Intan, Gadis Tomboy

Intan, Gadis Tomboy
Bab. 24. Sama-sama Gila


__ADS_3

Intan tersenyum melihat Zaky yang sangat perhatian terhadapnya. Bagaimana tidak, pria itu sampai mau menyisir rambut Intan yang lepek dan berantakan dengan jarinya. Untung saja rambut Intan tidak terlalu panjang, jadi tidak perlu repot bawa sisir.


Zaky tersenyum melihat Intan, lagi, Intan Memukul perutnya, dia yakin pria itu mempunyai pikiran yang macam-macam. Hingga dia menunjukkan senyumnya yang lebar tanpa di sadari.


Bug!


"Aduh! Lagi-lagi kamu memukulku Intan! sakit tahu. Aku jadi kepikiran jika aku yang menjadi suamimu,-" belum menyelesaikan perkataannya Intan menutup mulutnya agar dia bisa diam.


"Diam kau! berisik! Siapa juga yang mau jadi suami kamu Zaky, tampaknya kamu tidak cocok menjadi suamiku kelak, karena apa? Karena kita sama-sama gila, haha," gadis manis itu tertawa keras saat menyebutkan bahwa mereka gila. Dia tidak mau membuat grup gabungan orang-orang gila.


Intan melepaskan tangan yang menutupi mulut Zaky, saat pria itu kehabisan napas, dan menggigit telapak tangannya dengan keras.


"Sialan kau Zak, sakit tahu!"


"Intan!"


"Apa?"


"Rambutmu uda terlihat panjang, bisa gak aku minta tolong!"


"Tolong apa?" Intan merasa aneh dengan ucapan pria itu. Dengan penasaran dia dengarkan baik-baik jawaban selanjutnya.


"Tolong, jangan potong rambut kamu, biarkan rambut itu panjang, kamu terlihat tampak cantik jika rambut itu panjang," jawab Zaky, dengan senyum yang lebar, dan kedua alis yang di angkat.


"Aku gak suka di puji cantik Zak, risih! yok ah, dari tadi kita ngobrol Mulu, kapan kita makan!"


Keduanya berjalan memasuki pintu utama warung bakso yang lumayan luas itu, terdapat banyak pramusaji yang bekerja di sana.


"Kita duduk di pojok belakang ya Zak!"


"Hem ... Sukanya di pojok-pojok nih!" ledek nya dengan menyenggol lengan Intan, namanya cewek tomboy, ya di balas dengan serangan lain, dengan memukul lengannya.

__ADS_1


Intan dan Zaky, segera menempati kursi belakang yang mereka maksudkan, saat setelah mereka memesan, Zaky melihat Dion duduk bersama seorang wanita. Zaky Perhatikan, tidak ada adegan manis-manis di sana, jadi dia yakin kalau wanita di hadapan Dion itu hanya teman atau rekan kerja. Timbul ide agar Intan melupakan pria kaya yang aneh itu. 'Aneh saja, karena dia seorang CEO, tapi suka sama gadis yang masih SMA, merasa aneh saja melihatnya. Padahal banyak wanita di luar sana mengincarnya, apa lagi pekerjaannya bagus.


Zaky menutup wajahnya, membuat Intan bertanya-tanya, "Zak, kau kenapa?" dengan menurunkan kedua telapak tangan yang menutup wajahnya.


"Gak Intan, tak ada apapun," ucapnya biasa saja. Membuat Intan penasaran dan terus mencerca dengan pertanyaan lain.


"Bohong ada apa?" lagi, tanya Intan dengan bingung.


"Aku melihat Dion!"


"Hah? di mana?" sontak dia menoleh kebelakang dan mengedar pandang.


Tepat dua kursi dari meja mereka, Dion bersama seorang wanita memakai gaun pendek merah dengan lengan terbuka. Menunjukkan lengannya yang mulus indah.


"Haissh! dia bohong nih, katanya tidak punya pacar, ini sekarang sudah dekat aja sama wanita lain," dengus Intan dengan tidak sabar. Jadi menurutnya selama ini dia hanya mempermainkan perasaannya saja. Tapi untungnya Intan tidak memiliki perasaan pada pria itu.


