
Dion menelisik pandangan Intan yang mengarah meja paling depan, pandangannya tidak lepas dari intan.
"Katanya dia hanya sebatas teman? Kenapa sepertinya kamu menyukai pria itu? Haha ... Dari tatapan matamu sepertinya kamu sedang cemburu ya? Makan-nya, kalau suka bilang suka. Lihat dia duduk bersama Gadis itu sepertinya hatimu terbakar, Intan," Dion bicara tanpa tanda titik. Seperti kereta api.
Intan menghentikan pandangannya ke arah Zaky, lalu mencoba menatap wajah pria yang kali ini ada di hadapannya itu. Dia tahu pria ini adalah pria yang tampan dan mapan. Tapi minus sifatnya yang menyebalkan.
"Sudah ngomongnya? Dari awal pertama kamu itu membuatku kesal sampai detik ini tidak ada kata-kata atau sikapmu yang membuatku merasa senang," wajahnya cemberut, sangat masam.
"Selamat siang Tuan dan Nona, silahkan pilih menu di restoran kami," ucap salah satu pramusaji wanita yang sedikit memakai baju dengan rok pendek di atas lutut.
Keduanya segera melihat-lihat daftar
menunya, sesekali Intan melihat sinis Dion yang memperjuangkan paha si tukang pramusaji.
"Dasar buaya!" umpatnya lirih.
Meskipun lirih suara Intan terdengar di kuping Dion, "Apa kamu bilang? buaya?"
"Gak ada, ini ada menu baru, sate buaya," jawabnya nyeleneh.
"Gadis gila!"
Pramusaji yang mengetahui hal itu tersenyum sendiri, dan sedikit cari perhatian juga pada Dion.
'Ah, dasar ke duanya sama-sama buaya darat!' Intan masih belum fokus pada daftar yang di baca, otak dan matanya mengarah pada mereka.
"Aku pesan ini, ini, ini, ini, ini, dan ini!" jawab Intan, dengan menunjukkan list yang terdapat disana. Tanpa membacanya. Dia ingat dulu pernah pesan menu seperti masakan warung bersama Zaky.
"Banyak amat memangnya kamu habis?" tanya Dion merasa wanita itu kesurupan.
"Habis, emangnya kenapa? Kamu bawa uang kan untuk membayar semuanya?" Intan merasa ragu. Dan dia harus memanfaatkan kesempatan makan gratis ini dengan sebaik mungkin.
"Bawa-lah, terserah kamu mau pesan apa saja, mau bungkus juga gak masalah, atau beli restoran ini, bisa aku!" jawabnya dengan sombong. Dan Dion sudah memesan menu pilihannya sendiri.
"Baik, makanan akan segera di kirim, tunggu ya Tuan dan Nona!"
"Ya Mbak, terimakasih." ucap Intan dengan senyum mengembang.
'Giliran pada orang baiknya setengah mati, tapi kenapa saat bicara padaku gak ada manis-manisnya.'
__ADS_1
Beberapa saat kemudian makanan berdatangan, berbagai masakan sudah di tata pramusaji di atas meja, Sampai ada dua pramusaji yang mengantarnya, karna saking banyaknya pesanan Intan.
"Ini silahkan Tuan dan Nona," ucap pramusaji dengan ramahnya.
Sementara Dion melihat begitu banyak makanan tertata di meja dengan rapi, dalm batin, 'Cewek ini manusia apa monster? Gila betul pesan segini banyaknya.'
"Kenapa bengong? ayo kita makan! ini mumpung gratis, jangan di sia-siakan rezeki di depan mata!" ajaknya tanpa sungkan.
Dion melongo tidak percaya, ada gadis se-rakus dia, Intan dengan semangat mengambil satu persatu, dan mulai memakan dengan lahapnya.
Dion menelan Saliva tanpa menyentuh makannya sendiri. Melihat Intan makan seperti itu, sudah membuat perutnya kenyang.
"Woy! malah bengong! yok di makan! atau kamu gak nafsu? Biar nanti ku habiskan!" tawar Intan dengan tidak malunya.
Cling cling.. bunyi suara ponsel Dion. Setelah di buka, ternyata Kaka Reno.
["Yon, kamu sudah di restoran?"]
["Sudah, Kak. Ada apa chat?"]
["Intan sudah makan?"]
