan memastikan.
"Gak, abis milih baju suruh tetanggamu yang bayarin," Zaky tidak mau menjelaskannya lagi. Menutup mulutnya menahan tawa.
"Eh maksudnya gimana sih. Aku gak jelas dari tadi!" Intan masih ragu.
"Iya bebek, kamu masuk lagi ke dalam butik dan pilih baju selera kamu. Aku yang bayarin!" Zaky mempertegas ucapannya.
"Yeyy!" Intan bersemangat dan berlari masuk butik. Seperti anak kecil yang baru dapat hadiah mainan. Seperti itulah Intan saat ini.
Intan memilih baju-baju yang berbaris rapi, di manekin, satu yang sudah manteb di hatinya.
Setelan kaos dan celana pendek Levis bergambar Naruto.
Zaky memukul kepalanya sendiri. Dengan Keras, bermaksud menggunjing pilihan Intan.
"Kenapa kamu Zaky? Kepala kamu sakit? Kenapa malah ditabok?" Intan tidak berasa bahwa Zaky menyindirnya.
Benar saja sih, memang dia keturunan cowok mana mungkin dia memilih baju feminim. Zaky berharap Intan bisa memilih baju yang sesuai dengan identitasnya sebagai perempuan.
"Uda yang ini saja!" Ucap Intan akhirnya. Dengan menenteng satu pakaian ditangannya.
"Uda gak ada yang lain lagi? Kamu boleh kok mengambil lebih dari satu!" Sekali lagi Zaky ingin dia memilih pakaian yang pantas untuknya.
"Beneran nih Zaky, emang kamu punya banyak uang ya? Gayanya traktir aku di beliin baju!" Ucap Intan meledek.
"Udahlah aku pasti akan bayarin baju-baju kamu."
__ADS_1
"Kamu abis menang lotre gak sih?" Intan masih dalam kepolosannya.
"Jagan banyak bicara napa sih, kaya enak-enak tahu gak!" Zaky memberi komentar buruk. Membuat Intan manyun.