
Intan diam setelahnya, dia harus mendengarkan baik-baik nasehat bapak dan emaknya. Dia ingin menjadi gadis yang baik sesuai kata-kata Zaky dulu.
Dia ingat saat Zaky memberi nasehat, agar tidak membantah perintah ibunya. Namun dia hanya merespon dengan mendengarkan telinga kanan lalu keluar telinga kiri.
"Kenapa kamu bengong Intan? kamu tidak apa-apa kan?" tanya Minah melihat Intan seperti itu, sepertinya dia sedang konslet.
"Ah, gak ada apa-apa Mak," dia bangun dan menerima suapan dari tangan mak'nya .
"Kalau disuapin setiap hari kayak gini pasti Intan makin semangat makan, karena suapan tangan emak membuat masakan makin lezat," dengan mengacungkan dua jempol.
Puk!
Kepala Intan diketok pakai sendok oleh Minah, "Enak saja bilang seperti itu, emangnya kamu bayi, tubuh udah bongsor, kan sebentar lagi menikah, masih minta suapin Emaknya," celoteh Minah.
"Sudah Mak, berasa pahit lidah Intan mendadak," gadis itu mendorong mundur sendok yang maju ke arah mulutnya.
"Sekali lagi Intan!"
"Sudah Mak, sini obatnya, setelah minum aku mau istirahat."
****
Keesokan harinya Intan izin ke sekolah untuk tidak mengikuti pelajaran. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan masih tertutup selimut.
Demamnya sudah mulai mereda, dia hanya butuh istirahat untuk memulihkan tubuhnya.
Sementara di sekolahan, Zaky merasa rindu pada gadis yang setiap hari mengisi hari-harinya...
"Hehe, ternyata anak itu bisa sakit juga. Aku kira penyakit akan takut jika melihat wajah Intan, sepulang sekolah ini aku mau menjenguknya."
Jam pulang sekolah berbunyi Zaky bergegas mengambil motornya dengan tujuan ke rumah Intan.
Saat mendekati gerbang, dia melihat Dion berdiri bersandar di depan pintu mobilnya.
"Kenapa anak itu bisa di sini? Apa dia sedang menunggu Pak Reno? Ah aku rasa tidak mungkin, bukannya pak Reno tadi sudah membawa mobil sendiri? Persetan dengan pria itu, Aku yakin dia saat ini sedang menunggu Intan pulang."
Zaky melanjutkan lajunya meninggalkan Dion, pria itu ternyata melihat ke arah Zaki dan dia menghadangnya.
"Tunggu sebentar Zak!" Pria berpawakan tinggi tampan itu menghentikan motor Zaky.
__ADS_1
"Ya! Ada apa minggir kamu!"
"Bicara biasa aja dong! Aku Hanya mau menanyakan Intan. Apa dia sudah pulang?"
"Gak tahu!" jawab Zaky, sedikit kesal sebenarnya pria itu ingin mengajarnya saja. Namun karena ini masih di lingkungan sekolah, dia harus menahan emosinya.
"Bukannya kamu satu kelas sama Intan? Sudahlah lupakan Intan, kali ini dia adalah gadisku, dan kamu jangan coba dekati dia!" Nada suara Dion, sudah lebih tinggi dari semula. Laganya sebentar lagi akan ada aksi perkelahian antar keduanya.
"Eh, siapa kamu! teman bukan, pacar bukan? Beraninya ngatur-ngatur tentang kehidupan Intan, biar dia pilih sendiri hidupnya!" sulut Zaky, sudah kehabisan kesabaran.
"Aku menyukainya Zaky, baru kali ini aku menyukai cewek karena sikapnya yang unik, dia berbeda dari cewek lainnya, itulah yang membuat aku tidak bisa melepasnya," kata Dion jujur.
"Dasar parasit! sini aku hajar kamu!" Zaky menarik kerah baju Dion lalu menghantamnya keras. Tampak bekas memar di wajahnya.
"Sialan!" dengan cepat Dion juga melakukan hal yang sama, keduanya saling baku hantam, membuat yang melihat mendekati mereka dan memberikan semangat.
"Zaky! Zaky!" mereka berseru keras mendukung Zaky.
Baku hantam keduanya berlangsung lama, saat satpam tidak ada di tempat.
