Intan, Gadis Tomboy

Intan, Gadis Tomboy
Bab. 12. Ada Perasaan Cemburu


__ADS_3

"Malang benar nasib anakmu ini, Emak! oh ... Emak, biasanya kalau kata orang Zaman dulu-dulu, jika anaknya sedang kesusahan pasti emaknya akan terasa dalam batinnya. Tapi apa daya, si Emak ku tiada mencurahkan kasih sayangnya padaku, hingga aku menjadi anak yang malang, oh Intan, kapan nasib baik akan berpihak padamu, andai cerita yang sering ku baca 'Putri dan pangeran' ini ada dalam dunia nyata-ku, pastilah aku akan sabar menghadapinya, dan menunggu sang pangeran datang dan meminang-ku, ahhhhhh!" saat belum selesai Intan berceloteh tiada arah, ada seekor tikus melewati kakinya, hingga dia harus menjerit dan melompat-lompat karena geli.


"Tolong! tolong!" Intan berteriak keras, dia berlari dan melompat keluar pintu dan menabrak seseorang. Gila, sudah menjadi hobi mungkin ya, sering nabrak orang gini kerjaan si Intan.


Bug!


"Intan?"


Gadis itu melihat seseorang di depannya, " Lho Pak Reno?" gadis itu terkejut saat melihat guru Bimbingan konseling itu ada di rumah ini.


"Kok kamu bisa di sini?" tanya Reno, dia juga terkejut melihat murid nakalnya bisa berada dirumah itu.


"Hmm... Itu semua karena Dion, Pak!"l saya di hukum bersihkan gudang ini," Jawabnya dengan menggaruk-garuk tengkuk yang tidak gatal.


"Dasar anak itu, berulah lagi!" ucap Pak Reno lirih. Dari wajahnya sudah menunjukkan kemarahan.


"Sudah, ikut aku," ajaknya, Intan membuntuti langkah Reno hingga berhenti di sebuah ruang keluarga.


Terlihat dia sedang asyik melihat pertandingan sepakbola, wajah Reno sudah tidak terlihat tampan seperti biasanya lagi.


"Kak Reno?" pekik Dion, dengan terkejut melihat Intan di belakangnya.


"Eh, gadis nakal! siapa suruh kamu berhenti, balik kamu ke gudang, bersihkan seluruh ruangan itu, hari ini juga!" suruhnya dengan tidak merasa bersalah.


"Eh! Hentikan Dion! jangan buat kakak kesal dengan sikapmu akhir-akhir ini ya! Beberapa hari lalu kamu pernah melakukan hukuman yang membuat dia pingsan di tempat, karena kamu, gadis itu jadi punya trauma akut! memang apa yang Intan perbuat padamu? Hah?" Reno menelisik, mengangkat sebelah alisnya ke atas.


"Intan? kakak tahu namanya? Memang Kakak kenal dengan gadis itu?" Dion semakin resah, jika mereka memiliki hubungan.


"Dia muridku! kakak peringatkan! jangan sampai membuat kejadian serupa, atau aku sendiri yang akan menghukum-mu Dion!"


"Dia sudah mengganggu kehidupanku Kak, sudah dua kali dia membuatku kesal," Belanya sendiri.

__ADS_1


"Duduk sini Intan!" perintah Reno.


Intan duduk saja dengan manis, Dion merasa aneh terhadapnya, 'Dih, gadis menyebalkan itu, membuatku mual!'


'Huft, untung Pak Reno menyelamatkanku, I love you my teacher,' atau tidak, aku akan pingsan sebelum selesai mengerjakan pekerjaan itu,' Intan bergumam sendiri.


"Apa keistimewaan murid Kakak itu? aku sangat membencinya, Kak."


"Dia adalah murid di sekolahan Kakak mengajar, sudah sepantasnya guru melindunginya," jawab Reno.


"Kamu lelah Intan, pasti kamu lapar kan. Aku lihat Dion tidak memberimu apapun, maafkan Dion ya, meski dia sudah dewasa, tapi kelakuannya masih seperti anak kecil, sama juga sepertimu," jelasnya.


"Kakak Reno bicara apa! sudah sepantasnya dia mendapatkan hukuman, biar dia jera, dan tidak melakukan kesalahan lagi!" bela lagi Dion pada dirinya sendiri.


