Intan, Gadis Tomboy

Intan, Gadis Tomboy
Bab. 20. Kadal Darat


__ADS_3

Keinginan yang membuat Zaky hampir gila, dia tidak mau sampai nafasnya hilang gara-gara kejadian serupa.


"Amit-amit Intan, aku tidak akan mau berkolaborasi dengan mu untuk soal itu," Zaky memberi tanda bendera putih yang jika ada, pasti ia kibarkan sekarang juga.


"Haha Cemen, oh ya Dion, kemaren lusa aku baru ingat kalau kamu memiliki anjing, nah aku mau tanya sekarang anjing itu di mana?" Intan merasa saat ia berada di rumahnya kemarin, dia tidak nampak anjing itu berkeliaran.


"Oh itu, ehm ..." Dion tidak ingin bicara, ada sesuatu yang ia sembunyikan.


"Apa? tidak perlu ada yang ditutupi, mending kamu jawab jujur," Zaky ikut bicara, Dion melotot ke arah Zaky yang ia rasa selalu ikut campur pada hal yang bukan urusannya.


"Nanti aku jelasin Intan," Dion akhirnya tidak menjawab pertanyaan sederhana gadis itu.


Tring tring..


Bunyi suara ponsel Dion berdering, segera ia mengambil dari saku celananya, pria itu tidak kunjung mengangkat nya, iya diambil beberapa saat lalu berbicara pada mereka.


"Saya permisi angkat telpon dulu ya," Dion menunduk lalu pergi untuk mengangkat telpon nya.


Zaky melirik dengan sinis, Intan melihat wajah Zaky yang aneh lalu dia tertawa keras.


"Hahaha ... "


"Eh, apa yang kamu tertawakan Intan? aku merasa ada hal aneh padamu," Zaky mengerutkan keningnya.


"Justru yang aneh itu kamu Zaky! Kenapa kamu melihat Dion sampai segitunya?" sindir Intan.


"Sepertinya cowok dan cewek yang paling kepo itu adalah kaum-mu lho Zak! Haha," Intan terkekeh lagi melihat wajah Zaky saat ini yang paling buruk dari hari-hari sebelumnya.


"Kamu coba lihat gelagatnya Dion, ada yang aneh kan! angkat telpon aja dia pindah tempat! pasti ada hal lain yang di sembunyikan tuh!" terka Zaky pikirannya sudah tidak karuan, demi Intan, dia harus tahu kenapa Dion menghindari mereka.


"Aku mau keluar Intan, mau aku cari tahu sendiri kebenarannya!"


"Eh, jangan. Kalau kerjaan suka nguping gitu ntar mata kamu bintitan lho!" kata Intan memberi nasehat.


"Kamu diam saja disini bersamaku Zaky," pintanya, Zaky nurut saja.

__ADS_1


Intan mengusap tangan Zaky yang diletakkan di atas ranjang, lalu menatapnya dengan senyum. Pandangan gadis itu tidak seperti biasanya.


"Kenapa Intan?" tanya Zaky, entah kenapa jantungnya kali ini berdetak dengan kencangnya. Kali ini dia bertanya pada hatinya sendiri, 'Apakah ini cinta?'


"Makasih ya?"


"Makasih untuk apa, Intan? Bisa kamu tunjukkan spesifikasinya? maaf aku kurang responsif hari ini karenamu," Zaky sedikit belajar gombal.


"Gaya loe Zaky, ngeselin!"


Beberapa saat kemudian Dion kembali, "Maaf ya, ada gangguan teknis."


"Zaky, Nak Dion ibu masak banyak, ayo kita makan bersama, tapi menu desa, barangkali Nak Dion mau?" ucap Minah mengajak mereka makan bersama.


"Aduh terimakasih Bu, tapi saya harus buru-buru ke kantor, ada rapat setelah ini, tadi saya hanya izin sebentar dari kantor."


"Wah, sayang sekali. Saya terlanjur masak banyak," ucap Minah dengan kecewa. Wajah yang tadinya ceria berubah sedih.


"Eh, karena Ibu sudah susah payah masak untuk kami, jadi saya mau undur rapat saya demi ibu," ucap Dion. Membuat Minah tersentuh.


"Benarkah? aduh saya senang sekali. Merasa tersanjung," sudut bibir yang semula turun kini terangkat.