["Ok, tapi aku butuh bukti Yon!"]
["Siap, aku akan kirim buktinya,"]
Dion keluar dari aplikasi berwarna hijau, Lalu pindah menekan menekan fitur camera video.
Pria itu pelan mengangkat ponselnya, bersembunyi di antara meja, membuat video pendek, saat Intan makan dengan rakusnya.
Setelah selesai, segera di mengirimkan ke nomer Kakak Reno. Dua detik terkirim, terlihat centang dua berwarna hijau. Artinya video itu sudah di buka Reno.
["Buset! Itu anak, makan kaya orang kesurupan!"] Reno membalas dengan emot ketawa.
["Ya, itulah murid kesayanganmu, habis-habisin duitku aja!"] Dion menambahkan emot sedihnya, dengan emot gambar dollar terbang.
"Yon! cepat makan! keburu basi!" Perintah Intan, dengan mulut penuh.
"Kunyah dulu! Baru ngomong! dasar gadis pecicilan!" Dion hanya mengaduk- aduk makanan di piringnya.
__ADS_1
Terlihat Intan mendengar perintah Dion, lalu meneguk air, lalu bicara lagi.
"Lihatlah makananmu, sudah lembek! Ayo jangan malu-malu!" suruhnya untuk segera melahap habis.
"Seharusnya, yang bilang jangan malu-malu itu aku," ketus Dion. Biar dia kesal, namun dia juga tetap merasa suka pada gadis itu. Dia gadis yang berbeda dari lainnya.
Intan masih melirik lagi Zaky yang terlihat nyaman bersama gadis lain. Membuatnya panas, dan ingin cepat menghabiskan seluruh makanan di mejanya.
Uhuk uhuk! gadis yang di keramat-kan Dion tersedak.
"Ini!" Dua suara beriringan menawarkan sebuah air putih ditangannya.
Terlihat dua gelas ada dihadapan intan, gadis itu melihat mereka, Dion dan Zaky. Entah kapan pria itu datang padanya.
"Air putih milikku masih ada, terimakasih untuk tawarannya." ucap Intan menolak dengan halus.
"Zak!" panggil Intan pada Zaky yang sudah akan beranjak dari mejanya.
"Ya?"
"Siapa gadis itu?" tanya Intan dengan wajah aneh, Zaky tidak pernah melihat Intan bertanya serius seperti sekarang ini.
"Dia temanku saja, ya sudah lanjutkan makannya, awas tersedak lagi. Berhati hati lah," pesan pria yang tiap hari bersama Intan itu. Sedih sedih harus meninggalkan Intan bersama pria lain selain dia.
'Sejak kapan aku memiliki perasaan cemburu seperti sekarang ini? bikin kesal, tapi aku benar tidak rela melihat Intan di pandang intens oleh pria itu,' Zaky berjalan sambil bergumam kesal.
Intan bersendawa keras, membuat semua orang yang ada di sekitarnya, terutama yang mendengarkannya merasa ilfill.
"Astaga! Gadis model apa kamu Tan, setan! haha!" Dion tertawa geli, tidak pernah sebelumnya dia melihat gadis seperti Intan.
"Kenapa tertawa, artinya ini sudah di terima oleh nabi usus!" Kata gadis yang saat ini tengah menyandarkan punggungnya di dinding kursi.
Tak perduli, semua mata melihat kearahnya. Dia percaya diri saja, asal dia benar dan tidak merugikan orang lain, Intan tidak merasa tersinggung.
"Haha, gokil sekali kamu Intan! kita pergi sekarang?" ajak Dion. Wajahnya yang semula menjengkelkan di mata Intan, kini terlihat lebih sedap di pandang.
"Hmmm ..!" Intan sedikit takut, apa benar dia yang akan bayar ini semua, takut jika dia saat ini mengerjainya saja. Bisa-bisa hukuman mencuci piring seperti kesekian kalinya terulang lagi.
"Hmm kenapa? sudah ayo kita pergi dari sini, aku sudah berjanji pada kakak, mau antar kamu pulang," ucapnya. Intan menurut saja, pria itu berjalan ke wasir, eh kasir dan terlihat mengeluarkan kartu atm-nya. Tidak lama kemudian dia berbalik dan menggandeng tangan Intan keluar restoran.
__ADS_1