Dion sedikit melirik gadis itu, 'Eh, lama-lama dia manis juga, tapi sayang urakan!'


Intan yang memergoki Dion meliriknya segera angkat bicara, "Eh, diam-diam kamu mencuri pandang aku ya?" tanya Intan menelisik.


"Siapa? Aku? Percaya diri sekali kamu?" tanya Dion membantah.


"Haha, kocak! udah ah aku gak mau berdebat, aku mau keluar, Kak!" ucap Dion.


"Ajak dia makan, kalau tidak, kalau tidak, Kakak akan pindah dari rumahmu ini!" entah, menurut Dion, kali ini Reno sedikit aneh mengenai gadis itu, dia lebih perhatian. Tapi sudahlah. Dion belum siap hidup sendiri tanpa kakaknya.


"Jangan, oke-oke aku akan ajak dia makan di luar, tapi kakak di sini saja tinggal bersamaku," pintanya.


"Aneh sekali, pria seperti Dion ini tidak berani tinggal di rumah sendiri tanpa kakaknya, lalu di mana kedua orang tua mereka?" tanya Intan tanpa suara.


'Aku belum bisa bertanya lebih tentang kehidupan mereka, biar begini saja dulu.'


Setelah keluar dari kediaman Dion, mobil itu belok ke kiri jalan, masuk ke pintu sebuah restoran, tidak terlalu besar, dan sederhana.

__ADS_1


Intan masih diam, Dion berjalan lebih cepat dari gadis itu, hampir tertinggal jauh, rasanya Intan ingin pulang saja sekarang. Harus mengemis makan pada orang macam Dion.


"Pria gila, tunggu donk!" Intan mengejar Dion yang sudah agak jauh darinya.


Dion menarik lengan Intan, "Lama amat sih! Lelet kaya siput!" umpat Dion tidak sabar.


"Lepaskan tangannya!" tiba-tiba suara yang familiar di telinga Intan terdengar intan..


Gadis itu menoleh ke samping dan melihat disana ada Zaky berjalan ke arah mereka


"Zaky, kamu?" Intan terkejut.


Zaky melepas paksa tangan Dion yang masih memegangi tangan Intan dengan erat.


"Siapa kamu, kenapa menyeret tangan Intan seperti binatang begitu?" Zaky merasa tidak terima.


"Aku kekasihnya, kamu siapa?" Dion tiba-tiba melontarkan kata-kata yang mengejutkan Intan.


"What? apa yang kau ucapkan? kita tidak pernah kenal sebelumnya, dan kau membawaku ke sini karna Pak Reno yang menyuruhmu, jadi jangan membuat berita bohong ya!" Intan merasa tidak terima pria itu mengatakan itu.


"Intan? kamu tidak pernah mengatakan hal ini? siapa dia? jangan berbohong padaku, dengan ku melihat dia membawamu kesini, pasti jelas kalian memiliki suatu hubungan." jelas Zaky dengan sedikit menahan amarah.


'Apa yang di ucapkan Zaky? Kenapa ada perasaan aneh di sana, saat Dion bilang aku kekasihnya, mungkinkah dia berbohong. Apa dia cemburu, ah tidak. Kita hanya sebatas sahabat, perasaan itu tidak akan mungkin datang,' gumam Intan.


"Dion, kamu bicara saja yang sebenernya, jangan buat temanku marah, Dion lepaskan, aku akan makan bersama Zaky aja. Nanti bilang sama Pak Reno, kamu sudah mengajakku makan siang bareng, jadi kamu tidak perlu merasa khawatir!"


"Gak, siang ini aku tetap ingin makan bersamamu!" kata Dion memaksa.


Zaky yang sudah panas dengan ucapan pria itu pergi saja dari sana, dan memilih meja lain untuk duduk, terlihat seorang gadis menghampirinya lalu ikut bergabung bersama Zaky di meja yang sama.


Intan yang sudah mempunyai kursi dari meja pojok, masih menatap Zaky dari jauh.

__ADS_1


'Kenapa hatiku sedikit sakit ya? apa ini yang namanya cinta?' Intan tidak bisa menilai perasaanya sendiri.


"Woy! bengong aja dari tadi! kenapa?emang siapa dia? katanya dia cuma teman?"


__ADS_2