Tidak lama kemudian, suara semprit berbunyi dengan lantang, membuat kerumunan itu sedikit bubar.
"Bubar! bubar!" lagi, teriaknya keras.
Sebagian murid segera bubar dari kerumunan itu, meninggalkan ke duanya yang masih berkelahi.
"Hentikan!" satpam maju mendekati mereka dan melerainya. Satpam menggelandang mereka ke kantor BK.
Di lua ruang, baru keluar Reno. Melihat adiknya babak belur begitu, malah membuatnya ingin murka.
"Ada apa ini? apa yang kau perbuat di sekolah ini Dion?" Reno menarik tangan Dion masuk ke ruangan-nya.
"Maaf Kak," ucapnya tanpa penjelasan.
Reno melihat ke arah Zaky dengan kecewa. Dia tidak menyangka bahwa murid yang pandai di sekolahan itu, harus mempunyai kasus perkelahian di lingkungan sekolah.
"Zaky? aku tidak percaya, sebenarnya apa yang terjadi? coba jelaskan pada bapak!" Reno kembali ke kursinya dengan memandang ke duanya yang duduk tertunduk lesu di hadapannya.
"Pak satpam, tinggalkan kami!" perintahnya pada satpam yang masih berdiri di belakang ke duanya.
__ADS_1
"Dion, usia kamu tidak muda lagi, kamu tahu? kamu sudah bekerja, dan apa kamu tidak fokus pada kerjaan kamu di kantor? kenapa malah ada adu hantam begini sama anak SMA! memalukan kamu Dion!" ucap Reno kecewa.
"Dia yang mulai Kak!" jawab Dion membela diri.
"Ah, tidak bisa. Kamu yang bicara tinggi dulu, aku hanya mengimbangi," bela Zaky kesal. Tidak perduli usia dia di ata Zaky atau di bawah Zaky, jika dia harus membela dirinya.
"Maaf Zaky, namamu aku masukan dalam buku konseling kelas. Aku akan beri surat untuk orang tuamu! agar mereka bisa memantau sikapmu sehari-harinya," kata Reno tanpa amarah lagi.
"Ya Pak. Saya minta maaf, saya mengaku kalau saya salah!"
"Sebenarnya apa yang kalian perdebatan sampai ada perkelahian begini?" tanya Reno, dengan mata menyelidik ke arah keduanya.
"Intan Kak."
"Intan Pak."
Mereka menjawab serentak, Reno terkejut, dan di susul oh tawanya.
"Haha, jadi semua ini karena cewek? Intan? anak nakal itu? hampir 1 buku konseling penuh dengan namanya saja." Reno terkikik.
"Hari ini dia tidak masuk karena sakit, bisa sakit jug ternyata dia," jelas Reno.
"Memang apa yang lucu, Pak?" tanya Zaky merasa Reno aneh.
"Dia sakit? kenapa kalian tidak bilang dari tadi?" Dion berdiri dan akan meninggalkan ruang itu. Tapi Reno mencegahnya.
"Tunggu Dion, duduklah!" suruh Reno sang Kakak.
"Sudah tidak ada waktu lagi, aku mau kerumahnya, memastikan keadaannya sekarang, jam 02.00 nanti ada meeteng dadakan, ucap Dion tergesa-gesa.
Reno tidak bisa menahannya lagi, dan membiarkan Dion pergi. Dia tahu Dion beberapa hari ini sibuk oleh kerjaannya, bahkan belum ada libur 2 Minggu ini.
Zaky turut berdiri, dan minta izin pada Reno untuk menjenguk Intan. Sebelum Zaky pergi, Reno memberikan surat peringatan untuk orang tua Zaky. Tidak lama itu, Zaky segera menyusul Dion yang sedikit lebih jauh darinya.
Zaky menaiki motor yang masih terparkir di sebelah gerbang sekolah, menyalakan mesin lalu melaju mengejar mobil Dion.
Di jalan, Zaky berhasil mengejarnya, hingga sempat ada adu balap oleh keduanya.
Zaky kalah selangkah, saat mobil Dion sudah mendahuluinya. Dia terjebak lampu merah.
__ADS_1
"Ah sial! aku kalah dari pria itu!" gerutu Zaky, pada detik terakhir timer lampu merah, dia tancap gas hingga saat ini dia melaju pada kecepatan penuh.