"Nah itu dia, awas saja kamu bisa sampai Suak padanya, itu lihat saja kelakuannya di luar, kaya kadal darat," celoteh Zaky, semakin senang dia membuat Intan tidak tertarik lagi pada Dion.


"Hem ... Bau-baunya, ada lampu hijau berkedip nih di depan ku," ledek Zaky melirik Intan dengan pandangan aneh.


"Ini Mas dan mbak baksonya, silahkan di nikmati," seorang pramusaji menghidangkan 2 mangkuk bakso ukuran besar dan 2 es teh manis untuk mereka.


"Terimakasih Mbak ... " Ucap Intan dengan menundukkan kepalanya, sembari memberikan senyumnya yang paling manis, senyum inilah yang terkadang membuat Zaky hilang arah.


"Wah ... Ini buat mood booster banget ... Lama aku gak makan bakso mercon extra pedas ini, hu ..." mulut Intan tanpa hentinya bersuara. Meracau terus membuat Zaky tertawa.


"Udah, jangan banyak bicara, cepat di makan! Keburu basi!" Zaky menyodorkan mangkuk bakso ke depan Intan agar dia menutup mulutnya segera.


"Haha, oke-oke Sayang," jawab Intan menggoda.


"Andaikan sayang itu beneran kamu tunjukkan padaku Beb," Zaky mulai memandang Intan dengan tatapan anehnya.

__ADS_1


"Mulai deh ... Mulai lagi," sindir Intan segera melahap pentol super jumbonya. Dengan memotong satu pentol menjadi beberapa iris.


Dengan menambahkan beberapa saos, kecap dan sambal yang banyak.


"Jangan pedas-pedas nanti perutmu sakit!" larang Zaky, menghentikan Intan yang tidak berhentinya mengambil sambal.


"Stop. Udah jangan banyak-banyak!"


"Intan!" sapa seorang pria dari samping mereka.


Keduanya menoleh dan sudah mengira bahwa yang menyapa mereka adalah Dion.


"Dion!"


"Ya, kamu sudah sehat Intan?" Dion menyeret kursi dan bergabung bersama mereka.


"Syukurlah, aku sudah sehat."


"Ini masih jam sekolah, kalian di laut berkeliaran, apa kalian bolos sekolah? Hah?" tanya Dion menyelidik.


"Hehe, Guru kami yang nyuruh kami pulang kok Dion! jadi kamu jangan tuduh sembarangan." bantah Intan, dengan wajah emosi, datang-datang malah marah gak jelas.


"Kamu tidak perlu ngurusi kami ya Dion! Urus saja wanita yang kamu ajak makan itu! sana pergi!" usir Intan dengan nada tinggi, tidak penting lagi Dion di kehidupannya.


"Nanti aku ceritain siapa dia Intan, dia bukan siapa-siapa aku! kamu jangan berpikir macam-macam ya soal wanita-wanita yang aku ajak makan, terkadang mereka adalah klien kerja saja, tidak lebih," jelas Dion, dia ingin Intan tidak berpikir mereka adalah wanitanya.


"Terserah-lah Dion, mau dia klien, teman, pacar aku lho udah gak perduli, sudah kamu lebih baik pergi, buat mood makan ku rusak aja!" Saat Intan belum melanjutkan ucapan panjang kali lebar nya, wanita yang bersama Dion tadi menghampirinya.


"Sayang, yuk kita pulang saja!" seorang wanita itu melingkarkan tangannya di lengan Dion dengan mesra.


"Apa-apaan sih, lepas gak!" Dion menyingkirkan tangan yang terlihat terawat dan lentik itu, dengan jari-jari yang di beri warna kutek, bukan cat tembok. Warna merah serasi dengan aksesoris yang ia kenakan. Tidak seperti jari Intan yang burik, bahkan terkadang lupa dia potong, kalau ingat ya saat ada periksa kuku di sekolah dan terpaksa dia gigit-gigit itu jari sampai kukunya terpotong.

__ADS_1


"Gak mau, kita ke mari sama-sama jadi pulang sama-sama," wanita itu terlihat sangat menggoda iman, membuat kepala Intan puyeng, jika melihat orang terlalu berat make up-nya. Seperti sekarang yang ia lihat.


__ADS_2