"Siap Emak!" Zaky sangat bersemangat.


"Dasar Zaky!"


Mereka meninggalkan Intan sementara sendiri di kamar, di meja makan terlihat Misbah sudah duduk tertib di sana.


Di meja makan itu tidak ada pertengkaran, Dion dan Zaky terlihat tertib dan santun. Tidak seperti biasanya.


Tring tring...


Lagi, ponsel Dion berbunyi. Benda canggih yang berbentuk persegi itu di simpan di saku baju nya. Dion menarik ke atas, melihat nama pemanggil, setelah dia baca, di jatuhkan lagi di saku bajunya .


"Kenapa tidak di angkat Nak Dion?" tanya Minah yang sangat halus sekali, tidak biasanya wanita itu berkata dengan sangat lbur seperti sekarang ini.

__ADS_1


Zaky menatap Dion sinis, "Enak benar si Dion, seperti di manjakan oleh Emak, coba kalau bicara padaku, suka keluar haluan," gumamnya sedikit memiliki perasaan iri.


Zaky berharap, mereka tidak menaruh harapan besar pada pemimpin perusahaan itu.


Sedikit tidak yakin, jika pria ini adalah seorang CEO, jika dia CEO, kenapa Reno hanya bekerja di sekolahan? bukankah pendapatan jadi guru sekolah hanya kecil. Cukup untuk makan sehari-hari.


'Benar-benar sangat membingungkan,' gumam Zaky.


Seperti sebelumnya dia akan mengangkat telpon dengan menghindari diri dari mereka .


"Maaf, saya permisi keluar menerima panggilan," ucap Dion dengan mereka.


"Mak, Zaky pengen keluar juga, cari angin dulu Mak, masakan Mak emang jempolan."


Zaky berjalan pelan sekali, membuntuti Dion yang sudah agak jauh darinya.


Pelan terdengar, pria itu ternyata tidak ingin suaranya di terdengar yang lain. Dia berdiri di depan pintu, bersandar di sana.


"Ya, Sayang. Kamu tunggu aku sebentar lagi aku akan ke kantor," seperti itulah salah satu kalimat yang di tangkap Zaky dari suara Dion.


"Hmmm, jadi ini yang dari tadi di sembunyikan aku tadi? Hah? dasar Dion, Intan harus tahu dia tidak boleh di permainkan oleh pria itu. Dasar kadal darat!" umpatnya dengan gemas.


Tap tap...


Langkah kaki Zaky terdengar oleh Dion, pria itu berjalan ke arahnya, "Kamu nguping ya? kamu terlalu ikut campur Zak, dan biar nanti aku jelaskan padamu dan Intan tentang siapa yang baru saja meneleponku tadi," jelas Dion keringatnya panas dingin tidak terkontrol. Segera ia mengakhiri panggilannya.


"Haha, baru saja di gertak bebas, sekarang nervous juga kamu Dion, benar tidak barusan bicara dengan wanita? aku mendengarkan kamu bicara pada kekasihmu, sudah tidak perlu repot-repot mengejar cinta Intan Dion. Setia saja kamu pada kekasihmu itu! aku tidak akan mengampuni kamu jika Samapi kau bermain-main pada hati Intan!" sungut Zaky, suaranya sedikit lebih tinggi.


"Sudah, kamu jangan bersuara keras disini. Apa kamu gak kasihan pada Intan, dia sedang istirahat!"


"Biar saja mereka tahu kalau kau ini kadal darat!" umpatnya.


"Jangan bahas masalah ini, aku tidak mau kamu membesar-besarkannya. Aku akan jelaskan bagaimana sesungguhnya, jangan hanya bisa mendengar beberapa kata dari ku, kau sudah bisa menyimpulkan suatu hal negatif terhadapku!" bela Dion.


"Sudahlah! tampang seperti kau ini sudah banyak ku temui di pasar loakan!" Zaky terkekeh.

__ADS_1


"Sudah, aku mau pergi. Akan ada meeteng setelah ini, aku akan sangat terlambat." Dion berjalan masuk ke dalam dan berpamitan pada orang tua Intan.


Zaky sangat takut, jika Pak Misbah dan Emak Minah sangat mengharapkan Dion sebagai mantunya. Meski Intan masih kelas 2 SMA, pasti angan-angan menjodohkan Intan dengan pria kaya sudah ada di depan mata .


__ADS_2